Mengganti Kalender Masehi di Indonesia, Mungkinkah ?

Meski banyak imbauan kepada umat Islam agar tidak merayakan pergantian tahun baru dari 2013 ke 2014 menurut perhitungan kalender Gregorian (Masehi), namun tampaknya imbauan di kalangan umat Islam tersebut dianggap sepi.

Nyatanya peringatan menyambut tahun baru tersebut tetap ramai dimana-mana di tiap jengkal bagian dan sudut negeri yang mayoritas dihuni oleh umat Islam ini. Sudah dapat dipastikan yang lebih banyak merayakan moment pergantian tahun ini dilakukan oleh umat Islam, karena umat beragama lain khususnya umat Nasrani (Katholik dan Protestan) merupakan minoritas.

Berbagai dalih dan alasan serta dalil-dalil dikemukakan oleh kalangan umat Islam yang kontra terhadap acara pergantian tahun yang nota bene sangat terkait dengan umat Nasrani ini. Masalah yang sudah klasik, terus menerus dicuatkan ke permukaan setiap jelang akhir tahun Masehi.

Sebenarnya menurut saya yang awam ini, mereka yang kontra terhadap acara peringatan monent pergantian tahun Masehi dikarenakan lebih kepada adanya tahun qamariyah (Hijriyah) yang dipakai oleh umat Islam namun kalah pamor dengan kalender Masehi. Maksud mereka adalah, semestinya pergantian tahun Hijriyah lebih berhak dirayakan besar-besaran menurut kepantasan daripada mesti merayakan tahun baru milik umat beragama yang lain.

Tak berapa lama lagi dipastikan akan ramai lagi pro kontra seputar perayaan tahun baru Imlek di kalangan umat Islam di negeri ini. Yang mungkin agak dekat adalah perayaan Hari Valentine di medio Pebruari nanti.

Kenapa tahun Hijriyah tak sepopuler tahun Masehi ? Jawabnya seluruh umat Islam dan tiap-tiap keluarga yang mengaku pemeluk Islam pasti sudah tahu. Sejak kecil, lalu ke bangku sekolah hingga dewasa, yang diajarkan adalah kalender Masehi berikut nama-nama hari dan bulannya. Saya pribadi berkeyakinan jika anak-anak dari keluarga Muslim ditanya tentang nama-nama hari dan bulan dalam kalender Hijriyah, dipastikan banyak yang bingung menjawabnya jika tak ingin dikatakan tidak tahu, terkecuali mereka yang sekolahnya memang di madrasah ataupun pesantren.

Salahnya dimana sehingga tahun Hijriyah tidak populer ? Ada pada penggunaan kalender Masehi secara umum dan nasional. Hari-hari kerja dan hari besar agama dan peringatan, serta hari libur nasional, semuanya dalam hitungan yang ditandai dengan tahun Masehi. Ini akan berbeda jika di beberapa daerah tertentu yang mayoritas berpenduduk Muslim menggunakan kalender Hijriyah untuk keperluan seluruh penduduknya termasuk penggunaan kalender Hijriyah untuk hari kerja resmi baik oleh pemerintah maupun swasta. Tapi apa mungkin ? Pasti tidak akan mungkin, banyak yang protes dan kontra. Indonesia bukan negara yang berlandaskan pada agama tertentu. Indonesia yang berlandaskan pada Ketuhanan Yang Maha Esa; lebih kepada negara sekuler, meski dalam beberapa hal negara masih turut campur dalam hal keagamaan.

Penggunaan kalender Masehi sudah berlaku umum di seluruh dunia tak memandang agama apa yang menjadi anutan mayoritas rakyatnya. Jadi apapun agama yang dianut oleh mereka yang merayakan moment pergantian tahun Masehi; menjadi tidak masalah terkecuali mereka yang terus menerus mempermasalahkannya. Akhirnya semua kembali kepada maksud, tujuan yang diawali niat masing-masing dalam merayakan apapun. Kalau tiap perayaan apapun yang dilakukan oleh siapapun tak berdampak kerugian bagi orang lain dan umum, kenapa mesti repot mempermasalahkannya ? Saya merayakan moment pergantian tahun dari 2013 ke 2014 dengan tujuan kesenangan pribadi semata, masalah buat loe ?

