Berharap MRT Dibangun Di Daerah


Tak seperti biasanya terjadi kemacetan di jalan utama memasuki Kota Banjarmasin. Saya pun bertanya-tanya dalam hati; ada apa kok bisa macet. Saya pun mengarahkan pandangan jauh ke depan mencari-cari penyebab kemacetan tersebut. Akhirnya terjawab juga keingin tahuan saya; sedang ada kesibukan pembangunan jalan layang rupanya, sehingga arus lintas terganggu.

Tak apalah terjadi kemacetan jika untuk pembangunan fasilitas umum, pikir saya. Lagi pula memang sudah sepantasnya di salah satu kota utama di pulau Kalimantan ini dibangun jalan layang untuk memperlancar arus lalulintas yang disebabkan makin terus bertambahnya kendaraan bermotor dari tahun ke tahun.
Terasa sungguh ironis memang sebuah daerah yang kaya dengan berbagai sumber daya alam tapi pembangunannya seolah seperti orang sakit sedang berjalan kaki.

Jakarta membuat iri daerah.

Jika dikatakan iri, sudah pasti daerah merasa iri terhadap pesatnya pembangunan Jakarta sebagai ibukto dan pusat pemerintahan negeri ini. Apalagi jika dibandingkan dengan kalimantan, jelas sangat jauh berbeda sekali. Jangankan dibandingkan dengan Jakarta, dengan kota-kota di pulau jawa saja, kota-kota di kalimantan amat jauh ketinggalan. Yang jelas hingga hari ini tak ada jalur kereta api di kalimantan. Fasilitas jalan umum saja banyak yang tidak keruan. Sangat banyak daerah yang terisolasi karena buruknya fasilitas jalan. Ini jelas bukan hanya tanggung jawab Pemerintah Daerah setempat, tapi juga tanggung jawab Pemerintah Pusat, karena eksploitasi sumber daya alam di daerah lebih banyak untuk disetor ke Pusat daripada jatah yang didapat daerah.

Terlepas dari pro dan kontra terkait pembangunan MRT (Mass Rapid Transportation) di Jakarta dengan biaya sekitar Rp 18 triliun, warga Jakarta mesti bersyukur dengan adanya nanti fasilitas tersebut. Sementara warga di daerah cuma bisa tahu dan melihatnya dari berbagai media sambil berharap entah satu atau dua dekade, atau satu hingga dua abad lagi di daerah mereka juga akan dibangun MRT serupa.

Butir sila kelima dari Pancasila tampaknya hanya enak dihapal dan dibacakan pada tiap upacara bendera, kenyataannya dapat kita rasakan sendiri, terutama warga yang berada di daerah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s