Tuhan, Cabutlah Nyawa Ibu Kami.

Datuk kami, orangtua perempuan dari nenek kami meninggal dunia dalam usia 124 tahun. Beliau wafat dalam kondisi tidak sakit.

Datuk kami ini meski sudah berusia lanjut, sudah sering lupa sesuatu namun beliau tidak linglung apalagi pikun. Beliau jika buang air baik BAK maupun BAB selalu di tempat yang semestinya. Hanya saja yang sering beliau lakukan adalah shalat berulang-ulang padahal sudah beliau lakukan, misalkan shalat dhuhur beberapa kali. Jika ditanya bukankah tadi sudah shalat dhuhur, beliau ngotot bilang belum. Begitupun dengan shalat lainnya beliau lakukan berkali-kali.

Melihat kondisi datuk yang demikian, nenek kami berpesan kepada kami dan orangtua kami agar setiap usai shalat mendo’akan datuk supaya cepat dipanggil Tuhan. Mulanya kami merasa heran terhadap pesan nenek. “Semoga Tuhan cepat memanggil datuk kalian sebelum kita semua berdosa setiap hari,” ungkap nenek.
Kami tetap juga belum mengerti ucapan nenek itu.
Menurut nenek jika datuk kami dikaruniai umur lebih panjang lagi, maka nanti kondisi datuk akan menyulitkan kami sekeluarga, sehingga tak menutup kemungkinan nanti diantara kami ada yang memperlakukan datuk tak semestinya, dan ini tentu saja menyebabkan kami berdosa. Disini baru kami semua mengerti. Pernah juga kami sarankan agar nenek mengirim datuk ke panti jompo. Saran kami ini membuat nenek marah besar, dan dianggap suatu perbuatan durhaka terhadap orangtua. “Jangan sampai nanti memperlakukan orangtua kalian yang sudah tak berdaya dengan mengirimnya ke panti jompo. Ingatlah betapa mereka dulu rela berkorban membesarkan dan memelihara kalian hingga seperti sekarang ini,” petuah nenek.

Nenek kami tetap ngotot memelihara datuk, tak mengirimnya ke panti jompo. “Berdo’a saja agar datuk kalian cepat dipanggil Tuhan,” begitulah selalu nenek mengingatkan kami.
Dengan telah meninggalnya datuk, tentu saja nenek adalah orang yang paling lega diantara kami karena do’anya dikabulkan Tuhan.

Seingatku semasa hidupnya datuk kami adalah orang yang teratur menjaga waktu, makan dan minum. Datuk akan istirahat dan tidur pada waktu dimana beliau harus tidur setelah bekerja dan shalat. Datuk sangat menjaga makanan dan minumannya. Beliau tak akan mau memakan makanan yang tidak alami, dimasak dengan bumbu yang bukan berasal dari alam, misalnya penyedap rasa. Datuk selalu bilang makanan minuman instant sebagai konsumsi orang kafir, beliau tak akan menyentuhnya. Datuk hanya mau sayuran yang direbus dengan garam tanpa campuran lain, sambal tanpa penyedap rasa, dan ikan bakar atau rebus, tidak ikan yang digoreng.

“Ya Tuhan, terimalah amal ibadah datuk kami, berikanlah ia tempat yang lapang di sisi-Mu, amien…..”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s