Waspada terhadap Wartawan gadungan.

Era reformasi telah kita jalani dengan berbagai konsekuensinya. Dampak positif adalah lahirnya kebebasan pers yang hampir tanpa batasan. Menerbitkan media cetak kini tak lagi wajib memiliki Surat Ijin Terbit (SIT). Maka berlombalah orang menerbitkan koran sesuai kebutuhan dan tujuannya masing-masing. Wartawan pun kini bukan lagi merupakan profesi terhormat di mata publik. Wartawan kini adalah mereka yang direkrut oleh penerbitan tanpa melalui seleksi yang ketat. Sedangkan banyak penerbit koran hanya mementingkan sisi ekonomi. Menerbitkan koran untuk membidik permasalahan yang terjadi di sekitar untuk kemudian ditukar dengan sejumlah materi. Sumber yang bermasalah akan merasa tersudut di halaman koran, pada akhirnya negosiasi di belakang meja.

Imi Surya Putera di Tasikmalaya Jawa Barat

Imi Surya Putera di terminal Indihiang Tasikmalaya Jawa Barat

Ada banyak koran yang terbit cuma beberapa edisi karena tak didukung latar belakang dan keinginan yang kuat untuk memperbaiki serta kepemilikan terhadap tanggung jawab moral sebagai Pelaku Jurnalistik. Para Wartawannya yang telah terlanjur direkrut dengan legalitas sebagai Pelaku Jurnalistik berkeliaran kesana kemari menyandang predikat selaku pencari berita. Sementara itu pihak penerbit koran telah lumpuh total tak berdaya melanjutkan misi pemberitaan karena tak mampu dalam segala hal. Maka lahirlah istilah Wartawan Tanpa Surat Kabar (WTS) yang keberadaannya lebih berbahaya daripada seorang Pelacur. Sama-sama melacur ; di satu pihak menjual harga diri, di lain pihak menggadaikan profesi dan reputasi.

Masyarakat pada akhirnya harus betul-betul dibuka matanya agar lebih mengerti tugas dan fungsi Pelaku Jurnalistik. Selama ini masyarakat tak dapat membedakan antara Wartawan sebenarnya dengan yang gadungan. Menjadi seorang Wartawan tak cukup hanya memiliki Kartu Pers (Press card) atau Surat Tugas. Namun yang lebih penting memiliki koran yang selalu terbit memberitakan informasi bagi pembacanya. Dengan kemajuan teknologi, seseorang dapat membuat Kartu Pers cuma dalam hitungan menit dengan biaya yang relatif murah. Terserah apa maunya menamakan korannya secara fiktif.
Makanya masyarakat harus menolak mereka yang mengaku Wartawan tapi tak dapat menunjukkan koran tempatnya bekerja sebagai Wartawan. Bilamana perlu masyarakat melaporkan ke pihak yang berwajib.
(Imi)

Iklan

3 comments on “Waspada terhadap Wartawan gadungan.

  1. bagai mana cara menyikapi permasalahan ini jika masalahnya sudah mendarah daging..saya pernah bekerja sebagai wartawan pada surat kabar yg sudah gulung tikar.tapi saya sudah menanggalkan atribut itu. mungkin bagi sebagian orang seprti saya sangatlah sulit untuk menekan intuisi jurnalis yg sudah mendarah daging.lain saya lain lagi orang lain.saya sudah muak dengan semua dunia yg pernah saya tekuni itu (maaf bukan muak dalam arti sebenarnya). saya muak dengan semua gaya hidup pada dunia itu.mungkin bagi sebagian orang yg enggan meninggalkan atribut itu lebih memilih untuk berkeliaran karena mereka semua tau dan hafal betul didalam semua pengalaman pada saat mereka dilapangan hal2 apapun pasti memiliki nilai jual (memeras oknum yg di tengarai memiliki kasus) agar bisa di rupiahkan..kacaunya lagi pada saat sekarang ini WTS (BODREK)lebih bisa di bilang gila. mengapa saya bisa berkata seperti itu..?pernah suatu hari, seorang teman yg sesama WTS wartawan yg non aktif mengajak saya untuk ikut bergabung dalam paguyuban yg dibentuknya..maaf bukan munafik..tapi saya menolaknya, karena saya tahu paguyuban seperti apa yg diikuti oleh teman saya itu. bagai mana kita (praktisi media& masyarakat) bisa memberantas dan mengatasi masalah ini. sedangakan kita semua sibuk dengan pergulatan kita masig2..pernahkah terpikir oleh kita untuk membentuk badan atau lembaga tertentu untuk mengatasi masalah ini (selain dewan pers tentunya). apakah dengan menghujat atau mencerca semua WTS dapat mengatasi permasalahan ini.. maaf.. saya tidak setuju dengan ungkapan kata “PELACUR”yg anda lontarkan.. karena tidak semua WTS itu bodrek yg berkeliaran. harus kita garis bawahi, dalam hal ini tidak semua WTS itu bodrek.. kita (kami..anda..masyarakat semua) harus melihat permasalahan ini dengan azas berimbang.. jangan pernah membidik suatu permasalahan dengan angle tertentu saja (maaf). seandainya anda seorang wartawan (saya tidak tahu profesi anda saat ini) dan suatu saat surat kabar (media) tempat anda bekerja gulung tikar.. maaf…sudikah anda disebut dengan sebutan seorang “PELACUR”.. salam hormat saya…(dng bgs)

  2. maaf kalau boleh saya tahu belajar ilmu jurnalistik akademik atau otodidak…? boleh dong nanya…

  3. Terima kasih atas visite dan tanggapannya. Saya tidak belajar jurnalistik, saya cuma menirunya dari mereka yang disebut wartawan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s