Seribu Perak yang Tak Membuat Kaya, Tak Menjadikan Miskin.

Di sebuah warung kopi ramai pengunjung sambil minum dan menyantap penganan juga bercengkrama satu sama lain. Disamping itu pelayannya yang lumayan cantik dan seksi, murah senyum dan enak diajak bicara. Yah, biasa….namanya juga jualan, supaya pelanggan betah dan sering mampir.

Di tengah suasana yang asyik di warung itu, seorang pengemis berpakaian lusuh agak pincang mendekat sambil menadahkan tangan ke arah seorang pengunjung warung yang tampak parlente. “Minta sedekah, mas,” pinta pengemis itu. Yang dimintai tampak tak perduli, pura-pura tak tahu kehadiran si pengemis, dia terus asyik berbicara dengan pelayan warung yang sama tak perdulinya dengan lawan bicaranya. Si pengemis itu berpindah ke pengunjung lainnya, yang berpotongan agak nyentrik dengan rambut agak panjang disemir pirang. “Jangan kesini, ga ada sedekah-sedekahan disini, pergi sana !” Hardik si nyentrik, sesuai sikap dengan dandanannya.
Tapi si pengemis tampaknya tak putus asa. Dia tak beranjak dari warung yang cukup ramai itu. Dia berpaling ke pengunjung berikutnya, berbaju singlet tanpa lengan, bercelana pendek, kepala plontos, pakai anting-anting pula. Si plontos tampak berdiri, merogoh saku, mengeluarkan selembar uang seribuan yang agak kumal, mengangsurkan kepada si pengemis yang menerimanya sambil berucap, “terima kasih, semoga rejekinya ditambahkan Allah.” Tapi si plontos tak perduli dengan do’a si pengemis tersebut, dia duduk kembali sembari menyeruput kopinya yang masih sisa setengah gelas.
Seorang pengunjung lainnya yang luput dari si pengemis berkomentar, “pengemis itu paling-paling berpura-pura aja, dia malas kerja, ingin enaknya saja cari uang tanpa kerja.” Si plontos menyahut, “ga usah bikin alasan macam-macam bila tak mau memberi. Lagian memberi atau tidak itu terserah kita. Menyimpan uang seribu perak setiap hari akan butuh waktu lama untuk bisa jadi kaya. Memberi orang lain yang membutuhkan, seribu perak tak akan membuat kita jatuh miskin.”
Pengunjung yang komentar itu pun diam tak berkutik, ucapan si plontos tampaknya betul-betul telah menohok perasaannya, juga perasaan para pengunjung lainnya.

Kisah diatas cuma ilustrasi, kejadian yang hampir tiap hari bisa terjadi dimanapun di belahan bumi ini.
Ada sebuah anekdot yang tampaknya mengena ; kita itu kebanyakan belum lulus belajar matematika, tahunya menambah, mengali dan mengurang, tapi giliran membagi tidak mau. Itulah yang tak jarang kita lakukan terhadap orang lain. Kita sangat sayang mengeluarkan sedikit uang untuk hal-hal yang bermanfaat, namun amat boros tanpa berhitung jika menghambur-hamburkan uang banyak untuk sesuatu yang mudharat. Kita pun tak jarang lupa, atau pura-pura lupa jika dapat rejeki berlimpah, bahwa didalam rejeki yang diberikan Tuhan itu terdapat hak-hak orang lain pula. “Barangsiapa yang bersyukur menerima nikmat-Ku akan Aku tambah, tapi barangsiapa yang ingkar akan nikmat-Ku, maka tunggu azab yang pedih.”

Ini bahan pelajaran dan renungan bagi saya dan kita semua. Sebagai manusia, kita adalah makhluk sosial (zoon politicon) yang tak bisa berinteraksi sendiri tanpa yang lainnya. Sebagai manusia kita saling ketergantungan satu sama lain. Sekecil apapun peran orang lain, sehina apapun dia, sebagai makhluk ciptaan Tuhan, pasti ada gunanya. Batu karang dan cadas yang kokoh dan tegar dapat jelas kita lihat bila itu dianggap penghalang, kita pasti akan menghindar. Tapi sebilah jarum kecil, sebilah onak atau duri dalam perjalanan kita, tak tampak terlihat mata karena kita berjalan tanpa melihat ke bawah, akan menjadi sandungan yang menghambat perjalanan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s