Seni Tradisional Banjar terancam punah.

LAMUT, seni tradisional spesifik masyarakat etnis Banjar, dalam sejarahnya merupakan sebuah kristalisasi budaya masyarakat yang berproses alami dan cukup panjang. Kesenian balamut kini tak banyak dikenal oleh para generasi muda. Keseneian ini malah kalah populer dibanding Madihin dan Mamanda.

Frekuensi pertunjukan balamut di panggung yang amat jarang dan nyaris tak terdengar, membuatnya telah dilupakan masyarakat. Bahkan namanya saja banyak warga etnis Banjar sendiri yang tak tahu, dan merasa aneh dan asing. Dari keprihatinan itulah Pemerintah Pusat melalui Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Propinsi Kalsel menggelar Rehabilitasi Seni Lamut di Taman Budaya di Banjarmasin beberapa waktu lalu.

Direktur kesenian dari Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni Film, Drs.  Surya Yuga, Msi dalam sambutannya mengaku heran seni bertutur itu seolah mati suri “Orang luar saja peduli dengan kesenian tradisional Banjar, kok ‘orang banua’ sendiri tidak memperhatikan seni dan budayanya ?” ungkapnya mempertanyakan.

Sebagai putra daerah yang bertugas di Jakarta, Surya mengaku turut merasa bertanggung jawab atas pelestarian seni budaya Kalsel, budaya Banjar khususnya. Untuk itu dalam tahun 2008, tiga kesenian daerah dari provinsi lain dan kesenian Kalsel termasuk dalam program revitalisasi oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata RI. Ditambahkan Surya, sebenarnya revitalisasi seni budaya daerah adalah tanggung jawab Pemerintah setempat. Ini selaras dengan adanya otonomi daerah. Namun sayangnya selama 9 tahun otonomi daerah tidak terealisasi. Karena itulah Pemerintah Pusat akhirnya turun tangan bekerjasama dengan instansi terkait di daerah.

Sementara itu seorang pemain Lamut pada malam pertunjukkan di Taman Budaya Banjarmasin, terlihat bersemangat memainkan gendangnya di hadapan para tamu undangan yang sebagian besar datang dari beberapa sanggar seni di Banjarmasin. Drs. Surya Yuga, Msi dalam kunjungannya itu menyerahkan sumbangan kepada salah satu sanggar Lamut.

 

Adapun Mamanda, salah satu jenis seni tradisional etnis Banjar lainnya, dulunya sangat dikenal dan digemari masyarakat Kalimantan Selatan. Seni panggung sejenis teater opera yang diiringi musik seperti biola dan gendang, menampilkan kisah tentang raja-raja ini, biasanya dipentaskan pada acara hajatan atau pesta rakyat.

Tak seperti halnya seni Ketoprak Jawa dan Lenong Betawi, seni Mamanda mulai terpinggirkan oleh kesenian modern. Tak dapat dipungkiri hanya sedikit generasi muda yang tahu dan mengenal kesenian ini. Jangan heran nantinya bila kesenian trasional ini nantinya benar-benar punah. Kekhawatiran terhadap akan punahnya kesenian ini sebagaimana dikemukakan Kabag Humas Kabupaten Balangan, Alive Yosefah Love pada sarasehan Media Pertunjukan Rakyat di Hotel Arum Banjarmasin.

Dia mengatakan, keberadaan kesenian bertutur di dseperti Mamanda daerahnya di Kecamatan Paringin Selatan dan Wayang Gong di Kecamatan Juai Kabupaten Balangan sudah sekarat. Kesenian yang dulunya merupakan sarana hiburan sekaligus informasi bagi warga ini   nyaris mati karena kurang mendapat apresiasi. Ditambahkannya, Pemerintah setempat sebenarnya sudah berupaya melestarikan dengan menghadirkan kesenian ini di sejumlah event resmi seperti hari jadi kabupaten. Diakuinya memang terbatas pada event-event tertentu. Kendala utama terhadap pelestarian kesenian berasal dari ketidak tertarikan banyak masyarakat.

Abdul Syukur, salah seorang pelaku teater dan sastra di Banjarmasin  mengatakan, dulu saat masih ada Departemen Penerangan, kesenian bertutur lebih terangkat karena sering diminta tampil menyampaikan program Pemerintah, terutama kalangan warga di daerah pedalaman. Sekarang ini uangkapnya makin jarang sehingga banyak masyarakat jadi kurang mengenal. “Kita berencana memasyarakatkan pesan-pesan pembangunan lewat kesenian. Kita pun mengusulkan agar kesenian daerah dapat direkam supaya dapat dinikmati secara intens oleh masyarakat,” tambahnya.

Direktur Komunikasi dan Informasi Lembaga Media Tradisional, Khairil Anwar mengungkapkan, sekitar 1.800-an kesenian bertutur di Indonesia yang terancam punah. Ia mencontohkan kesenian tradisional seperti Natori di Kupang Nusa Tenggara Timur yang telah hilang. Menurut Khairil, selain Departemen Pariwisata, pihaknya juga bertanggung jawab menghidupkan kembali kesenian bertutur yang bermanfaat dalam penyebaran informasi pembangunan secara positif. Tugas itu imbuhnya termasuk melindungi aset Negara dari kepunahan atau klaim negara lain seperti terjadi pada kesenian Reog Ponorogo yang sempat diakui milik Malaysia.

Kendati begitu katanya, perlu adanya modifikasi agar kesenian tersebut dapat diterima semua kalangan. Misalnya bahasa yang digunakan tidak melulu bahasa daerah setempat tapi dengan bahasa nasional yang dimengerti semua lapisan masyarakat. (all sources)

2 comments on “Seni Tradisional Banjar terancam punah.

  1. saya minta tolong berikan teks balamut agar saya bisa mempelajarinya dan bisa memperkenalkan kepada masyarakat luas khususnya di Kalimantran Selatan

  2. Ass….Wr….Wb…

    Saya berharap kepada pemerintah khususnya agar memperhatikan kesenian kita ini.Karena saya melihat banyak masyarakat kita sekarang tidak tahu dengan budayanya sendiri terutama para pemudanya.Sulusinya saya berharap sekali lagi kepada pemerintah agar memperbanyak pekan pekan seni seperti festival kesenian.Ujar urang :” Ngalih kaina anak cucu kita,kada tahu adat lawan kasanian urang Banjar bahari.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s