Berbuat Lebih Baik Daripada Cuma Bicara.

Jika bicara Vatikan, maka ada beberapa hal yang terkait dengan nama tersebut ; umat dan gereja Katholik Roma, dan Paus sebagai Kepala Agama sekaligus Kepala Pemerintahan Negara Vatikan.

Sebagai sebuah negara, Vatikan tak berbeda dengan negara berdaulat lainnya di dunia ini. Menjalin hubungan diplomatik dengan negara lain tentu sama prosedurnya, yaitu antar Kepala Negara atau Kepala Pemerintahan. Bila kemudian terdapat semacam hubungan kerjasama dengan propinsi, distrik, atau kabupaten di suatu negara, maka tentu saja sepengetahuan dan atas persetujuan Kepala Negara/Pemerintahan yang berjenjang hingga sampai kepada Kepala Daerah yang bersangkutan.

Adanya isu tentang Kabupaten Tanah Bumbu telah menerima bantuan dana dari Vatikan sebesar Rp. 500 milyar, adalah hal yang sama sekali tidak logis dan terkesan dibesar-besarkan terkait kepentingan politik untuk mengeliminir simpati masyarakat kepada salah seorang Cagub Kalsel yang dianggap saingan berat. Kampanye kotor, hitam, atau black campaign, sudah hal yang tampaknya dijadikan lumrah oleh para pelaku politik terhadap saingannya.
Meski negeri ini sudah merdeka, membenci segala bentuk praktik kolonialisme berikut trik-triknya, namun politik devide et impera (adu domba pecah belah) warisan era Kompeni Belanda, masih terus dipakai. Menjelang Pemilu, Pemilukada, sebut saja suksesi, isu-isu SARA pun ramai muncul ke permukaan yang pada muaranya adalah mengadu domba dan memecah belah anak-anak bangsa. Para politisi karbitan yang haus kekuasaan tampaknya tak lagi mampu berimprovisasi merebut simpati masyarakat selain dengan cara memunculkan dan menebarkan kebencian terhadap saingan politik. Mereka tak dapat menemukan cara-cara yang etis untuk bermain pada tataran santun berpolitik untuk menarik simpati.

Isu primordialisme, suku, agama, tumpah darah, pribumi-pendatang, tak pelak lagi merupakan wilayah empuk untuk dijadikan semacam pemantik api membakar musuh menarik dukungan. Yang berpandangan nasionalis dianggap bukan pada tempatnya bila berada di lingkup kedaerahan (region). Mereka bukan karena tidak tahu dan tak mengerti, mereka bukan orang bodoh, mereka adalah orang-orang pintar yang sengaja bersikap masa bodoh untuk menambah kebodohan masyarakat yang jadi objek sasaran praktik politik.

Pada saat-saat menjelang perhelatan besar politik, biasanya bermunculan mereka yang sok mengerti politik, pura-pura mengerti ilmu politik, menjadi politikus dadakan dengan membeli jabatan di organisasi politik, setiap pembicaraan pun disetting sedemikian rupa kepada hal-hal yang tampak politis. Jadilah orang-orang yang tak ambil pusing dengan masalah politik dianggap tak mengerti politik, sehingga sah dan halal untuk dijadikan tumbal praktik politik ; wong cilik, wong ndeso, kaum marginal.

Kembali kepada isu dana bantuan dari Vatikan, apakah cukup logis bila mengucurkan bantuan sebesar Rp. 500 milyar kepada sebuah kabupaten dimana umat Katholik justru lebih sedikit jumlahnya daripada umat Hindu (?) Apakah masuk dalam pikiran orang yang agak sedikit pintar bila bantuan itu sebagai konpensasi atas pemberian ijin pembangunan sebuah gereja, yang mana biaya membangun gereja sebesar lebih dari Rp. 2 milyar, sementara untuk ijinnya senilai Rp. 500 milyar (?) Apakah Paus di Vatikan berikut para Kardinal, Uskup dan Pastur itu tak lagi berpikir waras, atau sebaliknya otak kita yang salah tempat (?)
Habis pikiran saya bila ikut-ikutan mempercayai isu yang sama sekali sangat tidak cerdas itu.
Isu kristenisasi ? Sudah berapa banyak ? Adakah data-data valid yang terdiri dari angka dan jumlah berapa yang sudah berpindah agama ke Katholik ? Jika pihak yang bersangkutan saja tak mampu menjawab dan menunjukkan bukti valid, apakah kita mesti mengada-adakannya ? Lalu kita ini manusia macam apa ?
Tak perlu setiap orang menjawabnya. Jawaban yang paling baik dan bijak adalah kita semua melakukan dan berbuat kebaikan untuk sesama, bukan cuma bicara. Sesungguhnya bila kita selalu berbuat baik meski kepada mereka yang berlainan agama dan keyakinan, niscaya tak akan mengurangi kadar keimanan kita.

(Catatan ini saya persembahkan buat sahabat saya yang bernama Pastur (Romo) Sabbas Sudiyono, CM dengan ucapan damai di bumi dan damai dalam segenap hati manusia, Puji Tuhan Semesta Alam)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s