Bikin aturan untuk dilanggar.


Tak diperlukan perdebatan secara ilmiah dan bertele-tele. Apakah peraturan terlebih dahulu dibuat, atau sebaliknya pelanggaran dulu terjadi kemudian membuat aturan, rasanya tidak begitu penting. 
Pelanggaran oleh manusia justru pertama kali dilakukan terhadap aturan yang dibuat oleh Sang Pencipta. Pelanggaran Adam dan Hawa (Eva) dengan memakan buah terlarang di Sorga, dilanjutkan oleh keturunannya di Bumi ketika Kabil (Qain) membunuhnya saudaranya sendiri, Habil (Abel). Pelanggaran terus berlangsung hingga hari ini, baik terhadap ketetapan dan hukum Tuhan maupun terhadap berbagai aturan yang dibuat sendiri oleh manusia guna menjaga, memelihara, serta mempertahankan keseimbangan kehidupan ini.

Sifat manusia kebanyakan cenderung ingin bebas untuk berbuat apa saja. Aturan yang dibuat oleh manusia dimaksudkan untuk membatasi kehendak bebas manusia itu sendiri agar tercipta suatu kondisi yang seimbang.
Aturan dibuat justru untuk menanti pelanggaran. Ironisnya lagi tak jarang peraturan dibuat dengan sejumlah muatan konpensasi yang mengarah ke materi. Muatan efek jera (shock therapy) terhadap pelaku pelanggaran dikesampingkan demi tujuan materi yang ingin dicapai. Sehingga para pelaku pelanggaran tetap merasa lebih beruntung dikenakan denda berupa materi ketimbang harus mengalami hukuman berupa kurungan atau siksaan badan. Selama efek jera tidak begitu efektif diberlakukan terhadap para pelaku pelanggaran, aturan yang dibuat sehebat apapun, seberat apapun sanksinya, para pelanggarnya tetap menunggu antri.

 
Ada suatu aturan yang dirasakan selama ini cukup aneh. Bila kita menginginkan aturan tersebut tak lagi dilanggar, atau pelanggarnya bisa dibatasi, maka aturan itu harus dirubah. Ambil contoh peraturan lalu lintas. Seorang pengendara sepeda motor yang tidak menggunakan helm, tanpa Surat Ijin Menyetir (harus dibedakan antara menyetir dengan mengemudi), tanpa kelengkapan dokumen, dan kondisi kenderaan bermotor tak laik operasi, aturan yang berlaku terhadap pengendara sepeda motor tersebut adalah memperoleh Bukti Pelanggaran alias Tilang. Sepeda motor diamankan pihak berwenang, pengendara sepeda motor harus menghadiri sidang terkait pelanggarannya, ia boleh pulang lenggang kangkung meski tanpa sepeda motor. Harusnya pelanggar aturan seperti ini jangan dibiarkan melenggang pulang dengan sehelai Bukti Pelanggaran. Tapi ia ditahan seperti layaknya pelaku kriminal. Karena pelanggaran yang dilakukannya itu tak hanya bisa membahayakan dirinya, namun juga orang lain. Berapa banyak sudah nyawa melayang di jalanan disebabkan oleh tak taatnya kepada peraturan (?)
Orang akan berpikir berkali-kali jika mengendarai sepeda motor tanpa helm dengan sanksi hukuman badan berupa kurungan selama 3 bulan, misalnya. Atau tanpa SIM diganjar kurungan selama 6 bulan, dan seterusnya terhadap pelanggaran lainnya.
Namun jika cuma dikenakan denda senilai puluhan ribu, ratusan ribu, hingga jutaan rupiahpun, orang akan cuek, pelanggaran pun akan jalan terus.

