Jangan Tulis Berita Itu !

Sudah cukup lama aku mendengar dan mendapat laporan dari warga perihal adanya perusahaan chipmill yang memproduksi bahan baku plywood (kayu lapis) setengah jadi.
Perusahaan tersebut pembukaan dan peresmiannya dilakukan oleh Bupati daerah kami.

Laporan dan data yang aku terima adalah ; Bupati memiliki saham di perusahaan tersebut, perusahaan menebang dan membeli bahan baku dari kayu hutan alam, dan menetapkan harga beli bahan baku dari warga semaunya.
Data yang aku dapat dari Dinas Kehutanan setempat, perusahaan tersebut hanya boleh mengambil dan memproduksi bahan baku yang berasal dari kayu tanaman rakyat seperti ; sengon, akasia, sungkai, dan beberapa jenis pohon buah-buahan.
Namun seperti laporan warga, perusahaan justru lebih banyak mengambil bahan baku dari kayu hutan alam seperti ; meranti, keruing, dan jenis yang sulit dibudi dayakan.

Aku sudah beberapa kali mengkonfirmasikan masalah tersebut ke pihak-pihak terkait, kepolisian dan kehutanan, namun jawabannya selalu tak memuaskan. Aku tulis di koran pun, sama hasilnya nihil.

Pergantian pejabat Kapolres menjadikan aku memiliki harapan kembali untuk mengincar aktivitas perusahaan yang berbau ilegal itu. Beberapa hari setelah pergantian Kapolres, aku menghadap pejabat pertama penegakan hukum di kabupaten kami itu.
Aku ungkapkan semua yang kuketahui mengenai praktik perusahaan chipmill itu ke Kapolres yang baru. “Terima kasih atas informasinya. Sebaiknya anda tulis saja di koran. Dengan dasar berita yang anda tulis itulah nanti kami bergerak,” ujar Kapolres.
Aku setuju terhadap usul yang dilontarkan pejabat itu.

Usai ketemu Kapolres aku kontak seorang rekanku yang bekerja di koran yang sama denganku. Kebetulan dia punya sepeda motor (aku belum punya soalnya) untuk bisa digunakan buat perjalanan dan investigasi ke lokasi perusahaan yang lumayan jauh. Selain itu kami mempersiapkan peralatan lainnya ; kamera manual berikut beberapa rol film, serta baterei cadangan, maklum waktu itu kamera digital baru muncul dengan harga yang belum terjangkau kocek wartawan.

Aku berdua mulailah dengan investigasi. Kami berbagi tugas, aku kebagian mengambil foto dokumentasi kayu, sedangkan rekanku jadi tukang nanya-nanya warga sekitar lokasi perusahaan. Kami menyamar sebagai warga yang menawarkan bahan baku. Investigasi kami berjalan cukup sulit karena penjagaan pihak perusahaan sangat ketat. Mereka curiga terhadap orang-orang yang baru pertama kali mereka lihat. Selain itu lokasinya berada di tepi hutan yang masih banyak tumbuh pohon-pohon kayu yang lumayan berdiameter besar. Sampai-sampai untuk memotret bahan baku yang menumpuk di log pond, aku mesti merambah semak belukar, dan kemudian naik ke atas pohon.

Setelah selama 3 hari melakukan investigasi, kami rasa sudah cukup mendapat bahan dan data, kami pun meninggalkan lokasi perusahaan.
Pekerjaan selanjutnya adalah mengkonfirmasi pihak-pihak terkait agar pemberitaan balance dan cover both sides. Kapolsek dimana lokasi kegiatan perusahaan berada di wilayah hukumnya, setelah kami konfirmasi menyarankan agar tak perlu menulis beritanya. Bintara polisi itu menawarkan kami untuk bisa ketemu Manager perusahaan, seorang warga keturunan. “Nggak perlu ditulis lah, mas. Saya kenal Manager perusahaan, orangnya enak aja, nanti saya pertemukan,” bujuk Kapolsek. Namun kami bergeming untuk tetap menulis masalah yang sudah santer dan bukan rahasia itu.
Kami hanya minta nomor ponsel si Manager itu dari Kapolsek.
Adapun pihak kehutanan ketika kami konfirmasi, membantah keberadaan saham sang Bupati, serta berjanji akan mengirim petugasnya untuk meneliti jenis kayu yang menjadi bahan baku di perusahaan tersebut. “Itu info tidak benar yang mengatakan terdapat saham pak Bupati di perusahaan itu,” bantah Kepala Dinas.

