Negara Telmi (Telat Mikir)

Dalam beberapa tahun terakhir  Negara ini disibukkan oleh berbagai aktivitas ilegal ; penambangan ilegal (Penambangan Tanpa Ijin, Peti), penebangan hutan ilegal (pembalakan liar), BBM ilegal, dan ilegal lainnya.

Dalam benak kita muncul pertanyaan kenapa sampai terjadi aktivitas atau kegiatan ilegal tersebut ?
Jawaban yang amat sederhana adalah karena Negara kita yang telah merdeka lebih dari 60 tahun ini “Telmi” alias Telat Mikir.
Telat Mikir, apa kaitannya ?
Orang-orang bijak berkata, lebih baik mencegah daripada mengobati. Mestinya para orang pintar di Negara ini mengacu kepada kalimat perkataan orang bijak itu. Pencegahan, agar jangan sampai terjadi kegiatan yang harusnya dapat diantisipasi secara dini itu.

Pencegahan terhadap kegiatan penambangan ilegal mestinya dilakukan dan dimulai di sektor hulu sebelum aktivitas merugikan itu terlanjur terjadi. Langkah awal dimulai dengan membuat aturan dan payung hukum yang benar-benar jelas dan ketat yang berlaku untuk seluruh sektor terkait bidang pertambangan.
Selama ini kita ketahui penertiban di bidang pertambangan dilakukan di lokasi tambang. Objek pertama yang kerap jadi kambing hitam adalah peralatan kerja (heavy equipment) yang dalam hal ini termasuk orang yang menjalankan alat tersebut (operator).
Semestinya pihak pelaku penertiban (aparat penegak hukum) sebelumnya menghimpun data dan bahan keterangan antara lain ; Pemegang Konsesi (PKP2B/KP), penyuplai peralatan kerja (Agen Tunggal, Dealer, Penyalur, atau Rental alat berat), penyuplai BBM, dan lainnya yang terkait baik langsung maupun tidak dengan kegiatan penambangan.

Buatkan saja aturan yang berlaku untuk pihak penyuplai peralatan berat. Sehingga terdapat aturan dimana jika seseorang atau lembaga/badan usaha ingin memiliki, menguasai, ataupun mempergunakan peralatan berat, tidak dengan mudah meskipun mereka mampu membayar (beli atau sewa).
Seperti halnya kepemilikan dan penggunakan senjata api, kepemilikan dan penggunaan alat berat mestinya dapat disamakan.
Mereka yang akan memiliki ataupun menggunakan peralatan berat, harus pula memiliki dan menunjukkan seluruh legalitas sebagai suatu persyaratan yang dapat membolehkannya untuk itu. Bila peralatan berat diperuntukkan untuk melakukan kegiatan penambangan, maka yang bersangkutan wajib memiliki legalitas dan memenuhi persyaratan yang berlaku di bidang pertambangan. Apabila salah satu dari persyaratan tak terpenuhi, maka pihak penyuplai peralatan berat wajib untuk tidak menjual atau menyewakan peralatannya berdasarkan peraturan yang wajib pula ditaatinya. Begitupun penggunaan peralatan berat untuk bidang lainnya seperti konstruksi, pertanian, perkebunan, kehutanan, dan sebagainya wajib memenuhi persyaratan sesuai peruntukkannya masing-masing.

Dengan demikian seseorang atau lembaga/badan usaha tidak dengan mudah memiliki maupun mempergunakan peralatan berat. Sehingga jika nantinya terdapat peralatan berat yang dimiliki, dikuasai dan dipergunakan untuk suatu kegiatan, ini berarti kegiatan tersebut benar-benar legal dan telah melalui proses kontrol sebaik-baiknya oleh pihak-pihak terkait dan berwenang.
Permasalahannya selama ini tidak ada keinginan baik (good will) dari pihak Pemerintah untuk benar-benar serius melindungi Sumber Daya Alam (SDA, Natural Resources) dari berbagai penjarahan. Akibat dari ketidak seriusan Pemerintah melakukan pencegahan secara dini, maka yang terjadi adalah penertiban yang selalu terlambat setelah SDA Negeri ini dijarah secara besar-besaran.

Lihatlah selama ini berbagai jenis peralatan berat yang diangkut melewati jalan umum, dikawal oleh aparat Kepolisian. Tak menutup kemungkinan dari sekian banyak yang dikawal itu digunakan untuk tujuan-tujuan atau aktivitas ilegal. Kasarnya, pihak Kepolisian ikut terlibat meski secara tidak langsung.
Dan semestinya pula ketika seorang operator dan alat berat yang dioperasikannya diamankan karena tuduhan melakukan penambangan atau aktivitas ilegal, pihak Penyidik Kepolisian juga memanggil dan memeriksa aparatnya yang dulu melakukan pengawalan pengangkutan peralatan berat tersebut. Dan pihak penyuplai peralatan itupun juga mesti dipanggil dan diperiksa.

Kita tampaknya selalu terlambat dalam berbagai hal. Selalu lebih suka mengobati ketimbang melakukan pencegahan dini. Istilah “Negara Telmi” tampaknya pun tak sepenuhnya salah jika dilekatkan pada Negara yang konon gemah ripah loh jinawi ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s