Anarkis, apa kabar ?

 

 

Melihat tayangan beberapa media elektronik, dan membaca di berbagai media cetak, akhir-akhir ini tingkah laku beberapa elemen anak bangsa tampak brutal dan anarkis. Ada apa ? Gejala apa gerangan yang sedang menimpa bangsa ini ?

 

Di beberapa daerah kita melihat tayangan televisi, para mahasiswa saling bentrok dengan sesamanya. Ada pula yang bentrok dengan aparat kepolisian. Warga sipil melawan aparat baik kepolisian maupun Satuan Polisi Pamong Praja.

Jika kita melihat warga, apakah itu pedagang kali lima, atau warga yang menolak eksekusi rumah/tanah oleh petugas, terasa tampak wajar. Karena kurangnya pengetahuan dan kesadaran mereka terhadap hukum membuat mereka melawan aparat yang sedang menjalankan tugas. Tapi jika mahasiswa bentrok dengan aparat, kita jadi miris melihatnya. Generasi calon intelektual bangsa yang keberadaannya tentu kita banggakan, memberi contoh yang kurang dapat diteladani. Aparat kepolisian menghadang mahasiswa yang sedang unjuk rasa, adalah juga anak bangsa yang sedang menjalankan tugas Negara. Kita yakin para aparat keamanan ini tentu bukan atas kemauan mereka untuk bertindak meghadang massa yang sedang unjuk rasa. Mengapa kita tak juga berlapang dada dengan penuh pengertian sama-sama saling menjaga sehingga kedaan tetap kondusif.

 

Keadaan sekarang setelah reformasi terus bergulir, sudah lebih baik ketimbang era sebelumnya. Kenapa tak menengok dan mengingat ke belakang. Era sebelumnya kita ketahui tak mudah untuk sekelompok orang melakukan kumpul-kumpul, apalagi sampai unjuk rasa.

Kita semua butuh berjuang, memperjuangkan kepentingan kita pribadi, keluarga, kelompok, ataupun yang lebih besar lagi. Namun perjuangan tak mesti harus dengan kekerasan dan anarkis. Mahatma Gandhi, salah seorang yang patut diteladani. Dalam melawan penjajahan Inggris di India, Beliau menempuh jalan damai (Ahimsa). Atau kita patut mengingat Pahlawan Nasional Philipina, Jose Rizal yang melawan penjajah melalui pena (No li me tangere). Padahal para Pahlawan tersebut berjuang bukan untuk pribadi, keluarga maupun golongan. Mereka berjuang untuk rakyat sebuah bangsa.

 

Beberapa contoh para mahasiswa yang sedang unjuk rasa menentang kebijakan Pemerintah, mereka hanya jadi martir yang sia-sia. Kalaupun terdapat segelintir dari mereka yang dianggap sebagai Pahlawan, toh makin terlupakan. Nama mereka hanya jadi nama sebuah jalan atau nama bangunan. Para generasi sekarang banyak yang telah lupa siapa itu Arief Rachman Hakim, atau Hasanuddin HM.

 

Bicara, bicaralah, dan bicarakanlah. Bicara merupakan rangkaian dari kata-kata. Kenapa kita tidak bicara untuk membahas sesuatu masalah dan mencari jalan keluar yang baik tanpa kekerasan (?) Bukankah dalam kitab suci dikatakan Tuhan saja menciptakan alam dan makhluk dengan perkataan, bicara !

Bicara, berkata, dan baca !

Bacalah ! Bacalah atas nama Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari segumpal darah !

Sampaikanlah sesuatu maksud dengan perkataan dan bicara yang baik sambil mengingat Tuhan.

 

Kita tentu ingat kejadian di daratan Cina ketika Negeri Tirai Bambu itu diperintah oleh Perdana Menteri Li Peng. Kurang lebih 10.000 mahasiswa yang sedang unjuk rasa menentang Pemerintah di Lapangan Merah (Tiannanmen), mati sia-sia digilas tank dan panser Tentara Merah dari Rejim Komunis Cina. Republik Rakyat China (People Republic of China) kala itu tak mendapat sanksi dunia internasional setelah melakukan pembantaian massal mahasiswa. Padahal Pemerintah Negeri itu telah melanggar HAM.

Kita semua tentu tak menghendaki kejadian seperti itu terjadi di Negara yang salah satu bunyi falsafahnya adalah “Kemanusiaan yang adil dan beradab.” Tapi kita semua jangan hanya berharap Negara bersikap kemanusiaan yang adil dan beradab, sementara kita justru bersikap tak berprikemanusiaan dan kurang beradab.

Kita tentu setuju menyatakan bila tindakan anarkis itu merupakan sikap yang tak beradab. Merusak fasilitas milik Pemerintah, dan mengganggu ketertiban dan kenyamanan orang lain, tentu bukan cerminan manusia beradab. Fasilitas milik Pemerintah adalah dibeli dari uang Negara yang dipungut dari hasil butir-butir peluh dan keringat rakyat. Bila merusaknya, berarti sama halnya merusak milik rakyat. Kita sebagai rakyat tentunya harus marah terhadap mereka yang telah merusak milik kita.

Mereka yang mengganggu ketertiban umum, sebagai rakyat kita patut untuk tidak simpati kepada mereka. Kepentingan umum lebih harus didahulukan ketimbang sekedar kepantingan golongan atau kelompok, apalagi pribadi.

 

Maka bicara, berkatalah, dan bacalah ! Dengan mengingat nama Tuhan Pencipta Alam Semesta ini, mari bicara dengan akal dan nurani kita untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Katakan tidak untuk anarkis dan anarkisme dengan segala unsurnya.                   

One comment on “Anarkis, apa kabar ?

  1. Anarkis muncul karena sistem. sistem ketimpangan di negeri ini…

    salam kenal blogger borneo…

    cangkirkopi87.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s