Tak Ada Rasa Terima Kasih


Siang itu aku sedang sangat kesal sekali. Sedari pagi listrik di rumah kontrakanku tak juga menyala. Padahal ada beberapa pekerjaan yang mesti kurampungkan melalui perangkat PC.
“Dasar kurang ajar sekali. Listrik mati setiap hari seperti orang sakit minum obat saja !” Ocehku asal bunyi, sementara istriku sedang berada di dapur memasak nasi dengan menggunakan kompor. Alat memasak listrik terpaksa nganggur karena tak ada setrum.

Akhir-akhir ini di kotaku sangat sering mati listrik, berkali-kali baik siang maupun malam. Yang bikin kesal, pemadaman listrik itu tanpa pemberitahuan ataupun pengumuman.
“Coba kalo mau pemadaman listrik itu diumumkan kek di mesjid atau di mushala,” omelku uring-uringan sendiri.
“Sudahlah, nggak usah ngomel-ngomel sendiri, nggak bakal juga listriknya nyala, malahan kalo ketahuan atau kelihatan orang nanti malah dikira orang baru gila,” cetus istriku yang tiba-tiba sudah berada di belakangku.
“Coba kamu periksa diluar sana kilometernya, jangan-jangan *tabulik,” saranku kepada istri.

Rumah kontrakan yang kami sewa sudah hampir 2 tahun ini, belum terpasang listrik PLN. Menurut yang punya rumah, ia sudah lebih dari 2 tahun mengajukan pemasangan, namun belum juga dikabulkan PLN. Dia tak mengerti kenapa PLN belum juga memasangkan listrik, padahal segala persyaratan sudah dipenuhi, bahkan sudah membayar uang muka senilai ratusan ribu rupiah.

Karena untuk keperluan berbagai macam; penerangan dan perangkat rumah tangga yang memerlukan listrik, aku menyambung aliran listrik dari rumah tetangga yang berjarak sekitar 20-an meter dari rumah kontrakan kami.
“Biarlah bayar listrik agak mahal tiap bulannya yang penting terang dan bisa menghidupkan peralatan rumah tangga,” pikirku waktu awal kepindahan kami ke rumah itu.

Istriku pun pergi keluar rumah memeriksa kilometer yang berada di rumah tetangga kami itu.
Beberapa saat kemudian istriku balik.
“Gimana, kilometernya tabulik, nggak,” tanyaku.
“Nggak kok, posisi tombol saklarnya on aja. Itu di rumah tetangga lainnya listrik nyala aja,” jawab istriku.
“Kok begitu, kita aja yang mati listrik,” ujarku sambil melongok keluar jendela.
Pikirku ini pasti ada yang salah dengan listrik tetanggaku dimana aku ikut menyambung aliran.

Benar saja dugaanku. Sekitar setengah jam kemudian kulihat ada mobil dari PLN yang masuk halaman rumah kami. Dua orang petugas PLN turun dari mobil mendatangi rumah kontrakan kami.
“Permisi pak, apakah disini rumah H. Amin ?” Tanya salah seorang petugas yang berseragam karyawan PLN.
“Bukan pak, ada apa, ya ?” Ujarku balik bertanya.
“Kami mau membongkar kilometer listrik yang berada di rumah sebelah itu. Tadi pagi alirannya sudah kami putus,” sahut petugas itu.
Pantas saja pikirku listrik tak nyala-nyala di rumah kami.
“Memangnya bapak ini nggak langsung ke rumah tempat kilometer itu berada ?” Tanyaku pula.
“Kami sudah kesana tapi orangnya tak ada di tempat. Kami pikir biar bapak sebagai tetangganya nanti yang menyampaikan perihal kedatangan dan maksud kami ini,” jawab petugas itu lagi.
“Kalo boleh tahu pak, kenapa aliran listriknya diputus ?” Tanyaku penasaran.
“Pelanggan kami itu sudah menunggak pembayaran selama 10 bulan. Padahal sudah 3 kali kami berikan teguran,” jelas petugas.
Akhirnya aku mengerti kenapa aliran listrik itu diputuskan. Setahuku tetanggaku itu tak cuma mengalirkan listriknya ke tempatku, tapi juga ke beberapa rumah tetangga lainnya. Kalau dihitung-hitung, dia dalam sebulannya sudah dapat untung dari hasil menyambungkan aliran listrik itu.
“Terlalu orang itu sampai menunggak 10 bulan, jadinya kami yang ikut jadi korban,” pikirku dalam hati.

Aku pikir pun bila aliran listrik ke rumah tetanggaku itu benar-benar diputus dan kilometernya dibongkar, rumah kami pasti gelap, dan aku juga tak bisa bekerja dengan menggunakan PC.
Akhirnya aku mengambil keputusan untuk membayarkan tunggakan pembayaran listrik tersebut agar tak jadi diputus. Dan kupikir biarlah nanti urusannya sama tetanggaku itu kalau dia sudah balik ke rumah.
“Kalau boleh tahu, berapa jumlahnya jika tunggakan itu dibayar seluruhnya ?” Tanyaku ke petugas PLN sambil meminta mereka masuk ke rumah.
Salah seorang petugas PLN lainnya mulai menghitung dengan kalkulator biaya yang mesti dibayar.
“Hitungan kami semuanya ada sekitar 2 juta lebih,” ujar petugas itu sambil mengangsurkan kalkulator agar aku bisa melihat angkanya.
“Okelah kalau begitu, bikinkan saja kwitansi tanda pembayarannya untuk sebagai bahan bukti nanti ke pemilik rumah itu,” kataku.
Setelah selesai pembayaran, urusan pun selesai. Beberapa saat kemudian listrik di rumah kami pun menyala.