Ada pula aturan yang mestinya bisa ditanggulangi secara dini namun malah oleh pihak yang berwenang dibiarkan begitu saja. Seolah pihak terkait dan berwenang memberikan peluang untuk melakukan pelanggaran. Hal ini dapat dilihat terhadap kelebihan muatan oleh berbagai jenis kenderaan angkutan. Padahal mobil-mobil angkutan tersebut telah ditetapkan sesuai aturan terkait jumlah muatan maksimalnya. Ini bisa dilihat dari tulisan yang tertera di badan mobil ; kapasitas muatan (pay load).
Nyatanya sebagian besar mobil angkutan mengangkut muatan yang tidak sesuai dengan kapasitas muatan yang telah ditetapkan alias overload.
Padahal bila betul-betul punya keinginan baik (good will) dan keseriusan menerapkan aturan, yang terkait dan berwenang dalam masalah ini pasti bisa. Kenapa tidak bikin aturan saja, misalkan mobil angkutan tipe A wajib memiliki ukuran tempat muatan dengan ukuran panjang sekian, lebar sekian, dan tinggi sekian, tidak boleh melebihi kecuali kurang (?) Atau truk dengan daya mesin sekian tenaga kuda, wajib membuat bak truk dengan ukuran panjang sekian meter, lebar sekian meter, dan tinggi sekian meter. Nah bila aturan itu tak dipenuhi oleh pemiliknya, maka yang berwenang tidak melakukan uji kir kendaraan bermotor, tidak mengeluarkan ijin trayek dan pengangkutan, atau bila memungkinkan tidak memberikan Bukti Kepemilikan Kendaraan Bermotor (BPKB) dan Surat Tanda Kendaraan Bermotor (STNK) sebelum pemiliknya memenui persyaratan tersebut. Dengan demikian maka para petugas penegak peraturan akan lebih mudah dalam bekerja. Jika terdapat mobil atau truk angkutan yang tempat muatan atau baknya tak sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan, maka berarti mobil atau truk tersebut adalah ilegal.
Saya yakin cara dan pola aturan seperti ini telah amat jauh sebelumnya terpikirkan oleh mereka para pemikir dan orang-orang pintar di Negeri ini. Namun tentu saja lebih mudah diucapkan ketimbang dilaksanakan. Argumen dan dalih apa saja pasti dikeluarkan agar cara dan pola seperti ini tidak usah diberlakukan dan diterapkan. Karena itu tadi “aturan dibikin untuk dilanggar.” Dan lagi pula jika aturan yang dibikin memiliki banyak kebijakan serta kelonggaran, maka peluang untuk bisa lepas dari jerat aturan terbuka lebar. Para pelanggar aturan dapat lolos dari jerat, oknum para penegak peraturan pun bisa pula kipas-kipas dengan fulus yang didapat sebagai konpensasi atas kerjasama dan tolong menolong. Maka jangan heran, penegakan aturan dan hukum hanya indah dan berapi-api di tulisan spanduk dan baliho, akan jadi loyo dan tak bertenaga bila dihadapkan pada setumpuk uang kertas dan selembar cek langsung tunai. Korupsi meneriaki maling dan  rampok kelas teri. Koruptur ! Biar mereka pakai seragam bertuliskan “Koruptor” dengan tulisan mencolok pun, mereka hanya malu sebentar. Malah mereka jadi terkenal, tampil di berbagai media. Hal yang tidak bisa ditiru oleh maling dan rampok kelas kampung. Mereka tak ubahnya para selebriti yang dikejar-kejar para Wartawan (jangan pernah menyebut Kuli Tinta, karena Wartawan tergolong profesi White Collar). Bahkan para anggota keluarga Koruptur tidak merasakan malu memakai apapun hasil dari korupsi ; rumah dan mobil mewah, pakaian dan perhiasan glamour, serta hand phone mahal dan canggih. Sekarang pilih mana, diteriaki maling atau rampok, dikejar massa se RT dan digebuki ramai-ramai. Atau diteriaki koruptor, tapi yang teriak hanya bisa diluar pengadilan atau di depan layar kaca televisi (?) Sekali lagi, aturan dibuat untuk dilanggar, dan menghasilkan materi.

Iklan

2 comments on “Bikin aturan untuk dilanggar.

  1. Assalammu’alaikum… salam kenal Mas..

    Tulisannya bagus, cuma kayak ada yg ngeganjel aja negh…

    Pelanggaran oleh manusia justru pertama kali dilakukan terhadap aturan yang dibuat oleh Sang Pencipta. Pelanggaran Adam dan Hawa (Eva) dengan memakan buah terlarang di Sorga

    Yg ini kayaknya gua ga setuju deh, Adam & Hawa melakukan aturan yg dilanggar dikarenakan Adam & Hawa tergoda oleh bujukan & rayuan setan yang sesat. Jadi bukan salah Adam & Hawa.

    Kalau diteliti secara bijak, untuk apa Allah SWT menyuruh Adam & Hawa agar tidak mendekati buah terlarang tersebut? Dikarenakan Allah Maha Mengetahui Segala Sesuatu… 😀

    Jadi untuk selebihnya keturunan2 Bani Adam, banyak yg melanggar ketentuan2 Allah itu dikarenakan godaan2 setan yg terkutuk. Kecuali junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW.

    Untuk kasus2 pelanggaran di jalan raya, memang kebanyakan para penggunanya itu sendiri yg melanggar (gua juga pernah tuh :-P).
    Aturannya memang seharusnya di kurung tetapi dibuat aturan lain yg lbh ringan yaitu denda. Sebenarnya dengan berlakunya denda tersebut, para pengguna yg pernah melanggar udah kapok kok..:-)

    Tetapi knp kenyataannya masih banyak juga yg melanggar? (bukan aturan dibuat untuk dilanggar ya)
    Karena penggunanya itu sendiri blum sadar apa arti keselamatan, menghargai sesama, contoh:
    “aturan menggunakan helm”, para pengguna disini kebanyakan tidak menyadari arti pentingnya menggunakan helm.
    “Trus berputar arah di tempat yg salah”, ini kasus paling gua sebel, banyak pengguna kendaraan tidak saling menghargai satu sama lain, berputar arah seenaknya, tidak menyalakan sen, dsb.

    Sekarang kita lihat si pembuat aturan yaitu polisi, ada beberapa polisi yang tegas, dan ada beberapa polisi yang memanfaatkan momen tersebut (Mas Imi juga pasti tahu).

    Jadi kembali lagi kita sebagai manusia yang penuh dosa dan mudah sekali dihasut dan dibujuk oleh setan yg terkutuk. Manusia itu mempunyai nafsu, amarah dsbnya. Jika manusia di dunia ini seluruhnya sama seperti Nabi Muhammad, Insya Allah sikap dan perilaku kita pun akan sama seperti Nabi Muhammad.

    Berhubung kita masih tinggal di dunia, sekarang kembali ke kitanya masing2, pilih yg baik kah atau yg buruk kah? 😀

    Wah panjang aja… 😛

  2. ASSLKM… pertanyaan saya apakah ada aturan yang dibuat manusia tidak untuk dilanggar,,, klw ada saya ingin ada sebutkan dan jelaskan mengapa ??? tidak bisa dilanggar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s