Ramai-ramai usung calon Prabu.

Jauh-jauh hari sebelum perumusan Pemilihan Akbar diwacanakan, telah mulai ramai para kelompok kawula Negeri Bambu Runcing mengusung masing-masing Calon Prabu Kerajaan.

Tayangan-tayangan wajah berikut berbagai gagasan para Calon Prabu yang diusung bermunculan di kotak-kotak tayang gambar hidup, di berbagai lembaran pewarta, hingga lontar penamaan berbentuk wahana untuk pengambil fulus.

Ada yang memajang plakat besar-besar memampangkan wajah Calon Prabu Negeri sebagai Satrio Piningit yang akan membawa kemajuan kerajaan yang konon Gemah Ripah Loh Jinawi ini. Ada yang berbicara memakai kata-kata bersayap; dari mata seekor rajawali negeri ini kaya akan berbagai sumber alam, tapi petani kita tidak dapat bercocok tanam, sungai-sungai penuh air namun kita malah kekeringan. Ada lagi yang seolah berfilsafat ; hidup adalah perbuatan.

Begitulah para Calon Prabu menarik simpati para kawula Negeri yang selama 3 dasawarsa lebih pernah terkunggkung aturan tangan besi kala pemerintahan dipegang oleh Mbah Marto. Eh, rupanya sang menantu Mbah Marto yang pernah hengkang dan merantau ke Negeri Kurma itu, kepingin juga mencicipi tahta kerajaan seperti mertuanya.

Tiap hari, tidak siang, tidak malam, wajah menantu Mbah Marto selalu muncul di kotak tayang gambar hidup. “Bergabunglah dengan gerakan bambu runcing,” pekik Pramono, Sang Calon Prabu Kerajaan.

Tidak cuma itu usaha yang dilakukan Pramono, melalui Perkumpulan Siasat yang dibentuknya, para kawula pengikutnya menebarkan panji-panji perkumpulan di berbabai pelosok hingga ke ujung kampung dan petak.

Calon Prabu yang lain juga tak mau kalah dan ketinggalan menarik simpati kawula Negeri Kerajaan Bambu Runcing yang oleh bangsa-bangsa di marcapada ini dikenal sebagai bangsa yang pemaaf. Lha pemaaf ? Ya ! bayangkan seorang Mbah Marto beserta keluarganya yang selama lebih 3 dasawarsa memerintah Kerajaan, menyengsarakan banyak kawula negeri, akhirnya dapat kembali ke pangkuan Dewata dengan tenang. Dan anggota keluarganya yang dulu sangat jumawa ketika Mbah Marto masih berkuasa, tetap aman tenteram tak disentuh sehelai bulu pun oleh aturan kerajaan.

Adalah salah seorang empunya Perkumpulan Siasat berlambang mentari hijau, juga sering muncul di kotak tayangan gambar hidup. “Hidup ini adalah perbuatan,” ujarnya berfilsafat.

Yang tak terduga sebelumnya mesti banyak yang mewacanakan untuk digadang-gadang sebagai Calon Prabu, eh……….akhirnya datang juga. Seorang dari keturunan darah biru yang masih punya singgasana sendiri di Puri Keratonnya, akhirnya muncul mengejutkan mendapat sokongan dari banyak kawula negeri dari berbagai karesidenan dan kadipaten. Sinuhun Mangku Bentala, yang masih tetap jadi Prabu meski berkuasa di seputar karesidenan dan keratonnya, melanjutkan waris turunan dari Prabu Jawadwipa, disokong banyak kawula untuk ikut adu nasib jadi Prabu Kerajaan Bambu Runcing. Sokongan tak hanya datang dari kawula di pulau Jawadwipa yang orangnya memakai bahasa Kawi Baru, tapi juga dari luar pulau yang kawulanya banyak tak paham bahasa Kawi Baru, seperti kawula di pulau Bekas Bengawan pun ikut memberikan sokongan. Dan perihal sokong menyokong Calon Prabu Kerajaan ini tak terlepas dari gawe para Perkumpulan Siasat yang merupakan Kuda Semberani untuk menuju ke Kursi Singgasana Kerajaan.

Dan yang paling penting dari semua itu, selain diperlukan banyak sokongan dari para kawula, tentu urusan fulus jadi penentu untuk melaju mulus ke tempat tujuan. Karena kawula di kerajaan ini telah kejangkitan wabah kurang paham bila yang masuk ke telinganya cuma berupa kata-kata bersayap. Mereka akan cepat paham dan mengerti jika terlebih dulu ada yang masuk ke kocek ketimbang ke kuping mereka. Jadi para Calon Prabu mesti siap-siap memecahkan celengan semarnya untuk membuat para kawula menjadi paham dan mengerti sehingga mereka pun dengan senang hati manut memilih Calon Prabu.

Begitupun bagi para Perkumpulan Siasat yang menjadi Kuda Semberani sebagai tunggangan ke Kursi Prabu, mereka juga tak asal sokong Calon Prabu tanpa imbalan yang menguntungkan. Imbalan nantinya bisa saja berupa kursi atau meja yang lebih kecil dari kepunyaan Prabu, dapat juga berupa padang galian, padang bercocok tanam, ternak angon, dan sebagainya.

(Bila ada kesamaan setting tempat, nama tokoh dan karakter, harap jangan tersinggung apalagi dendam)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s