Sepulangnya tetanggaku ke rumahnya, kuceritakan mengenai listrik yang alirannya hampir diputus PLN itu sambil memperlihatkan bukti pembayaran.
“Baiklah, uang pembayaran itu akan saya ganti segera,” ucap tetanggaku dengan ekspresi kurang senang.
Aku pun heran melihat tanggapan tetanggaku yang kurang senang itu. Mestinya ia berterima kasih sudah ada orang yang bersedia membantunya.
“Nggak apa-apa kalo uangnya belum ada, saya belum begitu perlu juga saat ini,” sahutku sambil permisi pulang.

Dua hari kemudian istriku menyerahkan uang 2 juta lebih.
“Uang apa ini ? Tanyaku.
“Itu uang pengembalian dari tetangga kita,” jawab istriku.
Belum aku buka suara mau bicara, istriku melanjutkan, “aliran listrik ke tempat kita mau diputus. Menurut tetangga kita itu, ia sudah tak bersedia mengalirkan ke tempat lain, karena itu penyebab bayaran listriknya menunggak.”
“Hah, apa ?!” Semburku kaget.
“Terlalu sekali orang itu. Bukannya berterima kasih malah bikin susah. Dia itu orang beriman apa orang kafir sih !?” Ucapku dengan geramnya.
“Sudahlah, nggak usah seperti orang kebakaran jenggot begitu. Itu kan haknya dia. Lagian uang kita kan sudah dikembalikan,” ujar istriku mencoba menenangkan kegeramanku.

Aliran listrik ke rumah kami benar-benar diputus siang itu. Aku jadi kelabakan sendiri membayangkan bakal tak diterangi listrik malam nanti dan tak bisa bekerja.
Untunglah aku ingat kenal baik dengan Kepala Cabang PLN di kotaku. Aku pun coba menghubungi dia siapa tahu dia bisa memberikan aku solusi.
Kepada Kepala Cabang PLN itu aku ungkapkan permasalahanku.
“Pasang listrik sendiri aja, Mas,” sarannya.
“Tapi pak, yang saya tempati ini kan bukan rumah milik saya,” ujarku.
“Nggak apa-apa, yang penting si pemilik bersedia dan setuju untuk dipasang,” lanjutnya.

Aku menyuruh istriku menelpon pemilik rumah kontrakan kami, karena aku tak menyimpannya. Beberapa saat kemudian setelah istriku menelpon, istriku berujar, “pemilik rumah mau aja bila dipasangkan listrik. Tapi ujarnya ia belum ada uang untuk itu. Jadi pakai uang kita aja nanti kalo sudah ada uang dia kembalikan.”
Aku kembali menelpon Kepala Cabang PLN untuk agar dipasangkan listrik.
“Baiklah, tapi hari ini belum bisa karena perlu disurvey ke rumah dulu. Pemasangannya esok saja, mas,” ujarnya.
Malamnya rumah kami pun tanpa penerangan listrik. Untuk penerangan terpaksa kami menyalakan lampu emergency dan beberapa batang lilin.

Hari itu kembali 2 karyawan PLN datang memeriksa kondisi rumah kami.
“Untuk pemasangan dengan daya sebesar 900 Kwh, biayanya 4 juta rupiah,” ujar salah seorang karyawan PLN tersebut usai memeriksa seluruh ruangan rumah kami.
“Baiklah kalau begitu, aku bayar sekarang saja,” sahutku sambil meminta istriku untuk mengambilkan uang didalam lemari.

Besoknya petugas dari PLN pun sibuk memasangkan aliran listrik ke rumah kami.
“Nanti malam listriknya sudah bisa nyala,” jelas petugas itu usai merampungkan pekerjaan mereka.
“Terima kasih, mas,” ujarku.
Puas rasanya hatiku setelah dapat memasang aliran listrik ke rumah kami.
“Kini tinggal bayar listrik sendiri tiap bulan, dan menunggu pengembalian uang pembayaran pemasangan listrik itu,” ucapku ke istriku.

Sekitar setengah bulan setelah rumah kontrakan kami terpasang aliran listrik, istriku cerita kepadaku bahwa pemilik rumah menaikkan sewa kontrak.
“Tadi aku ketemu pemilik rumah, dia bilang mulai bulan depan sewa kontrak rumah dinaikkan sebesar 50 ribu,” lapor istriku dengan sendu.
“Apa-apan lagi ini, sudah ditolongi dipasangkan listrik, belum dibayar pula uang kita,” sungutku dengan geramnya.
Mendengar aku bersungut-sungut istriku cuma diam saja, malahan ia masuk ke kamar menghindari aku yang sedang kesal.
“Aku heran, kenapa orang-orang sekarang ini banyak yang tak berperasaan, tak tahu berterima kasih,” omelku sambil memegangi kepala.
Aku pun hanya bisa pasrah kali ini meski sewa rumah dinaikkan oleh pemiliknya. Tak ada pilihan lain selain menuruti kemauannya, karena untuk mencari rumah kontrakan lagi rasanya sulit.

 

Iklan
By borneOrigin Posted in FIKSI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s