Cinta sebatas meja.


Malam telah semakin larut. Para pedagang yang sejak dari tadi pagi membuka toko dan menggelar dagangannya, satu persatu telah pula menutup serta merapikan dagangan mereka. Namun tak seberapa jauh, jarak belasan meter dari lokasi pasar induk, para penjual makanan dan minuman masih ramai melayani pembeli.  Deretan warung kopi  yang dijaga para wanita muda, kursinya tampak masih penuh oleh pengunjung. Terlihat pula beberapa gerombol anak muda yang sedang main gitar mendendangkan lagu-lagi cinta. Sambil menyanyi mereka bergiliran menerima minuman beraroma alkohol dalam gelas secara bergiliran. Sesekali lewat mobil trailer yang mengangkut alat berat ke arah lokasi pertambangan. Di tepi jalan umum propinsi, di depan kumpulan warung makan dan warung kopi itu, para Penjaga Parkir masih sibuk mengatur kendaraan yang akan mampir dan keluar.

Di sudut yang agak remang tak jauh dari sebuah warung makan yang selalu ramai pengunjung, seorang anak muda sedang duduk di atas beton penguat selokan. Cahaya temaram dari penerangan warung makan gagal menyembunyikan wajahnya yang tampak kusut. Fahrul amat menyesali kejadian siang tadi. Semestinya ia tak ikut teman-temannya bermain judi kiu-kiu. Uang penghasilannya menjaga parkir selama 5 hari, kini hanya sisa untuk membeli sebungkus rokok murahan. Ia merogoh telpon genggamnya, mengecek sisa pulsa, cuma tinggal untuk mengirim pesan singkat beberapa kali.
Fahrul menulis pesan, mengirimnya ke nomor Yani teman akrabnya. Ia meminta agar temannya itu menemuinya. Tak berapa lama balasan pun terdengar dari telpon genggam yang susah payah ia beli dengan menabung selama hampir 4 bulan itu. Yani meminta Fahrul agar menunggunya sekitar seperempat jam.

Sambil menunggu Yani, Fahrul memperhatikan para pengunjung warung makan yang berada tak jauh dari tempatnya duduk. Beberapa pengunjung ada yang datang menggunakan mobil, yang lainnya naik sepeda motor. Fahrul tak begitu serius mengamati para pengunjung itu. Yang sejak tadi terus menggoda pikirannya adalah salah seorang pelayan warung makan itu yang bernama Mira. Gadis berkulit bersih berambut sebahu itu baru setengah bulan menjadi pelayan di warung makan milik Bu Isah. Fahrul mengenal gadis itu sekitar seminggu yang lalu ketika sempat melayani Fahrul makan disana.
Mira gadis yang ramah. Meski wajahnya tergolong biasa, namun sepertinya Fahrul tak bosan memandangnya. Pembawaan Mira yang tidak sombong, murah senyum, dan enak diajak ngobrol, membuat Fahrul menaruh hati terhadap gadis pelayan warung itu. Ketika Fahrul meminta nomor telpon genggam milik Mira, gadis itupun dengan mudah memberikannya. Sehari saja Fahrul tak punya kesempatan memandang wajah Mira, rasanya ada sesuatu yang hilang didalam diri Fahrul.

Kedatangan Yani membuyarkan lamunan sesaat Fahrul. “Ngapain kamu nongkrong disini sendiri gelap-gelapan ?” tegur Yani. “Lagi apes, nggak ada modal duduk di warung,” sahut Fahrul.
“Yan, kamu ada modal nggak ?” balik Fahrul. “Ada sih, nggak banyak, untuk apa ?” timpal Yani.
“Kalo ada modal mending beli botol Topi Miring buat menghilangkan sumpek,” ajak Fahrul. “Boleh juga idemu,” singkat Yani.