Manager perusahaan ketika kutelpon agaknya sudah mengetahui perihal investigasi kami. Pasti ia sudah diberi tahu oleh Kapolsek. “Sudahlah pak, saya tahu maksud anda, dan kami siap membantu dan bekerja sama asalkan tidak menulis berita tentang kegiatan perusahaan kami. Semua biaya investigasi yang sudah bapak keluarkan akan kami ganti,” ujar Manager di ponsel.
“Berapa nilai konpensasi yang akan bapak tawarkan ke saya,” pancingku.
“Saya akan keluarkan Rp. 1,5 juta sebagai tanda niat baik kami,” sahut Manager.
“Oke, saya akan pertimbangkan tawaran bapak, nanti akan saya hubungi lagi,” kataku mengakhiri pembicaraan.

Aku berembug dengan rekanku. Inti keputusan kami adalah, kami tetap tak akan mengambil bentuk konpensasi apapun selain memberitakan kegiatan perusahaan itu. “Selama 3 hari investigasi kita telah habiskan lebih dari Rp. 1 juta, enak saja dia mau ngasih Rp. 1,5 juta,” rekanku sengit.
“Masalahnya bukan jumlah nilai konpensasi yang ditawarkan, tapi harga diri dan profesi kita jadi taruhan. Disamping itu kita sudah ditantang oleh Kapolres yang baru,” kataku panjang lebar menanggapi rekanku.
Dan yang sangat membuat kami gregetan adalah adanya info yang mengatakan belasan wartawan selalu menerima jatah setiap bulan dari manajemen perusahaan, dan sudah berlangsung selama lebih setahun.

Singkatnya, akhirnya berita itupun terbit di halaman depan dari koran yang berhome base di Jawa Timur. Berita dengan judul huruf kapital cukup besar lengkap dengan fotonya. Aku dan rekanku menghadap Kapolres sambil membawa korannya. Tak banyak yang kami bicarakan dengan Kapolres, keperluan kami cuma memberitahukan tantangan Kapolres sudah kami lakukan, dan tinggal menunggu tindakan polisi.
2 hari setelah pemberitaan perusahaan itu muncul di koran kami, beberapa koran harian lokal menurunkan berita terkait lokasi perusahaan produsen chipmill di-police line Polres setempat. Kegiatan perusahaan itu dihentikan. Aku pun mengirim SMS ke ponsel Kapolres dengan kata “sukses, terima kasih atas kerjasamanya.”
Beberapa rekan wartawan lainnya yang sempat ketemu aku di Bagian Humas Pemda, mereka tampak sinis menatapku. Salah seorang dari mereka yang paling senior bilang ke aku, “lain kali bila bikin berita tak mesti membunuh orang, biarkan dia agar masih dapat bernafas.”
Kupikir kalimat yang dilontarkan ke aku itu merupakan sindiran. “Ya bang, kita tunggu penerusnya nanti, kita akan bikin mati pelan-pelan,” balasku.

Sayangnya perusahaan produsen chipmill itu cuma ditutup selama sekitar 2 bulan. Yang kami ketahui kemudian adalah, pihak perusahaan diharuskan mengurus berbagai perijinan untuk dapat beroperasi lagi dengan pengawasan yang ketat dari instansi terkait.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s