Kebaikan Awal dari Kejujuran.

Saya sering bertanya-tanya pada diri sendiri ; sudahkah saya ini jujur terhadap diri sendiri ? Sulit menjawabnya karena ternyata hati kecil saya berkata bahwa saya jarang jujur terhadap diri sendiri.
Saya pun balik bertanya, apakah saya juga sudah jujur terhadap diluar diri saya ; kepada istri, anak, tetangga, teman, dan orang banyak lainnya ? Lagi-lagi hati kecil saya membantahnya, ternyata saya lebih tak jujur terhadap mereka. Lalu kepada siapa saya pernah jujur ? Kepada segala bentuk pemberhalaan, thagut, setan, iblis marakahyangan ? Entahlah mungkin jawabannya “ya”.

Bila saya cuma dapat jujur kepada segala bentuk simbol ketidakbenaran itu, lalu saya ini manusia macam apa ? Lalu manusia-manusia selain saya, juga tergolong manusia jenis apa pula ?
Jujur, mudah diucapkan dan diakui, tapi amat sangat sulit dilakukan. Lalu masih adakah manusia yang berani berlaku jujur di era dimana para Rasul, Nabi, Aulia, Santo, dan manusia suci tak lagi bersemayam di dunia ini ? Teramat sangat sulit menjawabnya. Karena bila kita menjawab bahwa masih ada yang berlaku jujur, maka itu merupakan jawaban yang sama sekali tidak jujur.

Kita lupakan saja soal kejujuran. Lebih mengena bila bicara soal perbuatan baik. Sesering apa kita berbuat baik ? Kepada siapa saja tujuan perbuatan baik kita ? Apakah perbuatan baik kita tujukan kepada golongan atau agama tertentu saja ? Apa yang kita harapkan dari perbuatan baik itu ?
Pertanyaan semacam itu lebih enak untuk dijawab ketimbang pertanyaan mengenai kejujuran.

Perbuatan baik tak perlu melihat dari frekuensi sering atau tidaknya kita berbuat baik, tapi dari sisi kualitas dan keikhlasan yang berada dibalik perbuatan baik itu. Perbuatan baik dengan dasar dan niat pamrih suatu saat akan menuai kekecewaan bilamana yang diperoleh sebagai timbal balik akibatnya tak sesuai dengan harapan.
Perbuatan baik tak sepantasnya dibatasi hanya kepada golongan atau agama tertentu, namun akan lebih punya makna sosial jika ditujukan kepada setiap makhluk (bukan cuma manusia ; hewan, alam, environment), lebih membumi, sehingga terjadi keseimbangan antar semua makhluk hidup.
Perbuatan baik perlu dilakukan dan dijaga agar berkesinambungan. Karena perbuatan baik yang dilakukan secara sporadis dan insidentil biasanya punya maksud-maksud tertentu, mengharap pamrih. Bilamana ini terjadi, maka objek tujuan perbuatan baik itu pun akan bertindak hal yang sama.

Sudah cukup baik kah perilaku kita di mata keluarga, kerabat, teman, tetangga, dan orang lainnya ?
Banyak yang bilang, menjadi orang penting itu baik, tetapi lebih penting menjadi orang yang baik.
Urusan menjadi orang baik adalah tergantung upaya dan usaha kita. Adapun yang menilai dan menyatakan kita menjadi orang baik adalah orang lain diluar kita. Yang jelas jika setiap saat memperlakukan objek diluar kita dengan baik, maka akibatnya juga kita akan diperlakukan dengan baik, ini hukum casualitas, sebab akibat.
Orang yang dapat dikatakan baik, dinilai dari beberapa indikator ; perilaku, tutur kata, pandangan, dan perbuatan. Kata “baik” tak memandang keyakinan dan agama. Tapi keyakinan dan agama dapat menjadi suatu indikator untuk memandu dan dasar manusia untuk berbuat kebaikan.

Nah, cobalah mulai saat ini berupaya memiliki niat dan pikiran yang baik, karena ini sudah pintu untuk masuk kepada langkah selanjutnya, yaitu berbuat baik. Bila orang diluar kita sudah menyatakan baik, maka tiap kata yang keluar dari mulut kita dengan sendirinya dapat dipercaya, dan kepercayaan orang lain itu adalah refleksi dari kejujuran meski masih berada pada level paling bawah dari sebenar-benar kejujuran. Apakah saya sendiri jujur dalam menulis catatan ini ? Saya sulit menjawabnya, terserah pada anda untuk menyimaknya masing-masing.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s