Terima Kasih Guru, Guruku, Guru Kita Semua.

Nama beliau Jusen, kami memanggilnya Guru Jusen. Beliau adalah guru pertamaku tatkala aku mulai duduk di bangku sekolah di awal-awal tahun 1970-an di sebuah ibukota kecamatan di pelosok bagian tenggara pulau Kalimantan (Borneo), pulau terbesar ke-3 di dunia setelah Papua dan Greenland (pulau Hijau).

Kala itu umurku baru menginjak 5 tahun, aku belum sampai memegang sebelah telingaku yang dilingkarkan diatas kepala, artinya sebenarnya aku belum cukup umur untuk bersekolah. Di kampung kami tak ada sekolah TK, SD saja cuma satu-satunya ; berlantai tanah, berdinding papan campur kulit kayu (Banjar ; kulipak), beratap daun nipah, dan meja kursi yang ditanam di lantai tanah sekolah.

Guru Jusen, Beliau sosok yang tak banyak bicara bila tidak sedang mengajar, telaten, dan tanggung jawab sebagai Guru (digugu lan ditiru), serta Beliau sangat berwibawa di mata kami selaku murid-murid. Sosok khas etnis Jawa itu, kami setiap kali melihat Beliau dari kejauhan, akan lari terbirit-birit bersembunyi (meskipun diluar jam pelajaran, diluar sekolah). Ada perasaan segan, bukan takut, rasanya tidak sanggup memandang Beliau yang penuh wibawa.

Tiap pagi sebelum masuk jam pelajaran, kami selalu berbaris di halaman sekolah, menghormat kepada sang saka merah putih yang sudah mulai usang dan pudar warna merahnya, warna putihnya pun tampak agak abu-abu. Kami mengikuti pembacaan Pancasila, tak lupa menyanyikan sedikitnya 2 lagu perjuangan ; Indonesia Raya (wajib), dan lagu perjuangan lainnya berselang seling tiap hari.

Tak cukup sampai disitu acara “ritual” mau masuk kelas, periksa rambut dan kuku. Rambut sudah mulai agak gondrong dan kuku yang panjang dan kotor, akan dipotong oleh salah seorang guru kami. Masih belum tuntas ritual lainnya, kami yang semuanya beragama Islam akan membaca salah satu do’a dari seorang Nabi Allah, “rabbisrahli, sadri, wayassirli amr……..” Pelajaran pun baru akan dimulai ; pelajaran menulis, mengeja dan membaca, serta berhitung (kala itu kami belum mengenal istilah matematika).

Senang, lucu campur sedih dan prihatin bila mengingat masa-masa itu. Senang karena aku merupakan yang paling muda diantara teman-teman yang lebih tua dan berbadan besar. Senang karena aku dapat lancar memmbaca, menulis dan berhitung (meski dengan bantuan lidi daun kelapa). Senang, karena sebelum masuk sekolah aku sudah mengenal huruf dan angka yang diajarkan oleh Mendiang Ibu (semoga beliau mendapat tempat yang lapang di sisi Allah). Lucu, kami sebagian besar tanpa sandal dan sepatu pergi ke sekolah (cekeran), kecuali teman yang orang tuanya berada, atau anak-anak para Pejabat Kampung yang pakai sandal atau sepatu. Pakaian sekolah kami waktu itu kebanyakan terdiri dari bahan, antara lain belacu dan kain kaci (biasa untuk pembungkus mayat), celananya terserah asal celana pendek. Sedih, karena setelah aku pindah dari sekolah pertamaku itu, aku tak lagi pernah bertemu Guru Jusen, serta teman-temanku. Aku tak tahu apakah Beliau masih hidup, karena usiaku saja sudah diatas 40 tahun. Aku jadi sedih bila membayangkan masa-masa sulit itu namun semangat kami untuk bersekolah tetap besar.

Guruku, Guru Jusen-ku, engkau laksana embun penyejuk dalam kegelapan……engkau patriot harapan bangsa……tanpa tanda jasa.

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru…..namamu akan selalu hidup dalam sanubariku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s