Yani mengeluarkan uangnya, kemudian memanggil salah seorang Tukang Ojek yang pangkalannya hanya belasan meter dari tempat mereka duduk. Yani memesan minuman keras merk Topi Miring dengan mengupah Tukang ojek tersebut. Sambil menunggu kedatangan minuman pesanan mereka, keduanya tampak serius membicarakan sesuatu.
“Yan, gimana menurutmu jika aku mendekati Mira ?” tanya Fahrul minta pendapat.
“Nggak masalah ! Tapi kamu mesti ulet, karena tampaknya para pengunjung beberapa diantaranya ada pula yang punya niat sama seperti kamu,” ungkap Yani.
“Ah, paling-paling lelaki yang sering pakai mobil hitam itu” balas Fahrul.
“Nah, itu dia ! Justru itu saingan beratmu,” timpal Yani.

Selama beberapa hari memperhatikan warung makan Bu Isah, Fahrul selalu melihat mobil hitam parkir di depan. Biasanya mobil itu berada disana sekitar tengah hari, dan malam. Pemilik mobil selalu bersama temannya seorang pria dewasa berkulit sawo matang. Sedangkan pemilik mobil itu tak jauh beda dari temannya. Berperawakan sedang, tidak gemuk, bahkan terlihat agak kurus. Yang menarik dari pria itu adalah hampir setiap orang menyapanya. Dari beberapa orang yang Fahrul kenal mengatakan pria itu seorang pengusaha pertambangan batubara yang lagi naik daun.

Dari tempat duduk Fahrul tampak Yani yang berjalan ke arahnya sambil menenteng bungkusan plastik berwarna hitam. Yani mengambil tempat duduk di sebelah kiri Fahrul yang agak terlindung dari penglihatan orang yang lalu lalang di depan warung.
“Kita minum dimana nih ?” tanya Yani.
“Disini aja. Pesan teh es manis di warung sama beli kacang untuk peluncur,” jawab Fahrul.
Yani meletakkan bungkusan plastik dekat kaki Fahrul. Kemudian ia melangkah menuju warung Bu Isah.

Kedua teman akrab itu pun menikmati Topi Miring yang barusan mereka beli. Sambil bergantian minum keduanya asyik terlibat dalam pembicaraan seputar Mira, gadis pelayan warung Bu Isah.
“Bila nanti aku bisa menaklukkan hati Mira, aku akan bekerja sungguh-sungguh, dan akan berhenti mabuk,” angan Fahrul.
“Yah mudah-mudahan kesampaian, aku sih mendukung aja,” sahut Yani simpati.
Kira-kira setengah jam kemudian keduanya pun telah menghabiskan minuman mereka.
“Kalo kamu masih ada modal, kita ikut nongkrong di warung Bu Isah,” ajak Fahrul berharap ke Yani.
“Tenang aja, aku masih ada kok,” balas Yani yang mengerti keinginan sahabatnya.

Keduanya melangkah menuju warung setelah merapikan botol bekas minuman. Fahrul menuju warung sambil membawa gelas minuman. Ini sengaja ia lakukan agar bisa ketemu dan langsung mengembalikan gelas ke Mira. Reaksi Topi Miring yang telah ia tenggak terasa mulai naik ke syaraf otaknya. Semangatnya dipacu oleh minuman tersebut sehingga percaya diri Fahrul meningkat.
“Sibuk banget nih !” sapa Fahrul sambil mengangsurkan gelas ke Mira.
“Nggak juga !” singkat Mira.
“Kami pesan kopi susu 2 gelas,” kata Fahrul.
“Ya, sebentar,” sahut Mira.
Fahrul pun melangkah menjauhi Mira yang sedang sibuk menyiapkan minuman. Ia mengambil tempat duduk disamping Yani.