#RhomaIrama

20140205-121850.jpgRhoma Irama BEGADANG, hingga dua kali,
Rhoma Irama BERKELANA, beberapa kali,
Rhoma Irama LARI PAGI,
Rhoma Irama MENGGAPAI MATAHARI,
Rhoma Irama itu SATRIA BERGITAR,
Rhoma Irama juga pernah jadi petugas Sensus penduduk dengan 135 JUTA penduduk Indonesia,
Rhoma Irama memiliki DARAH MUDA,
Rhoma Irama memiliki banyak SAHABAT,
Rhoma Irama anti minuman keras dan narkotika atau MIRASANTIKA,
Rhoma Irama itu TAKWA,
Rhoma Irama tidak melagukan NYANYIAN SETAN,
Rhoma Irama bisa dipercaya karena selalu berkata INSYA ALLAH,
Rhoma Irama cinta INDONESIA,
Rhoma Irama ingin PEMBAHARUAN,
Rhoma Irama bisa memilih ANTAR TEMAN DAN KASIH; ANI, IDA,

Rhoma Irama Calon Presiden Indonesia.

Banyak yang meremehkan, banyak yang gregetan, tak sedikit yang mencemooh, tak sedikit yang iri.

Rhoma Irama tak terpilih jadi Presiden, dia tidak akan PATAH HATI, dunia pun tak akan KIAMAT, hanya saja dia bilang ter…la….lu……

Rhoma Irama gagal jadi Presiden, dia tetap sebagai Raja; Raja Dangdut yang tak pernah kehilangan rakyatnya. Kerajaan Rhoma Irama adalah di hati para penggemarnya, pecinta dan pemujanya yang abadi.

Rhoma Irama tak perlu membentuk Rhomanisti, Rhoma Lovers, Rhoma Addict, dan sebagainya, karena dia sudah didukung oleh ABRI (Anak Buah Rhoma Irama) dan PBR (Penggemar Berat Rhoma).

Rhoma Irama digadang-gadang untuk Calon Presiden, mulailah dengan BISMILLAH, jika memang takdir INSYA ALLAH terpilih, meski banyak yang berkata MASYA ALLAH.

*yang menggunakan huruf kapital adalah judul lagu-lagu dan film Rhoma Irama.

Avanza Gratis Ditumpangi Wanita Transmigran

20140205-120953.jpg Tak terbayang dalam mimpi sekalipun bila akhirnya aku bisa memiliki sebuah mobil, Toyota Avanza. Memang sebelumnya aku pernah memiliki sebuah mobil yang kubeli dalam kondisi tidak baru lagi. Namun mobil itu sudah lama kujual karena ada permasalahan pribadi terkait uang pembeli mobil itu dengan seorang teman.

Beberapa minggu lalu aku diminta seorang teman pengusaha pertambangan batubara yang sudah seperti saudara sendiri. Pertemanan antara aku dengan pengusaha yang cukup sukses itu sejak kami masih sama-sama menganggur dan sering kesulitan makan sehari-hari. Aku pun sempat ikut membantunya memulai usaha di bidang perkayuan, sebelum akhirnya aku berhenti karena tidak ingin hubungan kami buruk disebabkan campur tangan istrinya terhadap usaha yang baru kami rintis.

Sejak itu jadi jarang berhubungan dengan teman pengusaha itu. Hubungan kami terjalin kembali setelah ia sukses berbisnis di bidang pertambangan yang sedang booming di daerah kami. Entah dari mana dia mendapatkan momor ponselku, sehingga dia kemudian menghubungiku.

