Keberuntungan; Campur Tangan Tuhan.

Saya selalu menyempatkan diri bertanya sekedar sharing kepada setiap orang yang saya anggap belum beruntung ; penarik gerobak, becak, kenek angkot, buruh pelabuhan, PSK jalanan dan rumahan, maupun penjaga parkir.
Hasil akhir dari sharing saya adalah, saya sangat bersyukur dibanding mereka.
Meskipun saya belum memiliki materi seukuran orang yang dapat disebut kaya, saya merasa sudah termasuk orang yang beruntung.

Beruntung, menurut ukuran seperti saya yang tak sempat mengenyam pendidikan tinggi, namun dapat memiliki status yang memudahkan untuk mencari materi tanpa harus memeras keringat.
Dengan cuma lulusan SLTA di era pertengahan 1980-an, saya sempat pontang panting bekerja serabutan mulai dari tenaga honorer di kantor Resort Kehutanan, makelar jual beli kayu hutan, sopir angkutan ikan, buruh kapal penangkap ikan, checker angkutan perusahaan tambang, kuli bangunan kayu, karyawan perusahaan, ini bergantian saya jalani dengan harapan suatu saat dapat kesempatan kerja di tempat “basah.”

Sifat saya yang pembosan tidak menjadikan saya betah pada suatu pekerjaan yang saya anggap monoton bila dikerjakan untuk waktu lama.
Suatu hari dalam kebingungan harus kerja yang sesuai dengan keinginan, pandangan saya tertuju pada sebuah iklan mini di media massa ; diklat untuk menjadi jurnalis. Saya membayangkan betapa mengasyikan menjadi seorang jurnalis yang dapat ketemu banyak orang dari berbagai strata sosial. Saya memutuskan, disinilah sebenarnya dunia saya yang tidak membosankan.

Jadilah saya mengikuti diklat jurnalistik di sebuah kota di Jawa Tengah selama 5 bulan hingga mendapat sertifikat. Tuhan rupanya sedang menyiapkan keberuntungan buat saya. 2 hari sebelum saya menerima sertifikat jurnalistik, sebuah pengelola tabloid yang baru terbit di Banjarmasin menawarkan pekerjaan buat saya untuk menjadi korespondennya di daerah kabupaten dimana saya tinggal. Tawaran ini melalui kenalan saya yang kebetulan adalah ipar dari Pemred tabloid tersebut.
Selama sekian tahun kemudian saya menjadi kuli tinta, membuat nama saya sering jadi bahan pembicaraan di kalangan pejabat dan pengusaha daerah ; tentu saja pembicaraan yang pro dan kontra terhadap sepak terjang saya.

Pemekaran wilayah kabupaten di daerah saya membawa keberuntungan berikutnya. Pejabat Bupati Pemekaran di wilayah saya tinggal ternyata memiliki sejarah kedekatan dengan keluarga saya, alhasil saya lah jurnalis yang amat dekat dan memiliki akses langsung ke Bupati dibanding puluhan rekan saya sesama jurnalis.
Keberuntungan selanjutnya, mantan Pemred tabloid dimana pertama kali saya menjadi jurnalis, menawarkan saya untuk menjadi Report Stringer dari sebuah televisi swasta nasional yang cukup ternama. Mulanya saya agak ragu mengingat kemampuan saya untuk menyandang nama besar stasiun televisi berita itu. Namun saya pikir tak ada salahnya menerima saja, sambil learning by doing lah. Oh ya, saya sempat berpindah media beberapa kali karena tabloid tempat kerja saya pertama itu kolaps.

Bila mengetahui betapa sulitnya mencari nafkah yang dilakukan para wong cilik, maka saya selalu teringat akan kondisi saya dulu seperti mereka. Penghasilan Rp. 20 ribu hingga Rp. 30 ribu per hari, di daerah saya cuma cukup untuk pembeli rokok sebungkus dan sepiring nasi.
Dengan kondisi saya seperti sekarang, saya selalu berpendapat tidak ada sebenarnya orang miskin atau melarat melainkan mereka yang belum beruntung saja. Bagi saya keberuntungan itu tak cuma sekedar upaya dan usaha, namun juga campur tangan Tuhan yang Maha Mengatur.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s