R(e)volusi, Bukan Menanti Keajaiban.

“Tak akan berubah nasib suatu kaum hingga mereka sendiri yang merubahnya.”

Reformasi di negeri ini sudah berlalu lebih dari 1 dekade. Namun keinginan rakyat terhadap perbaikan negara di semua sektor, belum juga tercapai.

Banyak orang berasumsi meski negeri ini sudah merdeka baik secara de facto maupun de jure pada 5 dekade lalu, namun banyak yang merasakan belum menikmati kemerdekaan sepenuhnya.
Perubahan kondisi negeri secara perlahan (evolusi) tampaknya seperti merangkak. Perubahan secara drastis (revolusi), dianggap banyak orang terlalu ekstrem, kembali dari nol, atau diistilahkan kembali ke pengaturan awal (restart).

Proses evolusi sudah dan sedang terus berlangsung di negeri ini. Reformasi pun sudah dilakukan, namun seperti dirasakan bersama, ya begini-begini saja. Mungkin terdapat kesalahan ketika reformasi dilakukan ; bukan mendudukkan para pencetus, deklarator, maupun pelaku reformasi itu dalam menata menuju proses restart (?)
Kita semua tentu masih ingat mereka yang muncul ke permukaan ketika usai reformasi, adalah mereka yang dulunya merupakan pendukung maupun pelaku penentu kebijakan di negeri ini di masa pra reformasi. Mereka tiba-tiba muncul ke permukaan berteriak lantang sebagai reformator. Padahal mereka dulu ikut terlibat menyengsarakan rakyat negeri ini.
Mereka yang sebenarnya pencetus dan pelaku reformasi malah tenggelam dalam hiruk pikuk euforia sesaat dari rakyat yang akhirnya malah tertipu.

Revolusi ? Why not, kenapa tidak ?
Lihat beberapa negara yang pernah melakukan revolusi ; Prancis, USA, dan China. Negeri mereka maju setelah revolusi.
Ambil contoh, Prancis ; revolusi di negeri Napoleon Bonaparte itu berlangsung dari 1789 hingga 1799, ribuan orang dikorbankan demi sebuah perbaikan masa depan bangsa. Tapi perlu diingat, mereka yang kemudian memimpin negeri itu adalah orang-orang yang betul sebagai pencetus dan pelaku revolusi, bukan penjahat yang mengaku pahlawan kesiangan.

Hari-hari lalu kita telah mendengar sebuah momen, yaitu deklarasi Nasional Demokrat, sebuah organisasi massa yang bertujuan akan melakukan perubahan terhadap kondisi negeri. Kita sudah sering kali mendengar berbagai deklarasi yang tujuannya serupa. Secara pribadi saya bukan apriori terhadap bermacam bentuk deklarasi, namun sepertinya menampilkan kelemahan anak-anak bangsa ini yang hanya mampu berbicara, orasi, teriak-teriak layaknya pedagang kaki lima yang kemudian sepi dibungkam aparat keamanan.
Revolusi tampaknya jalan terakhir untuk membenahi kondisi negeri yang sudah dikuasai banyak penjahat dari berbagai macam modus operandi. Para generasi sebelum kita, dengan perangkat seadanya berani menghadang penjajah yang kejam dan lalim. Andai saja para pendahulu kita tak bersedia berkorban untuk perbaikan para generasi penerusnya, niscaya negeri ini masih bernama Nederland Indische atau Hindia Belanda.

Negeri ini dengan berbagai yang dimilikinya, bukan pemberian dari bangsa lain, ia pemberian Tuhan Maha Kasih yang melabeli manusia sebagai Khalifah fil Ardh (Penguasa Bumi). Wajib dipelihara, dibangun sebaik-baiknya. Kekayaan yang ada bukan untuk dinikmati oleh segelintir orang apalagi penjahat. Seluruh rakyat berhak untuk ikut menikmati kehidupan yang adil, aman dan sejahtera. Jalan menuju kesana sudah terbentang di depan mata, yaitu REVOLUSI, atau tidak sama sekali untuk menyaksikan negeri ini pelan tapi pasti akan dikuasai para penipu, perusak, pencuri, perampok, penjarah, dan penjahat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s