Sekolah Duduk.

Ketika ayah saya ditugaskan di sebuah kecamatan yang berada di pelosok pulau kalimantan, keluarga kami pun ikut boyongan. Ini pada tahun 70-an, dimana di kota kabupaten kami saja yang namanya listrik cuma nyala setengah malam dari pembangkit milik Pemkab, apalagi di kampung terpencil. Tapi yang namanya tugas sebagai PNS, ayahku wajib patuh.

Di kampung di kecamatan inilah aku mulai memasuki sekolah di umur yang cuma 5 tahun duduk di SD. Mulanya Kepsek menolak menerimaku sebagai murid karena belum cukup umur. Rata-rata temanku yang duduk di bangku SD berumur di atas 7 tahun, bahkan ada yang usia 10 tahun, yah…namanya juga di kampung.

Aku menangis karena tak diterima di SD pada waktu itu. Rupanya Kepsek iba melihat aku bersedih. Akhirnya ia memanggil ayah masuk ke ruangannya, aku menunggu diluar, tak tahu aku apa yang dibicarakan mereka. Yang kutahu Kepsek bilang kepadaku, “kamu besok boleh datang ke sekolah ini, kamu diterima sebagai murid sekolah duduk,” kata Kepsek.
Aku senang, meski belum mengerti kalimat “sekolah duduk” yang diucapkan oleh Kepsek tersebut. Di rumah aku tanyakan kepada ayah, bilang ayah sekolah duduk artinya, aku diperbolehkan ikut belajar namun dibedakan dari murid lainnya. Hasil pelajaranku pun diberi nilai oleh guru, tapi sekedar penghargaan bukan untuk kenaikan kelas.

Jadilah bersekolah seperti murid pada umunya meski menyandang status sekolah duduk. Di sekolah setiap hari cuma belajar 3 macam mata pelajaran ; menulis, membaca, dan berhitung. Seingatku pada mata pelajaran menulis aku yang agak kurang, sedangkan membaca aku lancar, berhitung sering aku dapat ponten 100. Karena sebelum masuk sekolah aku memang sudah dapat membaca dan berhitung yang tiap malam diajarkan oleh ibuku.

Urusan berhitung semua jari tangan dan kakiku kugunakan, karena yang namanya mesin hitung pada masa itu belum ada kecuali jenis sempoa yang digunakan oleh keturunan Tionghoa. Aku tak kurang akal, aku kumpulkan saja bilah lidi dari daun kelapa yang kupotong-potong sebanyak 100 bilah, kuikat dengan benang. Bilah lidi ini selalu kubawa bila aku ke sekolah. Teman-teman sekelasku pun ada diantaranya yang bertanya perihal bilah lidi yang kubawa itu. Setelah aku terangkan, ada juga diantaranya yang meniru.

Begitulah, waktu setahun pun tak terasa terlalui, dan tibalah pembagian rapor. Sungguh aku tak menduga, ternyata aku pun menerima rapor pula, aku naik ke kelas 2. Aku pulang dengan riang memperlihatkan rapor kepada ayah dan ibu. Ibuku senang, tapi ayahku tidak. Ayah pergi mendatangi Kepsek sambil membawaku serta. Ayah tanya kew Kepsek kenapa aku dinaikkan ke kelas 2. Kepsek menjawab dengan singkat karena aku mampu dan pantas naik kelas. Namun ia janji bila aku tidak mampu duduk di kelas 2, maka tahun depan pasti tak dinaikkan ke kelas 3, ayah pun puas dengan alasan Kepsek.

Namun apakah memang aku betul-betul pintar, atau beruntung saja, nyatanya hingga aku lulus SMA tak pernah tinggal kelas. Dan aku adalah siswa termuda yang lulus SMA pada waktu itu, belum genap 18 tahun.
Sekolah duduk, karena pada masa itu yang namanya Sekolah Taman Kanak-kanak cuma ada di kota kabupaten, itupun di kabupaten kami jumlahnya dapat dihitung dengan jari sebelah telapak tangan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s