Aku pelayan isteriku


Bunyi dari pengeras suara mengajak umat Islam agar shalat subuh, terdengar lamat-lamat dari sebuah surau yang terletak di utara desa.
Amran yang sedang kedinginan dibalut sarung, pelan-pelan membuka matanya. Sementara Jenah isterinya, tampak masih sedang tidur lelap terbungkus selimut tebal. Selama beberapa minggu ini udara menjadi amat dingin menjelang dini hari. Hal ini mungkin disebabkan semakin jarangnya pepohonan yang tiap hari terus bertumbangan dibabat untuk kegiatan pertambangan batubara dan pembukaan lahan sawit dan karet.

Perlahan Amran turun dari ranjang kemudian membuka pintu kamar berjalan keluar. Ia membuka kamar anaknya. Tampak Mira yang kini duduk di kelas 5 SD, dan adiknya Hendra yang masih berumur 4 tahun, sedang tidur lelap seperti ibu mereka.
Amran menutup kamar anaknya, melangkah  ke kamar mandi. Ia membasuh muka, kemudian berjalan menuju ke arah dapur, mengambil segelas air putih dan meminumnya hingga tandas. Tenggorokannya terasa segar sehabis minum air. Ia pun pergi mengambil rokok yang berada di meja ruang tamu. Amran menyulut rokok, menghirupnya pelan-pelan. Ini kebiasan Amran setiap ia bangun tidur, segelas air putih dan rokok.

Sebatang rokok telah dihabiskan Amran. Selanjutnya ia mengambil sapu. Amran mulai menyapu dari ruang tamu hingga ke bagian dapur. Usai menyapu ia pun mengepel lantai pelataran depan dan samping rumahnya.
Sejenak ia tercenung mengingat beberapa tahun silam ketika ia masih tinggal di rumah kontrakan bersama keluarga kecilnya. Berkat kegigihannya kini Amran dapat membangun rumah sendiri dengan ukuran yang cukup besar dibanding rumah-rumah tetangga di sekitarnya.
Amran tersentak dari lamunannya, kembali melanjutkan pekerjaan rumah yang menjadi rutinitasnya tiap pagi.
Kali ini ia mengumpulkan semua pakaian kotor miliknya, serta milik isteri dan anak-anaknya. Semua pakaian kotor itu ia rendam di larutan detergen dalam baskom besar. Cucian itu ia biarkan selama hampir setengah jam. Sambil menunggu rendaman cucian, Amran kembali menyulut rokok.

Pekerjaan rumah yang semestinya dikerjakan oleh isterinya ini, telah lama menjadi rutinitas Amran. Awalnya memang berat dilakukan Amran mengingat bukan pekerjaan suami sebagai kepala rumah tangga. Namun karena saking sayang dan takutnya terhadap iterinya, ia kerjakan juga, dan lama-lama menjadi kebiasaan.
Sebetulnya bathin Amran tertekan, sering kali dalam hatinya ia ingin berteriak menghardik isterinya agar berlaku seperti isteri pada umumnya, namun ini tak pernah berani keluar dari mulut Amran, tenggorokannya selalu tercekat, apalagi bila mengingat anak-anaknya. Tak jarang pula mran berpikir ingin lari saja meninggalkan rumah dan keluarganya sejauh mungkin, tapi lagi-lagi ia berpikir betapa ruginya ia yang telah membangun mahligai rumah tangga sekian lama menjadi seperti istana pasir yng diterjang ombak tepi pntai.

Semua pakaian kotor telah dicuci Amran. Pekerjaan lainnya yang akan dilakukan Amran adalah memasak, kemudian menggoreng telur dan mie instant. Makanan untuk sarapan pagi ini pun telah ia siapkan di meja.
Amran berjalan ke arah kamar tidur anaknya. membangunkan Mira dan Hendra agar segera pergi mandi. Hari ini Senin, kedua anaknya akan pergi ke sekolah. Mereka diantar Amran menggunakan sepeda motor. Mira bersekolah di SD yang berada di seberang jembatan desa, sedangkan Hendra masih duduk di TK yang tak jauh dari sekolah kakaknya.
Kedua anaknya pun telah selesai mandi. Mira mencari pakaian dan mengenakannya sendiri. Pakaian Hendra diambilkan ayahnya, dan ayahnya pula yang memasangkannya.

Kini kedua anaknya pun telah berpakaian rapi. Berikutnya Amran membangunkan isterinya yang tampak masih tertidur lelap. Hari telah menunjukkan pukul 06.47 waktu setempat. Jenah yang terlihat masih mengantuk menggerakkan tubuhnya, melepas selimut, dan beranjak dari ranjang sambil berjalan agak sedikit sempoyongan menuju keluar kamar tidur. Amran mengikuti isterinya dari belakang menuju kamar mandi. Sambil menunggu giliran mandi sesudah isterinya, Amran menyulut rokok dan memeriksa buku catatannya untuk kegiatan hari ini. Amran telah menulis beberapa nama Pejabat Pemkab dan Bos perusahaan tambang batubara yang akan ia temui hari ini untuk keperluan konfirmasi. Pekerjaan sebagai Wartawan pada sebuah Koran mingguan yang terbit di Pulau Jawa, telah ia tekuni selama lebih dari 5 tahun. Pekerjaan ini telah memberinya banyak materi; rumah beserta perabotnya, sepeda motor, dan sejumlah simpanan yang ia tabung untuk masa depan keluarganya.