“Ini aku. Aku sedang berada di Sungai Danau. Kamu sekarang dimana?” suara seorang pria yang sudah lama tak kudengar suaranya.

“Oh kamu. Aku sedang berada di Batulicin, memangnya kenapa?” sahutku tanpa bermaksud menanyakan dari mana ia dapatkan nomor ponselku.

“Aku ingin kamu ke Sungai Danau menemuiku. Kamu charter saja mobil untuk mengantar kamu, nanti kubayar sewanya. Temui aku di lokasi pelabuhan pemuatan batubara,” ujarnya tanpa memberiku kesempatan bicara.

“Iya, iya, aku kesana,” cuma ini jawabku sebelum hubungan telpon diputus.

Aku pun tanpa memberi tahu istri pergi mencari mobil charteran. Aku sudah terbiasa memberi tahu istri jika sudah tiba di tujuan. Dan istriku pun sudah terbiasa dengan kebiasaanku ini.

Singkatnya aku pun sudah dalam perjalanan dari Batulicin ke Sungai Danau yang akan memakan waktu sekitar dua jam lebih. Akhirnya kami bertemu setelah sekian tahun berpisah. Dia menanyakan banyak hal dari masalah keluarga hingga pekerjaanku.

“Aku sengaja menyuruhku kemari. Selain kita lama tak bertemu, aku juga bermaksud melibatkan kamu dalam usahaku ini, tentunya sesuai dengan profesi yang kamu pegang kini. Kita besok sama-sama ke Batulicin, ada sesuatu yang akan kuselesaikan disana,” ungkap teman pengusaha itu. Aku hanya manggut-manggut.

Besoknya usai sarapan pagi kami siap berangkat ke Batulicin. Ada dua mobil yang akan dipakai ke Batulicin; Toyota Hi Lux Double Cabin, dan Toyota Avanza yang tampaknya masih baru.

“Kita naik Avanza saja, ini kontaknya, kamu yang setir,” ujar teman itu seraya mengangsurkan kunci kontak ke aku.
Aku tak bisa menolak permintaannya untuk nenyetir. Padahal cukup lama aku tak pernah lagi menyetir. Aku terima saja permintaannya. Kami pun memasuki mobil. Benar, Toyota Avanza masih baru, seluruh jok masih dilapisi plastik.

Kami cuma berdua didalam mobil Toyota Avanza yang kusetir. Mula-mula aku agak kikuk menyetir, namun setelah lebih satu jam, aku mulai terasa nyaman. Sementara itu mobil satunya Toyota Hi Lux dibawa oleh dua orang menjadi anak buah dari teman pengusaha itu.

Terlalu panjang kukira pembuka ceritaku ini. Baiklah, ku persingkat saja. Setelah pertemuan kembali dengan teman yang sudah jadi oengusaha sukses itu, aku jadi sering bersamanya; ke Banjarmasin, Surabaya, maupun Jakarta.

Pada suatu kesempatan, seorang kenalanku yang juga pengusaha pertambangan batubara, yang mengetahui hubungan baikku dengan temanku yang sudah sukses itu memberiku saran. “Temanmu itu termasuk pengusaha besar. Dia memiliki lahan tambang yang cukup luas. Ini kesempatan buat kamu,” ujar kenalanku itu.

“Maksud kesempatan buatku itu bagaimana?” tanyaku tak mengerti.

“Maksudku kamu bisa minta ikut menambang sendiri di lahan miliknya, minta semacam Surat Perintah Kerja. Kalau temanmu itu mau memberi, nanti aku yang mengerjakannya. Kamu tak usah ikut berkerja, kamu cukup terima fee dari aku,” ungkap kenalanku itu.

Pikirku boleh juga saran kenalanku itu.

“Aku yakin kalau kamu yang minta akan diberi. Pokoknya begitu dia mau memberikan kamu ijin untuk berkerja di lahannya, kamu ikut aku ke Banjarmasin ke show room mobil. Kamu boleh pilih mobil yang kamu suka, aku yang bayar untuk kamu,” kenalanku itu memberi harapan.

