Empu Siasat ramai incar kursi Prabu.

 

 

 

Kancah persiasatan di Negeri Bambu Runcing kembali ramai dan marak dengan banyaknya terbentuk Padepokan Siasat. Dulu jaman Mbah Marto cuma terdapat 3 Padepokan yang panji-panjinya berwarna Kuning, Hijau, dan Merah. Kini panji-panji Padepokan terdiri dari banyak warna, susah menghapal dan mengingatnya. Masing-masing kawula anak negeri merasa berhak bikin Padepokan Siasat agar tampak di Negeri ini benar-benar merdeka menyuarakan kebebasan berkehendak. Maklum selama lebih dari 3 dasawarsa Mbah Marto berkuasa semua serba diatur dan mesti menurut seperti kebo ditusuk hidung.

 

Untunglah Mbah Marto sebagai manusia yang wajib hukumnya termakan usia, lama-lama renta dan mulai menampakkan kepikunannya, dan sudah saatnya pula lengser ke prabon.

Tapi dasar sudah bawaan manusia di marcapada ini tak ada yang mau melepaskan begitu saja apa yang telah digenggamnya. Mbah Marto waktu itu meski sudah renta, tetap menerima tongkat Kerajaan yang disodorkan kepadanya. Tentu saja para kawula negeri merasa gregetan setengah mati melihat sikap Mbah Marto yang dinilai sudah keterlaluan dan tak tahu diri itu. Akhirnya mereka bikin kisruh yang mengakibatkan lengsernya Mbah Marto yang terkenal di masa mudanya sebagai Panglima serdadu kerajaan itu.

 

Lengsernya Mbah Marto digantikan oleh Daeng Halidi yang memang sesuai tata kerajaan berhak atas tongkat Prabu. Daeng Halidi ini sebenarnya lebih piawai sebagai seorang Empu yang berhubungan dengan burung, karena suka membuat sesuatu dapat terbang. Sebagai seorang Empu Siasat, Daeng Halidi masih harus mondok dulu beberapa warsa. Lha buktinya, begitu Daeng duduk di bangku Prabu, Negeri Bambu Runcing terpaksa kehilangan satu Karesidenan, pisah jadi negeri lain yang merdeka dan berdaulau sendiri. Untungnya Daeng yang suka makan Jepa dan Soko Tumbu ini tak lama jadi Prabu. Jika saja berlarut-larut akan makin banyak karesidenan yang minta pisah dari induknya.

 

Melalui Pemilihan Massal Daeng Halidi digantikan oleh seseorang yang tergolong Brahmana bernama Dul Rahim. Berbeda dari para Prabu  terdahulu, Dul Rahim meski tak sempurna indera netranya, namun konon indera keenamnya lebih tajam. Benar kata orang-orang, lain lubuk lain ikannya, lain orang lain pula isi benaknya. Selama jadi Prabu, Dul Rahim getol pergi pelesir ke Mancanegara mumpung dibiayai oleh kerajaan. Ia pun tak segan-segan pula menyindir para Wali Kawula sebagai sekelompok bocah di Taman Bermain. Yang membuat kawula kerajaan dan bahkan marcapada jadi terperangah, ketika Prabu Dul Rahim menjalin pertemanan dengan Negeri Bintang Enam. Padahal banyak negeri membenci negeri para kawula berhidung betet itu, terkecuali Negeri Ahli Seterika yang memang sudah seperti babu dan majikan itu.

Dul Rahim banyak menuai kecaman pedas sepedas sambal cabe rawit. Akhirnya ia pun dilengserkan oleh pataka tak percaya dari Wali Kawula. Wakil Dul Rahim yang berjenis kelamin cewek pun naik menggantikannya jadi Ratu Kerajaan Negeri Bambu Runcing yang seumur-umur baru merasakan memiliki Ratu.

 

Para Empu, Pini Sepuh, bahkan tak sedikit kawula anak negeri mencibir ketika Ratu Awan Gemawan naik menggantikan Dul Rahim. Maklum Ratu tadinya hanya seorang cewek yang tahunya urusan dapur dan ngemong anak serta cucu saja. Cuma Sang Ratu ini cukup masyhur karena keturunan Pakde Harno yang membebaskan negeri ini dari para penjajah dari Negeri Keju dan Matahari Terbit. Tapi dasar pembawaan cewek dimana-mana mirip dan hampir sama, yaitu lebih mementingkan perasaan ketimbang isi benak. Akhirnya cuma numpang duduk di kursi Prabu tanpa bikin banyak perubahan seperti para pendahulunya.

 

Ratu Awan Gemawan yang didukung para kawula dari Padepokan berlambang kebo gemuk bermata nyalang itupun akhirnya harus lengser pula. Pemilihan massal berikutnya yang digelar Kerajaan Negeri Bambu Runcing memilih Prabu Baru berikut Mandornya yaitu Sri Baginda Yudha dan Juru Kemudi.

Memang sudah tabiat manusia dimanapun di marcapada ini tak ada yang merasa puas sebelum bumi menghimpitnya. Banyak kawula negeri yang dulunya memilih pasangan Prabu, tapi kemudian berbalik arah mencaci maki. Pasalnya Sang Prabu dianggap ingkar janji, janji manis semanis madu berubah pahit serasa butrowali.

Pihak Kerajaan tanpa dengar pendapat kanan kiri tahu-tahu mengumumkan menaikkan harga cabe yang jadi penganan utama kawula anak negeri. Cabe yang dulunya mudah terlihat ditanam di pekarangan gubuk, dan dijual di pekan-pekan kampung, kini sulit ditemukan seperti hilang amblas ke perut bumi. Keruan saja dapur-dapur dan lepau-lepau penganan blingsatan cari sana sini supaya bumbu tak kehilangan nikmat. Banyak kawula jadi tak selera karena biasa kepedasan sambil kipas-kipas sehabis makan, kini malah kuping yang kepedasan oleh berita-berita seputar kondisi Kerajaan.

 

Pemerintahan Sri Baginda Yudha dan Juru Kemudi nampaknya mulai cedera di mata dan kuping kawula anak negeri. Suara dan nyanyian berirama sumbang berdengung dimana-mana. Suasana seperti ini bak gayung bersambut, para Empu Siasat, Pini Sepuh, tak ketinggalan Brahmana masing-masing mengumpulkan para kurcacinya membentuk Padepokan Siasat. Tujuan mereka tentu saja ingin mengambil alih kursi keprabuan, karena yang ada dianggap sudah tak layak berlama-lama menyengsarakan kawula.

Mereka membentuk Padepokan Siasat tak tanggung-tanggung, puluhan panji berlainan bentuk pun berkibar diujung bambu-bambu. Anehnya Padepokan Siasat itu tujuannya mengumpulkan para manusia, tapi malah mencomot benda-benda yang tak tahu menahu. Buktinya, mereka membuat lambang Padepokan memakai gambar hewan seperti kebo dan burung. Ada juga gambar wulan dan lintang, kotak, segitiga, dan lainnya. Antik, aneh, menggelikan, untung belum ada Padepokan Siasat yang mengambil cacing kremi sebagai lambang, atau sepeda ontel misalnya, yang jelas asal jangan sabit dan martil saja, bisa-bisa besok pindah tempat ke penginapan gratis seumur-umur.     

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s