Jenah telah selesai mandi, kini giliran Amran. Kedua anak dan isterinya itu sarapan pagi tanpa menunggu kehadiran Amran di meja makan. Amran telah terbiasa sarapan pagi dari sisa yang dimakan anak dan isterinya.
Jenah isteri Amran merupakan wanita yang tiap perkataan dan keinginannya tak boleh ditentang siapapun tak terkecuali suaminya sendiri. Paras yang cukup cantik dengan kulit bersih, membuat Jenah amat disayangi Amran. Tiap keinginan Jenah yang ia sampaikan kepada suaminya tak akan ditolak, Amran pasti akan berupaya maksimal mewujudkan keinginan isterinya itu. “Jika saja aku duluan mati daripada isteriku, aku akan mati penasaran. Arwahku akan mengganggu tiap orang yang bermaksud akan mengawini isteriku,” ungkap Amran ke salah seorang teman dekatnya. Entah Amran serius dengan perkataannya itu, atau cuma ungkapan rasa sayang dan cinta terhadap isterinya.

Usai sarapan Amran menyiapkan segala peralatan kerjanya terdiri dari kamera digital, perekam suara, flashdisk dan lainnya yang ia masukkan kedalam ransel berikut puluhan lembar Koran edisi terakhir yang akan ia berikan ke tiap orang yang dikonfirmasinya. Amran pun tak akan memberikan korannya jika orang yang dikonfirmasi tersebut tak mengerti dengan menyelipkan amplop terlebih dulu kepadanya. Bagi Amran tiap lembar Koran yang ia berikan harus bertukar dengan uang pengganti, karena Amran tak digaji oleh perusahaan koran tempat ia bekerja. Penghasilan Amran sebagai wartawan ia peroleh dari hasil konfirmasi dan bertukar berita dengan objek pemberitaannya.

Amran pun mengambil HP-nya, namun tak menghidupkannya. HP jenis komunikator itu ia masukkan saja ke tempatnya yang tergantung di pinggang. Amran hanya akan mengaktifkan HP-nya jika telah berada jauh dari rumahnya. Ia akan sangat kuatir bila tiap panggilan masuk maupun SMS akan ditanya isterinya. Makanya Amran pun tak akan memberikan nomor HP-nya ke sembarang orang, apalagi perempuan. “Awas saja bila sampai ada nomor HP perempuan kutemukan di HP-mu itu, tahu sendiri akibatnya,” ancam Jenah dengan muka judes suatu kali kepada suaminya. Amran hanya bisa menarik nafas panjang mendengar ancaman isterinya itu.

Semua sudah beres. Amran menurunkan sepeda motornya yang baru sekitar 4 bulan ia beli. Kedua anaknya telah siap diantar ke sekolah. Sementara itu Jenah sedang menjemur pakaian yang telah dicuci Amran sebelumnya. Setengah berteriak Amran memberi tahu kepergiannya dan anak-anaknya meninggalkan rumah.
Amran pelan-pelan mengendarai sepeda motornya menuju sekolah anaknya. Lalu lintas amat padat tiap pagi karena mereka yang berangkat ke sekolah, ke kantor, dan para ibu rumah tangga yang pergi ke pasar desa.
Perjalanan Amran masih jauh sekitar hampir 50 kilometer untuk mencapai ibukota kabupaten. Di sebelah tikungan sekitar setengah kilometer dari sekolah anaknya, Amran menghidupkan HP-nya. Beberapa SMS masuk dari teman-teman seprofesi Amran. “Langsung saja ke Humas, ambil insentif bulan ini sudah keluar,” bunyi SMS dari Toni, teman Amran yang korannya jarang terbit. Toni lebih pandai cari duit ketimbang mencari dan menulis berita. Gayanya pun lebih mirip anggota DPRD yang banyak bicara daripada bekerja. SMS lainnya berasal dari temannya yang bernama Dian, “Ambil uang liputan di tempat wartawan Berkala Post.”
Beberapa miscall juga masuk, salah satunya dari teman dekat Amran bernama Denny. Amran tidak membalas SMS teman-temannya. Ia justru menelpon balik Denny.
Amran : “Dimana nih ?”
Denny menyahut, “di Humas, langsung saja kesini.”
Amran : “Aku masih di jalan, tunggu aja sekitar 40 menit.”
Denny : “Ya, aku tunggu aja di warung Kang Didi.’
Amran mematikan HP-nya, membetulkan helm, dan melaju kencang.