Aku pun berjanji kepada kenalanku untuk menemui teman pengusaha itu dan menyampaikan keinginan untuk ikut menambang di lahannya.

“Cukup aku saja yang usaha menambang, kamu tak usah. Catat keperluanmu untuk setiap bulan, akan kupenuhi. Kita ini sudah seperti saudara,” begini tanggapan teman pengusaha itu menjawab keinginanku untuk ikut menambang.

“Tapi aku juga ingin seperti kamu; ingin punya rumah dan sebagainya dari usaha sendiri. Jangankan punya rumah, punya sepeda motor saja tidak apalagi mobil. Apa kamu tidak malu punya teman atau saudara seperti aku?” ujarku sedikit kesal.

Temanku itu terdiam sesaat, akhirnya ia berkata,”kalau begitu kamu bawa saja Toyota Avanza itu, jarang dipakai juga, cuma untuk jemput tamu sesekali ke bandara. Ambil kunci kontak berikut surat-suratnya sama istriku.”

Aku pun membawa Avanza dari Banjarmasin ke Batulicin. Istriku terkejut begitu aku datang ke rumah dengan mengendarai Avanza yang masih tampak baru. Kepada istri kuceritakan perihal Avanza yang kini parkir di halaman rumah kontrakan kami.

Toyota Avanza pemberian dari teman itu sempat menemaniku lebih dari dua tahun sebelum akhirnya kujual untuk modal berusaha yang tak pernah sukses.

Beberapa kenangan yang masih kuingat dengan Avanza itu antara lain; pernah suatu kali aku membawa seorang wanita tua transmigran yang rupanya sepulang berjualan sayur, tapi tak ada taksi yang bersedia memberinya tumpangan. Wanita itu berdiri di tepi jalan dengan beberapa jenis sayuran yang tidak habis ia jual. Aku memberinya tumpangan gratis. Maka Avanza-ku pun penuh dengan barang-barang milik wanita itu.

Pernah juga seorang temanku datang meminjamnya untuk keperluan membawa temannya untuk keperluan pemberkatan pernikahan di gereja. Pokoknya setiap kali aku melakukan perjalanan jauh dengan Avanza itu, tak jarang aku memberikan tumpangan secara gratis kepada yang memerlukan. Aku pikir, membawa atau tidak membawa orang pun tetap saja menghabiskan bensin dalam perjalanan.

Kemana Raibnya Ponsel Jadul Itu?

Tempat wajib yang menjadi tujuanku bila ke Jakarta adalah; ITC Roxy Mas di Jakarta Pusat. Disini saya bisa menghabiskan waktu setengah, berkeliling melihat-lihat bermacam ponsel dari berbagai merk. Selain itu saya juga melihat-lihat nomor cantik SIM Card yang dikeluarkan oleh beberapa opera telpon seluler di Indonesia. Bila ada yang cocok, tak jarang saya membeli baik ponsel maupun SIM Card.

Kebiasaan saya ke ITC Roxy Mas ini berawal beberapa tahun lalu berburu ponsel jadul dari berbagai merk. Disana dulunya banyak dipajang dan diperjual belikan ponsel jadul yang masih layak pakai dengan harga yang cukup terjangkau.

Saya sempat mengoleksi belasan ponsel jadul yang saya dapatkan dari sana. Belasan ponsel jadul itu pun saya pajang di lemari transparan di ruang tamu. Maksud hati mau pamer kepada para tamu. Namun apa daya, tamu yang datang berkunjung ke rumsh saya adalah teman-teman dekat, yang tertarik kepada ponsel jadul tersebut. Akhirnya tanpa berdaya saya terpaksa melepas ponsel jadul koleksi saya itu satu per satu untuk teman-teman.

