Semua Gampang Asal Ada…

“Ke rumah sebelah aja,” kata Ibnu kepada seorang pengemis yang menadahkan tangan diluar pagar rumah.

Ibnu, seorang kaya baru yang juga baru menempati bangunan yang ia beli di sebuah lingkungan cukup representatif. Ibnu dulunya tinggal di kampung, di pelosok yang lumayan sepi, tak banyak memiliki fasilitas umum. Pertambangan batubara membuat Ibnu yang dulunya hanya seorang pekebun, menjadi kelimpahan rejeki, rumah berikut lahannya beberapa hektar hutan terkena lokasi penambangan. Ibnu tidak menjualnya kepada perusahaan, namun ia minta konpensasi per ton dari tiap batubara yang ditambang.

Lumayan, Ibnu tak perlu susah payah bekerja, tinggal memonitor tambang yang menggarap lahannya, dan uang datang sendiri.
Kehidupan yang cukup enak ini membuat gaya hidup Ibnu dan keluarganya berubah drastis, dari pola hidup bersahaja, menjadi konsumeris dan agak hedonis.

Ibnu yang tak lagi memikirkan mencari uang dengan susah payah, pun dijangkiti penyakit orang “kampung besar” (sengaja tak saya sebut kota) ; pergi ke THM, mengkonsumsi alkohol dan narkoba, serta main perempuan. Apalagi dengan sikap royalnya, Ibnu dengan mudah mendapatkan teman-teman yang sejenis.
Ibnu tak pernah sayang menghamburkan uang di THM dengan para wanita penghibur, yang tak jarang dapat pula ia pakai di tempat tidur.

Begitulah Ibnu, ia amat sayang merogoh koceknya buat seorang pengemis yang menghiba memohon belas kasihan untuk sekedar membeli nasi bungkus. Ia menganggap para pengemis itu tak lebih dari orang-orang yang malas, tak mau bekerja.
Ibnu juga sangat sayang untuk sekedar melempar kepingan uang receh dari dalam mobilnya untuk para peminta sumbangan di jalan guna membangun tempat ibadah. Ia pikir toh dirinya tak mungkin juga masuk ke tempat ibadah itu.

Dengan uangnya Ibnu bisa berbuat apa saja, bukan saja membeli barang kebutuhan, bahkan membeli harga diri dan nyawa manusia.
Beberapa orang preman dapat ia bayar dan gunakan tenaganya jika sewaktu-waktu diperlukan. Ibnu tak akan menggunakan tangannya sendiri. Dengan uang yang ia dapat dengan mudah, cukup membayar dengan menggunakan tangan orang lain. Aparat hukum saja dapat ia bayar untuk keperluannya.

Uang, dapat merubah perilaku Ibnu, dari seorang yang lugu, menjadi sosok yang sombong, angkuh, sok kuasa, dan menganggap rendah orang lain.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s