Malam semakin larut. Warung Bu Isah mulai ditinggalkan pengunjungnya. Kesibukan Mira dan temannya pun mulai berkurang. Meski warung mulai agak sepi, namun pria bermobil hitam itu tampaknya belum mau beranjak. Ia masih betah duduk dengan temannya sambil sesekali mengajak Mira berbicara.
Fahrul hanya bisa memandang Mira yang sedang berbicara dengan pria tersebut. Padahal dalam hati Fahrul dirinya menginginkan agar semua pengunjung cepat berlalu dari warung. Sehingga ia punya kesempatan untuk dapat berbicara dan mengungkapkan isi hatinya kepada Mira.
Sekian lama ia menunggu hingga dari kejauhan terdengar lantunan ayat suci dari sebuah mesjid, namun pria pengusaha batubara itu tetap masih betah di warung.
Reaksi Topi Miring yang diminum Fahrul telah hilang, kini berganti kantuk. Yani tampak sudah beberapa kali menguap, matanya merah menahan kantuk.
“Yuk kita cabut aja, aku ngantuk banget, besok aja lagi kalo mau nyamperin Mira,” ucap Yani.
“Ya deh, kayaknya malam ini aku nggak punya kesempatan,” balas Fahrul.
Yani pun membayar minuman mereka, dan berlalu pulang.
Malam ini meski perasaan kantuk menyerang Fahrul, tapi matanya tetap sulit terpejam. Pikirannya menerawang kemana-mana memikirkan bagaimana supaya dapat ketemu dan mengungkapkan perasaan hatinya ke Mira.
Hingga terdengar kokok ayam jantan, mata Fahrul baru dapat terpejam.

Fahrul bangun agak kesiangan. Itupun dibangunkan oleh Yani yang datang. Sambil mengucek matanya Fahrul bertanya,” ada apa sih kok kayak penting banget ?”
“Ada kabar nggak enak,” jawab Yani sambil berdiri.
“Kabar apa, jangan bertele-tele,” ujar Fahrul tak sabar.
“Tapi kamu jangan kaget mendengar berita ini,” balas Yani.
“Sudah, langsung aja ngomong,” Fahrul juga tak sabar.
“Aku dapat kabar langsung dari mulut Bu Isah, Mira dilamar oleh pria pengusaha tambang, dan Mira menerima,” ungkap Yani lirih.
Kaget sekaligus kecewa menyatu menyergap perasaan Fahrul saat itu. Ia hanya bisa menerawang ke langit-langit kamar. Gadis yang ia harapkan dapat mengisi relung hatinya, kini hanya meninggalkan harapan yang tak sampai.

Dari desas desus yang Fahrul dengar dari beberapa pekerja warung makan di sekitar tempat Bu Isah, Mira akan dijadikan isteri muda pengusaha tambang itu. Beberapa orang amat menyayangkan keadaan Mira yng mau saja di-poligami. Namun yang lainnya ada pula mendukung keputusan Mira.
“Seandainya aku yang dilamar,biar jadi isteri keberapa aja mau,” ujar Indah tampak agak centil.
“Dasar kamu aja yang nggak bisa lihat cowok berduit,” cibir Maya.
“Daripada terus jaga warung sampai bongkok, emang gue pikirin,” balas Indah tak mau kalah.
“Sudah, sudah ! Mendingan kalian kembali ke warung masing-masing, siapa tahu nanti juga digaet bos berduit,” seru Bu Isah yang kupingnya terganggu oleh ocehan para penjaga warung yang lagi ngerumpi.

Lampu warung mulai menyala kembali. Senja merangkak menuju malam. Kehidupan pun terus bermula dan berputar. Warung Bu Isah kembali ramai dikunjungi. Namun ada yang kurang disana. Mira tak lagi tampak melayani para pengunjung. Mobil hitam itupun ikut lenyap dari halaman parkir. Yang masih ada adalah Fahrul dengan hati yang remuk redam oleh harapannya yang sirna seiring bunga pujaannya dipetik orang lalu.
Yang setia menemani kedukaan hati Fahrul hanya Yani sahabat karibnya, dan Topi miring yang dapat melupakan kekecawaannya meski cuma sekejap.

3 comments on “Cinta sebatas meja.

  1. Cerpen itu setengah nyata. Topi Miring itu merk miras yang banyak dikonsumsi para preman di tempatku,k trims atas kunjungannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s