Tadinya saya pikir bisa mendapatkan kembali ponsel jadul sebagai gantinya, sehingga saya mau melepas ponsel jadul koleksi saya. Saya pikir masih banyak dijual di ITC Roxy Mas maupun di tempat lainnya. Tapi apa lacur, karena kemudian saya cukup lama tak ke Jakarta, begitu ada kesempatan kesana, ponsel-ponsel jadul yang dulu berjubel memenuhi etalase toko-toko disana, sudah raib entah kemana.
Saya tanyakan kemana ke beberapa pelayan toko disana, jawaban mereka sama tidak tahu.

Karena keinginan saya untuk masih ingin mengoleksi ponsel jadul, saya sempat minta seorang teman yang mengetahui seluk beluk Jakarta. Bersama teman itu saya mengunjungi tempat-tempat penjualan ponsel, namun hasilnya sama, nihil, ponsel-ponsel jadul itu seperti hilang ditelan teluk Jakarta.

Kota lain yang sempat menjadi tempat perburuan ponsel jadul adalah Surabaya, hasilnya sama, nihil. Beberapa toko online sempat saya buka yang menawarkan ponsel-ponsel jadul, namun saya pikir terlalu berisiko. Saya bisa saja kehilangan duit dengan membeli dari toko online, atau kalaupun ponsel dikirim, belum tentu sesuai keinginan dikarenakan saya cuma melihat dari foto-foto; tak melihat dan meneliti langsung.
Kini sudah tak ada lagi keinginan saya untuk mendapatkan dan mengoleksi ponsel jadul. Saya pikir ponsel yang saya gunakan sekarang pun beberapa tahun ke depan akan menjadi barang jadul, yang penting saya tidak menjualnya meski membeli ponsel yang baru.

Bubur Saleh Bukan Bubur Politik

Penampilannya biasa saja. Ia bukan siapa-siapa. Ia hanyalah seperti kebanyakan orang Indonesia yang kebanyakan masih belum sejahtera dan minim pendidikan. Ia adalah salah seorang warga Jakarta, kaum urban yang datang dari daerah untuk mencari peruntungan dan mengadu nasib di belantara Jakarta yang anekdot tak sedikit orang “Jakarta lebih kejam daripada ibu tiri”.

Malam itu ia tampil di tipi, diundang oleh acara yang dipandu oleh Tukul Arwana, apalagi jika bukan tayangan acara Bukan 4 Mata di stasiun Trans7.
Namanya Saleh, begitu ia menjawab pertanyaan Tukul Arwana. Selanjutnya Saleh ini mengungkapkan identitas dirinya sebagai seorang penjual alias tukang bubur, pekerjaan yang sudah ia jalani sejak 1990-an.

Sebagai Tukang Bubur, Saleh tentu belum bisa dibandingkan dengan H. Sulam yang berperan sebagai penjual bubur di sebuah sinetron Tukang Bubur Naik Haji. Tapi boleh jadi nantinya nasib Saleh siapa tahu bisa seperti H. Sulam, kita doakan saja.

Ada yang luar biasa dari seorang Saleh yang belum tentu bisa ditiru oleh para Tukang Bubur lainnya bahkan oleh kebanyakan dari kita. Di tengah bencana banjir yang melanda Jakarta, Saleh tanpa pamrih membagi-bagikan buburnya secara cuma-cuma kepada warga yang sedang ditimpa bencana. Bubur tersebut semestinya ia jual untuk memenuhi berbagai keperluan keluarganya. Tapi yang dilakukan Saleh justru membagikannya secara gratis kepada para pembelinya yang sedang tertimpa musibah. Lumayan banyak bubur yang dapat ia bagikan kepada warga; 100 mangkuk, yang bila dihargai dengan uang berjumlah sebesar Rp 800 ribu, nilai yang cukup besar bagi orang seperti Saleh.