Terkecuali hari libur, Amran telah terbiasa tiap hari menempuh perjalanan dari rumahnya ke ibukota kabupaten. Satu hal yang wajib ia penuhi adalah, harus membawa uang pulang ke rumah. Isterinya pasti akan mengomel panjang lebar jika sampai Amran pulang tanpa hasil. Dan isterinya pun akan selalu menelponnya menanyakan apakah Amran telah dapat uang atau tidak sebelum pulang ke rumah. Semua penghasilan Amran setiap hari yang berasal dari pekerjaannya sebagai Wartawan, akan diambil isterinya. Amran hanya akan diberi uang untuk pembeli bensin dan rokok saja.
Amran ingat pernah suatu ketika dengan wajah lesu pulang tanpa membawa hasil. “Kenapa sampai tak dapat uang ?” tanya isterinya setengah membentak. “Jangan-jangan kamu berikan ke perempuan disana. Kamu mulai berani coba-coba main gila, ya ?” sembur isterinya, sementara Amran menundukkan wajahnya sambil berpikir mencari jawaban yang tepat untuk isterinya.
“Yang namanya rejeki itu tak setiap hari apalagi setiap saat, bu. Adakalanya Tuhan belum berkenan memberikannya kepada kita,” tangkis Amran dengan suara bergetar sambil menahan antara takut dan geram. “Alasan saja ! Awas kalau nanti terus seperti ini, tak usah pulang ke rumah sekalian,” semprot isterinya sambil berlalu dengan menghentakkan kakinya.

Sepanjang perjalanan pikiran Amran hanya tertuju ke Humas yang harus ia capai segera. Insentif bulan ini sebesar Rp. 500 ribu, ditambah Rp. 100 ribu yang berasal dari uang liputan. Ia pun telah menyiapkan kliping berita kegiatan Pemkab sebanyak 15 kliping yang akan ia tagih sebesar Rp. 750 ribu.
Setibanya di komplek perkantoran Pemkab, Amran menuju ke warung Kang Didi. Disini biasa menjadi tempat kumpul para Wartawan sebelum ke Bagian Humas dan menemui para Pejabat. Apalagi disini tak jarang Kepala Dinas dan Bagian, juga pengusaha mampir untuk sarapan pagi. Keberadaan mereka ini adalah keberuntungan bagi Wartawan yang cukup dikenal mereka. Tak jarang pula mereka bagi-bagi rejeki ke para Wartawan.

Warung Kang Didi seperti pagi sebelumnya terus ramai oleh pengunjung. Tampak beberapa Kepala Dinas sedang sarapan pagi. Amran melangkah masuk menuju tempat Denny duduk sambil menyapa para Kepala Dinas. Amran memesan teh hangat manis, sementara Denny tampak sedang membalas SMS yang masuk ke HP-nya.
“Kamu sudah dari Humas ?” tanya Amran ke Denny.
“Sudah, punyaku sudah aku ambil. Nanti aku temani kamu ke Humas,” balas Denny sambil terus memencet HP-nya.
Seorang Kepala Dinas yang duduk dekat Amran dan Denny menyapa, “Nggak makan ?”
Amran menyahut, “Sudah pak, kami minum aja.”
Kembali Kepala Dinas itu bicara, “Kalo nggak makan, silakan ambil rokok atau apa, nanti saya yang bayar.”
Sambil berkelakar Amran menjawab, “Gampang aja pak, kita minta yang mentahnya saja.”
Pejabat itu hanya tersenyum mendengar jawaban Amran.

Amran beranjak sebentar melangkah ke tempat etalase rokok. Ia mengambil 2 bungkus untuknya dan Denny. Ia pikir mumpung ada yang bersedia membayari.
Setelah beberapa lama, Kepala Dinas yang telah selesai sarapan itu mendekati meja Amran. Ia mengangsurkan 2 lembar uang kertas ratusan ribu rupiah. “Ini mentahnya, bagi berdua,” ucap Kepala Dinas yang diisukan sering main perempuan itu.
Pejabat itu pun menjauh untuk membayar makanan dan minumannya berikut minuman dan rokok Amran dan Denny.
“Yuk duluan,” ujarnya lagi.
“Terima kasih pak,” sahut Amran dan Denny serempak.
Tak berapa lama setelah Pejabat itu pergi Amran dan Denny pun keluar menuju ke Bagian Humas. Sementara itu pengunjung lainnya pun mulai beranjak satu per satu menuju ke tempat kerjanya masing-masing.
(Cerita ini cuma fiktif, hasil rekaan. Jika terdapat kesamaan karakter, tempat lokasi, dan nama pelaku, itu hanya kebetulan)

4 comments on “Aku pelayan isteriku

  1. he2…maap aku g ngerti critanya ini gmn to? mgkn pokok masalah dan klimaksnya perlu diperjelas lagi. tetap smangat buat cerpen ya…^_^

  2. trims atas visite-nya. sebenarnya nggak fiktif2 amat, karena idenya aku comot dari keadaan hidup temanku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s