Tuhan, Kami Semua Umatmu.

Kaget dan terperangah, itulah ekspresi wajah seorang Pastur (Romo) Katholik dari Paroki Tanah Bumbu begitu ditanya seputar dana bantuan dari Tahta Suci (The Holy Throne) Vatikan.

Kaget karena mereka selama ini tak pernah merasa menerima bantuan berupa dana selain support dari institusi mereka yang diatas. “Umat Katholik dimanapun di dunia ini dituntut dapat membiayai dirinya sendiri,” ujar Romo asal Tulungagung itu.
Ia pun menuturkan perihal pembangunan gereja Vincentius A Paulo yang di Batulicin, dibangun dari kumpulan dana umat Katholik dari yang berprofesi petani hingga pengusaha.
Romo itu tambah terkaget-kaget lagi ketika disinggung adanya isu Vatikan menyalurkan dana sebesar Rp. 500 milyar ke salah seorang Cagub Kalsel yang juga merupakan Bupati Tanah Bumbu. Kaget karena nilai yang disebut itu tak main-main jumlahnya. Kaget sebab bila benar dana itu disalurkan, kenapa gereja Katholik yang punya akses dan hubungan langsung dengan induknya justru malah tak kebagian secuil pun. Kaget dikarenakan sebab apa Vatikan yang merupakan institusi keagamaan kelas dunia, juga adalah negara itu hingga begitu antusiasnya mendrop dana amat besar kepada umat diluar dari keyakinan dan gembala mereka (?)

Satu hal yang patut mendapat apresiasi dari saya adalah, mereka, umat Katholik tetap berprasangka baik meski mereka sebenarnya sangat tahu dan mengerti apa yang terjadi.
Umat Muslim, mayoritas di negeri ini, di Kalsel dan di Tanah Bumbu juga mayoritas, kenapa punya praduga jelek, negative thinking. Andai saja itu benar terjadi, seorang Paus, Kepala Negara dan Agama memberikan bantuan dana yang cukup besar untuk tujuan kemaslahatan umat beragama di dunia ini, why not, kenapa tidak ? Tujuan kristenisasi ? Apa kita pikir sesuatu hal yang gampang merubah keyakinan seseorang saja apalagi orang banyak dalam jumlah massal ? Bila itu mungkin dan dapat terjadi, ajari saya ilmunya yang dapat merubah iman dan keyakinan seseorang agar dapat mengikuti iman dan keyakinan saya.

Maha Suci Tuhan ! Biarkanlah negeri ini, propinsi dan kabupaten ini aman dan damai, dimana masyarakatnya merdeka dan bebas untuk mengagungkan nama Tuhan dengan masing-masing cara. Bila kita yakin agama yang kita anut dapat membawa keselamatan di dunia dan di hari kemudian nanti, lebih baik kita berbuat hal-hal yang baik bagi diri dan orang lain, tak perlu mengusik ketenangan yang sudah tercipta. Karena orang yang baik tak bisa dilihat dan diukur dari agamanya. Orang yang baik adalah orang yang tidak saja berguna bagi dirinya sendiri, tapi juga berguna bagi “makhluk” lain.

Saya pun jadi ingat kata-kata yang sebenarnya merupakan pandangan Romo yang sudah menjadi sahabat saya itu. “Sejelek-jelek manusia adalah bilamana menempatkan Tuhan pada persepsi dirinya sendiri, dimana yang namanya Tuhan itu harus sesuai dengan pandangan dia. Maka bilamana konsep ke-Tuhan-an itu bertentangan dengan persepsinya, maka tak diakuinya sebagai Tuhan.” Ini kata-kata sahabat saya itu yang dengan susah payah saya cerna.

Kembali kepada isu aliran dana dari Vatikan, hanya Tuhan dan Tahta Suci yang tahu. “Bila benar dana itu ada, saya mau minta,” ujar Bupati Tanah Bumbu yang sudah amat geram dengan polah para penyebar isu, penyebar fitnah, dan pelaku ghibah itu.
Kemudian ditambah adanya isu akan ada penyerangan dari sekelompok orang yang akan menghancurkan gereja dan mesjid yang pembangunannya diduga didanai oleh Vatikan.
Cukup lama saya berbincang dengan Uskup Banjarmasin, Mgr. Petrus Boddeng Timang di ruang keuskupan, beliau dengan tenang mengungkapkan, biarkan saja jika ada orang yang akan menghancur gereja atau mesjid. Mereka akan berurusan dengan pihak berwajib dan kepolisian. “Uang pembangunan gereja di Batulicin itu adalah uang halal. Kalaupun ada pendanaan dari pihak luar, silakan dilacak. Dana bail out Bank Century saja dapat dilacak, apalagi melacak aliran dana kami,” ujar Uskup.

Menurut pendapat Uskup, jika sampai terjadi penyerangan dan pengrusakan terhadap tempat ibadah, maka bukan lagi Tanah Bumbu atau Kalsel yang disorot dunia, tapi Indonesia. Konsekuensi logisnya adalah pihak keamanan dan pemerintah daerah terutama Pemprop akan dituding tak mampu menjaga situasi kondusif terkait kehidupan umat beragama. Bilamana bicara Pemprop, maka yang dituding adalah Gubernurnya.
Alurnya cukup sederhana, bila yang melakukan penyerangan dan pengrusakan tempat ibadah dilakukan oleh warga Tanah Bumbu, maka artinya Bupati yang tak mampu membina warganya. Tapi bila itu dilakukan oleh warga diluar Tanah Bumbu, maka Gubernur siap-siap dituding, dan siap-siap pula bertanggung jawab.

Akhirnya saya cuma bisa berharap agar umat Muslim yang menjadi mayoritas di negeri ini dapat menjadi pengayom bagi yang minoritas. “Aku bukan penyembah Tuhan yang kamu sembah. Kamu pun bukan menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Bagiku agamaku, dan bagimu agamamu.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s