Bubur Saleh yang ia bagikan bukanlah barasal dari Caleg atau Parpol tertentu yang sedang berusaha meraih dan menarik simpati warga. Bubur Saleh juga bukan bubur beraroma politik menjelang Pemilu, tapi bubur yang beraroma rasa empati kepada sesama warga anak bangsa yang sedang ditimpa kesusahan karena musibah. Mangkuk yang dipakai untuk tempat bubur pun tak bergambar Caleg ataupun stempel Parpol tertentu. Semangkuk bubur Saleh memang tidak banyak, tapi sangat berarti karena hadir di saat-saat dibutuhkan.

Ajang Pencarian [Calon] Politikus

Maju jadi Caleg jangan cuma bermodalkan popularitas.

Begitulah kalimat yang banyak diucapkan banyak orang akhir-akhir ini terutama ditujukan terhadap kalangan selebriti yang maju sebagai Caleg. Pasca penampilan artis Angel Lelga di tayangan acara Mata Najwa di Metro TV beberapa waktu lalu, kalimat tersebut terus bergulir dan mengemuka.

Angel Lelga yang tampil cantik di acara Najwa Sihab namun tak berdaya menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar majunya ia sebagai Caleg; tampak dungu dalam menjawab pertanyaan yang dilontarkan kepadanya. Setelahnya Angel Lelga dicemooh, dihujat dan diremehkan banyak orang seolah Angel Lelga mewakili gambaran seluruh sosok selebriti di negeri ini.

Meski Angel Lelga sempat menjadi topik hangat di berbagai pemberitaan dan sosial media, ia menanggapi dengan santai berbagai gempuran yang tak mengenakkan. Angel Lelga, pasca penampilannya di Mata Najwa tak membuatnya lantas mundur dan patah arang, sepertinya semua ia anggap anjing menggonggong.

Memang problematis, di dunia ini dipastikan tak ada yang sempurna. Dalam kehidupan tiap individu saling melengkapi berbagai kekurangan satu sama lain. Tak diragukan banyak orang pandai dan pintar, tapi mereka tidak populer. Sebaliknya tak sedikit yang populer namun belum tentu pandai dan pintar di mata banyak orang. Definisi pandai dan pintar ini saja kita agak sulit menjabarkannya; tergantung pada pendapat masing-masing. Orang yang lihai dalam berbohong pun bisa dikategorikan orang pandai dan pintar; pandai dan pintar berbohong tentunya. Begitupun orang yang pandai dan pintar berjanji sedikit menepati, pandai bicara minim berbuat, pandai korupsi menolak dibilang salah, dan sebagainya.

Kita semua tahu selama ini yang sering dilakukan adalah ajang pencarian bakat; penyanyi, pelawak dan komedian, juru masak, pesulap, dan kontes ratu kecantikan. Belum pernah ada ajang pencarian orang pandai dan pintar. Inilah yang belum terpikirkan mungkin oleh kita, sehingga yang muncul ke permukaan dan kebanyakan populer adalah mereka yang berasal dari jebolan pencarian bakat dan kontes tersebut.

Ajang Pencarian [calon] Politikus.

Pengkaderan oleh partai politik untuk menjadikan seseorang sebagai politikus handal tentu tak dapat dilakukan dengan serta merta dalam waktu singkat. Untuk menjadi seorang politikus pun tak mesti memiliki latar belakang pendidikan yang memang terkait dengan ilmu politik, sehingga tidak semua orang sama pemahamannya tentang politik. Nah, tak ada salahnya tiap partai politik di negeri ini menggelar semacam ajang pencarian politikus yang dikemas seperti ajang pencarian bakat dan kontes penghasil selebriti. Dulu pernah ada media massa yang menggelar ajang pencarian da’i, ajang seperti ini bisa dijadikan semacam acuan.

Dengan adanya ajang pencarian tersebut minimal sudah ada bayangan terhadap bakat dan kemampuan tiap peserta yang ikut di ajang tersebut. Dan ini tentu akan lebih memudahkan mendidik dan menempa seseorang yang sudah diketahui tak cuma kulit luarnya saja tapi sedikit terkuak bagian dalamnya.

