Catatan dari Balik Diary.

Beberapa hari sejak aku konfirmasi perihal salah seorang anggotanya yang membawa lari isteri orang lain, Komandan Landasan TNI AL (Danlanal) itu sudah 2 kali menelponku. “Tolonglah mas, kalo bisa beritanya jangan dimuat di koran,” pinta Komandan berpangkat Letkol itu.
“Maaf pak, sebetulnya saya ingin sekali memenuhi permintaan bapak itu. Namun layaknya bapak yang juga memiliki atasan, saya juga demikian. Bila saya tidak melaksanakan tugas, maka akibatnya saya bisa dipecat,” jawabku.

Dari Pemred media tempat aku bekerja sebagai jurnalis, telah memerintahkan mengumpulkan bahan & keterangan terkait seorang anggota TNI AL berpangkat Serka yang dilaporkan telah melarikan isteri orang lain.
Suami dari isteri yang dilarikan itu, datang ke kantor perwakilan koran kami yang berada di ibukota kabupaten.
Oleh Kepala Perwakilan aku diperintahkan untuk tugas mencari bahan & keterangan terkait laporan tersebut.

Aku pun menghubungi berbagai pihak terkait untuk mencari tahu kebenaran laporan tersebut, sehingga membawa aku berhadapan dengan Danlanal itu guna keperluan konfirmasi.

Sesuai waktu yang telah ditentukan (deadline), aku berhasil mengumpulkan bahan & keterangan yang dibutuhkan untuk sebuah pemberitaan. Kepala Perwakilan & Pemred-ku cukup puas atas hasil kerjaku, & akan segera menerbitkan pemberitaan terkait “anggota TNI AL melarikan isteri orang lain” pada edisi minggu depan.

Tak pernah terlintas dalam benakku jika efek dari pemberitaan tersebut, menyebabkan anggota TNI yang bersangkutan akhirnya diadili, & dipecat dari kesatuannya.
Peristiwa yang dianggap mencoreng reputasi sebuah institusi tersebut, rupanya tidak dapat diterima oleh beberapa teman anggota yang dipecat itu. Mereka berpendapat aku lah yang menyebabkan rekan mereka dipecat dari kesatuan.

Mereka pun tampaknya berkomplot untuk memberi aku “pelajaran”.

Jelang sore itu aku baru sampai di rumah sehabis dari luar kota. Beberapa orang bersepeda motor memasuki halaman rumah dimana aku bertempat tinggal. 2 orang mendatangiku sambil menanyakan namaku, yang kemudian aku iyakan. “Kamu harus ikut kami,” kata mereka.
“Ikut kemana ?” Tanyaku.
“Tidak usah banyak tanya bila ingin aman, atau kami panggil lagi beberapa orang kami untuk datang kesini memaksa kamu,” ancam mereka.
Naluriku menyatakan diriku sedang dalam situasi yang tidak menguntungkan. Aku tidak ingin ada keributan di rumahku yang saat itu sedang sepi. Apalagi isteriku sedang hamil tua. Aku tidak ingin isteriku terganggu psikisnya oleh adanya keributan. Aku pun memutuskan untuk mengikuti mereka.

Mereka membawaku naik sepeda motor, dimana posisiku berada diapit oleh pengendara & seorang lagi di belakangku. Sepanjang perjalanan aku berpikir akan mereka bawa kemana. Pikirku, jika mereka membawa aku ke tempat sepi, maka aku akan nekat melompat dari sepeda motor.
Setelah beberapa saat, kami pun tiba di pos pengawasan TNI AL, aku agak lega setelah mengetahui aku dibawa ke tempat itu.

Tapi apa lacur, ternyata di pos TNI itu tak ada seorangpun anggotanya. Jadilah orang-orang yang menjemputku itu menginterogasiku. Setelah beberapa saat mereka menanyai & memaki, beberapa orang itu melayangkan pukulan ke arahku. Salah seorang penyerangku itu berhasil kubalas dengan pukulan di wajahnya. Mengetahui aku melakukan perlawanan, salah seorang menangkap & memelukku dari belakang, sehingga aku sulit melakukan perlawanan, & beberapa pukulan pun mendarat di tubuh & kepalaku.

Beberapa menit berselang tiba-tiba datang beberapa orang bercelana doreng & berambut cepak yang ternyata anggota yang bertugas di pos. Namun anggota itu bukannya membelaku, malah mereka berkata memojokkanku. “Makanya jadi orang itu jangan sok idealis, jadinya ya seperti ini,” cetus salah seorang dari mereka.
Aku diam saja sambil merasakan sakit di tubuh & kepalaku, kupikir tak ada gunanya menjawab kata-katanya. Sementara mereka terus mengoceh, aku mengambil HP yang kutaruh di saku celanaku. Aku mengirim pesan kepada salah seorang temanku agar melapor ke polisi & Denpom, serta menggambarkan posisiku. Aku berhasil mengirim pesan yang sama sebanyak 3 kali. Aku berdoa agar ada balasan dari temanku itu. Setelah cukup lama menanti, akhirnya ada balasan yang bunyinya ia sedang bersama petugas Polres & Denpom sedang menuju ke tempatku. Untunglah HP-ku dalam posisi tak bersuara, cuma getar, sehingga tak diketahui oleh orang-orang yang berada di pos itu.

Temanku berikut petugas berseragam polisi berpangkat Ipda & seorang dari Denpom berpangkat Serka tiba di pos TNI dimana aku disekap. Setelah berbincang sebentar dengan para anggota TNI AL itu, mereka membawaku pergi.
Aku dipersilakan langsung pulang ke rumah sambil diwanti-wanti agar hati-hati bila keluar rumah. Setiba di rumah aku langsung melaporkan kejadian yang menimpaku ke Kepala Perwakilanku, ia berjanji besok akan menemui Danlanal terkait peristiwa tersebut.

Rupanya kejadian yang menimpaku itu juga dilaporkan oleh Kepala Perwakilan ke Pemred kami, yang kemudian meneruskannya ke Komandan Landasan Utama TNI AL di Kota Buaya.
Yang aku tahu efek dari pemukulan terhadapku itu adalah, Danlanal & Komandan Pos dimutasi. Sedangkan aku telah mendapat sebuah pelajaran yang sangat berharga, tapi inilah konsekuensi dari sebuah profesi.

(Catatan ini berasal dari kisah nyata. Waktu, nama pelaku & tempat tidak disebutkan untuk menjaga privasi)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s