Kepala, Aurat, Kemaluan.

Ini catatan dari balik jendela ruang kerja saya. Tiap yang lewat di depan kediaman saya, akan terlihat oleh saya. Bermacam model busana yang dikenakan oleh mereka yang tertangkap indera penglihatan saya. Catatan ini merupakan pendapat saya tentang busana dan penampilan seseorang. Tapi bukan berarti saya termasuk pengamat mode atau fashion. Pendapat pribadi tepatnya, apakah nanti pendapat ini mewakili pendapat umum atau tidak, bukan menjadi urusan saya.

Sering saya menyaksikan ada yang berbusana tertutup dari kepala hingga hampir mata kaki. Mereka menyebutnya busana muslim. Terutama yang dikenakan oleh para wanita, kerudung, jilbab, dan baju panjang. Sepertinya dengan memakai busana yang serba tertutup itu mereka sudah menutup pula auratnya. Tunggu dulu, belum tentu salah, dan tak sepenuhnya benar.
Bila seorang wanita memakai kerudung atau jilbab yang menutup kepala, lalu baju panjang yang longgar, tidak menonjolkan lekuk-lekuk tubuh, maka bolehlah ia dikatakan sudah benar berbusana sesuai anjuran agama (islam).
Tapi tentu anda sering pula menyaksikan para wanita yang menutup kepalanya, memakai baju layaknya busana muslim, namun ketat, memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh ; dari depan tampak payudara yang membusung dan menonjol, dari belakang pantat terlihat seperti buah labu kembar. Masya Allah ! Inikah yang dimaksud menutup aurat tapi mempertontonkan lekuk tubuh dan bagian vital (?)
Bayangkan, jika seorang wanita yang meski ia telah menutup seluruh tubuhnya dengan busana ketat, dengan warna busana yang senada dengan kulit tubuhnya, apakah tidak tampak seperti telanjang atau bugil ?

Saya pikir banyak yang menganggap kemaluan mereka berada di kepala, karena mereka lebih mengutamakan menutup kepalanya agar rambut tak terlihat, namun mengabaikan lekuk-lekuk tubuhnya yang dapat mengundang hasrat libido lawan jenis.
Saya tidak sedang mencela apalagi menghakimi siapa saja, cuma mengutarakan apa yang sudah saya lihat, dan berpendapat secara pribadi.
Saya pikir lagi, cara berpakaian yang demikian tetap masih mengundang seseorang untuk melakukan kejahatan terhadap wanita. Saya tentu tidak punya wewenang apapun untuk menganjurkan siapapun untuk berbusana sebaik dan seaman mungkin, itu hak mereka. Tapi ingat, cara berbuasana anda merupakan salah satu cerminan pribadi anda, dan jangan lupa cara berbusana anda pun akan menentukan keamanan diri.

Bila saya boleh saran, maka jangan memakai busana yang belum sepenuhnya selesai, misalnya baju yang belum ada lehernya, baju yang kancingnya tidak lengkap, baju yang bagian dada dan belakangnya bolong, ataupun busana yang kekurangan bahan kain sehingga di beberapa bagian terlalu pendek, dan jangan terlalu pelit menggunakan kain dan benang, atau jangan memakai baju yang belum dijahit di bagian dada, serta celana yang belum dijahit di bagian selangkangannya.
Jangan pula memilih busana yang dapat mengundang orang lain berpendapat bahwa anda belum sepenuhnya waras, masih perlu perawatan, dan perlu diperiksa kondisi kejiwaan ; sehat jasmani dan rohani.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s