Dengan adanya ajang semacam itu bagi calon politikus, nantinya tak hanya menghasilkan para politikus yang pandai dan pintar sesuai keinginan banyak orang, tapi juga sekaligus populer bak selebriti. Tak seperti selama ini partai politik berlaku genit mencomoti yang sudah populer namun dianggap minim dalam hal kepandaian dan kepintaran.

Palatih Harat Musti Pamainnya Harat Jua

Nyaman jua pa’ampihannya bahinak barata’an nang manuntun Timnas Indunisia main bal wan Malaysia. Salawas dua kali ampat puluh lima manit ditambah pulang dua kali limawalas manit, asa’an ngalih banar bahinak, kutup-kutupan hati ma’aritan Indunisia kalah pulang wan Malaysia. Untungnya Indunisia manang batimbak. Dasar ka’untungan kah, kabulujuran kah ngarannya, nang nyata kipar Kurnia Meiga rahatan takana haratnya kawa manahan timbakan pamain Malaysia, hibat jar urang.

Padahal di babak partama Indunisia sudah manang sabiji, timbakan Satya Gatra masuk ka gawang Malaysia di manit 30. Pamain Indunisia tarus haja manyarang ka dairah partahanan musuh, amun sabiji-biji kadada manambah gul. Alahan musuh kawa mambalas mamasukan gul ka gawang Indunisia, sama am jadinya sabiji-sabiji.

Kamanangan Indunisia naya paling kada manggugur akan parkiraan banyak urang bahawa kada harapan Indunisia kawa ka pinal. Wan jua sakadanya kada mambari dupan tarus haur kalah wan Malaysia.

Amun malihat panampilan pamain Malaysia, jujur haja, bubuhannya tu bagus main bal, takana balum ba’untung haja jadi kalah matan Indunisia. Kada pang amun mahapak pamainan bubuhan saurang. Asanya lamun kakaya nintu haja pamainan Indunisia, bisa-bisa kada manang kaina di pinal.

Nah, lamun Timnas Indunisia di samuaan tingkatan umur kadada nang haratnya main bal, siapa sabujurnya kita salah akan, siapa nang patut dihapak ? Pamainnya kah, atawa palatihnya kah, atawa handak mancari kambing hirang?
Pamain nintu harat sabab dilatih ulih palatih nang harat jua, kada cuma bisa bapandir amun jua harat manyipak wan tihnik main bal. Amun pamain handak harat musti kaluar duit banyak jua, kaluar akan wan kadut-kadutnya, bayar palatih nang bujur-bujur harat umpanyanya; Pep Guardiola, Jose Morinho, Frank De Boer, Arsene Wenger, jangan palatih nang kada takanal. Kita tu banyak duit tagal pura-pura hanya sakit. Buktinya haja si Erick Thohir kawa ma’ambil alih kalup main bal di Serie A Italia. Ba’arti ada haja urang Indunisia nang sugih, kada kalah jua wan urang luar nagari. Amun dicari, dikikihi, pasti masih banyak urang sugih di Indunisia nang kaya Erick Thohir, atawa salah-salah alahan labih sugih daripada Erick Thohir. Tagal kabanyakan urang sugih di Indunisia naya kabih hakun mahabis akan duit gasan jadi Caleg, Bupati, Gubarnur, atawa handak jadi Parasidin, supaya amun kaina tapilih kawa mambunguli rakyat.

Amun kadada urang Indunisia nang baduit nang hakun ma’urisi main bal, hakun ma’ungkai kadut duit gasan kamajuan main bal, liat akan haja kaina; Indunisia jangan baharap kawa umpat di piala dunia kaya Japang wan Kuria Salatan, jadi paharatnya di lingkungan ASEAN haja pacangan ngalih. Hadang wan liat !