Kampung lendir.

Selama puluhan kali umur jagung, sejak masih bergabung dengan Kadipaten Nusa Segara, telah bermukim para Perempuan Pemuas Birahi (P2B). Kerjanya cuma bersolek dan ngangkang menanti langganan. Para lelaki yang hidungnya berbelang tiap saat, mencari kesenangan sekejap berpacu dengan keringat dan birahi di tempat yang berjarak 18 kali mengaso.

Para P2B yang jumlahnya satu kampung itu berasal dari pulau seberang, pulau Jawadwipa. Mereka datang menumpang perahu uap, ada juga yang karena yakin dapat banyak fulus, nekat terbang naik burung wesi.

Pemukiman yang berada di kaki pegunungan ini setiap saat siap menanti para P2B.

Kampung mesum ini adalah warisan sejak Kadipaten Nusa Segara. Padahal sempat ditutup, namun para Juragan Lendir yang terlanjur enak memelihara para P2B itu, membukanya kembali menjelang perpisahan antara Nusa Segara dan Rempah Bumi.

Hal ihwal perniagaan lendir para P2B di Rempah Bumi, cukup adem ayem. Tak tanggung-tanggung ada 2 dusun berjarak terpisah sekitar 2 puntung cerutu. Yang menarik minat banyak para Hidung Belang rupanya tak cuma wanita pemuas birahi, tapi juga bilik-bilik temaram untuk tempat  melantunkan tembang, kidung dan gita sambil menenggak minuman berbuih. Bilik -bilik ini memang sengaja disediakan untuk pemanasan sebelum berlabuh ke bilik pertarungan adu gulat dan piting, serta saling tusuk (tusuk sate atau tusuk gigi kalèè….).

Pengunjung tak cuma terbatas para sais gerobak barang, namun dari berbagai kalangan tanpa pandang bulu kethek. Siapapun yang sudah berani masuk ke kawasan hutan karet itu, berarti sudah siap bertarung melawan nafsunya.

Kadipaten Rempah Bumi yang menerapkan Brahma Kelola sebagai landasan moralitas, sering berupaya ingin menutup pemukiman lendir itu. Namun selalu terbentur pada rasa kemanusiaan, dimana tetap ingin memanusiakan manusia. Meski demikian Balai Punggawa yang menangani masalah ini tetap melakukan upaya penyadaran terhadap para P2B itu.

Rupanya Pemerintahan di Rempah Bumi akhirnya harus menertibkan para P2B yang cari nafkah di Kampung Lendir. Masalahnya sebagian besar para kawula Rempah Bumi akan melaksanakan shiam selama 30 kali bulan beredar. Lebih dari seribu biji mata yang menghuni Kampung Lendir pulang ke pulau Jawadwipa.

Tak cuma itu, sejumlah wisma bermalam yang menyediakan bilik-bilik tempat senandung, juga ikut ditertibkan. Pemerintah di Rempah Bumi menyebar para Bhayangkaranya untuk melakukan penertiban. Suasana pelaksanaan shiam di Rempah Bumi khususnya di ibukota Watulengo, berjalan hening dan sakral. Pintu-pintu bilik senandung tertutup rapat, para P2B meninggalkan bilik peraduan sesaatnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s