Bali, We’re coming


“Dua hari lagi aku dan Sukri ngambil cuti,” cetus Aan saat kami bertiga makan malam di rumah kontrakan yang kami tempati bertiga.
“Iya, kebetulan kami berdua bisa bareng ngambil cuti karena tempat kami bekerja kan beda, Aan di bagian Crushing Plant, sedangkan aku di bagian Quality Control,” sambung Sukri sambil menambah nasi ke piringnya.
Mereka berdua bekerja di sebuah perusahaan pertambangan terbesar di kota kecamatan yang juga bahkan terbesar di propinsi kami. Sebenarnya aku juga dulu bekerja di perusahaan itu, karena kontrak kerjaku habis, maka aku menganggur.

Aku tak menyahut mereka, aku menunduk saja sambil terus menyuap nasi.
“Kamu gimana Ded, jadi mau ikut kita nggak ?” Tanya Aan sambil menyudahi makannya.
“Aku sih terserah kalian saja kalau diajak ya ikut, kalau tidak pun, berarti tunggu rumah aja,” sahutku tanpa tekanan.
“Kamu jangan tinggal. Kita harus pergi bertiga. Liburan cuti ini harus kita gunakan untuk refreshing keluar daerah,” ujar Sukri menambahkan.
“Memangnya mau liburan cuti kemana ?” Tanyaku.
Rencana liburan cuti kedua orang teman satu kost-ku itu sudah mereka ungkapkan kepadaku seminggu yang lalu. Bukan aku tak tertarik agar bisa gabung dengan mereka, tapi keuanganku yang sekarang sedang sekarat sejak aku berhenti bekerja dari perusahaan hampir 4 bulan yang lalu.

“Kami berdua rencana mau liburan cuti ke Banjarmasin saja. Mau mengunjungi tempat-tempat hiburan dan perbelanjaan disana,” jelas Aan.
“Iya, kita mau puas-puas berada di Banjarmasin selama masa cuti liburan,” sambung Sukri pula.
Aku cuma mendengarkan pembicaraan mereka berdua sambil berpikir apa tak ada tempat lain yang dikunjungi selain Banjarmasin, yang kutahu mereka berdua sudah sangat sering kesana.
Mengetahui aku hanya diam menjadi pendengar yang baik, Sukri angkat bicara, “gimana menurut kamu, Ded ? Kamu ada usul ?”
Aku tetap tak menjawab sambil terus memutar otak kira-kira kemana tujuan cuti liburan agar berkesan dan tak terlupakan.

Kami bertiga telah usai makan malam. Kemudian masing-masing menyeduh air teh dan kopi. Kami pun lalu berkumpul di teras melanjutkan pembicaraan terkait rencana cuti liburan yang belum selesai tadi.
“Aku sebenarnya ingin ikut kalian, tapi uang simpananku nggak banyak, ada sisa sekitar 3 juta di rekening,” ujarku memulai percakapan setelah kami sudah kumpul di teras.
“O…jadi itu yang membuat kamu lebih banyak diam terkait rencana cuti liburan ini ?” Cetus Aan sambil menyalakan sebatang rokok.
“Ya iyalah. Uang simpananku itu kan sengaja kuhemat sebelum aku dapat pekerjaan baru lagi,” jelasku.
Selama aku menganggur beberapa bulan ini, aku belum menemukan pekerjaan yang cocok. Untunglah sementara aku belum memperoleh pekerjaan, ada saja order yang kuterima; mengerjakan dekorasi untuk pernikahan, membuat papan nama, atau spanduk. Hasilnya lumayan untuk membeli keperluanku sehari-hari. Namun order yang kuterima itu tak setiap hari, adakalanya lebih seminggu aku nganggur.
“Nggak usah kamu pikirkan masalah biaya bila mau ikut dengan kami,” ujar Sukri yang setahu aku berpenghasilan sekitar 8 juta setiap bulan dari gajinya bekerja di perusahaan. Sedangkan Aan setahuku gajinya berada dibawah Sukri, sekitar 6 juta.
“Iya Ded, kamu tenang aja, semua kami yang jamin, kita ini sudah seperti saudara, senasib dan sepenanggungan,” sambung Aan yang membuatku terharu.

Sebenarnya sejak aku berhenti bekerja di perusahaan, sudah kuungkapkan kepada mereka bedua niatku mau pulang kampung saja ke Pulau Laut tempat kelahiranku, dimana orangtuaku berada. Namun mereka berdua melarangku.
“Tinggal saja disini bersama kami, sambil kami mencarikan pekerjaan atau lowongan di perusahaan,” kata Aan waktu itu setelah mengetahui niatku.
“Iya, tinggal aja disini kenapa sih,” cetus Sukri pula.
“Aku merasa nggak enak aja kalau-kalau aku jadi beban kalian berdua,” ungkapku.
“Sudahlah, nggak usah dipikirkan, gaji kami berdua nggak bakal habis kalo untuk dimakan bertiga,” lanjut Aan lagi sambil menoleh ke arah Sukri minta pendapat. Sukri pun mengangguk mengiyakan.
“Iya deh kalo begitu aku nyerah aja,” ucapku sambil mengangkat kedua tangan keatas dengan maksud bergurau.

“Kalo aku boleh usul, sebaiknya kalo mau liburan nggak usah ke Banjarmasin,” usulku.
“Menurutmu bagusnya kita pergi liburan kemana ?” Tanya Sukri.
“Masalahnya bila kita liburan di Banjarmasin, sepulangnya dari sana, bila kita cerita kepada orang lain, mereka jadi tak tertarik, karena mereka juga sering kesana,” ungkapku memberi alasan.
“Benar juga sih, tapi kita pergi kemana ?” Aan bertanya sambil menggaruk-garuk dagunya yang tak gatal.
“Bagaimana kalo kita pergi ke Bali ?” Cetusku.
“Hah, ke Bali ?!” Seru keduanya.
“Iya, kenapa tidak !” Sahutku.
Aan dan Sukri kaget dan terdiam sejenak setelah mendengar usulanku.
“Kita ini orang Indonesia, tapi belum pernah melihat Bali yang sangat terkenal ke seluruh dunia. Malah orang-orang asing dari berbagai negara yang lebih tahu dan sering kesana, masa kita kalah,” lanjutku memberi pertimbangan.
“Setuju !” Seru keduanya sambil mengajakku tos.

Kami bertiga pun mulai mempersiapkan diri untuk bepergian jauh, yang belum pernah kami lakukan sebelumnya.
Aku jadi membayangkan akan keindahan alam pulau Bali. Membayangkan ketemu banyak orang asing. Membayangkan pula menikmati pemandangan pantai Kuta sambil mengitarkan pandangan ke arah turis-turis asing yang berjemur di pasir pantai.
“Gimana persiapan kita ? Kita bawa satu koper aja supaya nggak ribet,” kata Sukri.
“Iya, bawa pakaian seperlunya aja, nanti kalo mau ganti beli disana, jadi pakaian kita gabung aja di satu koper itu,” ucap Aan sembari menunjuk ke arah sebuah koper yang sudah dipersiapkan.
Selain mempersiapkan pakaian untuk dibawa nanti, aku kebagian tugas mencari informasi keberangkatan dan tiket kapal untuk perjalanan dari pelabuhan Batulicin ke pulau Jawa.
Dari sebuah agen tiket, aku mendapat informasi jadwal keberangkatan kapal dari Batulicin ke Surabaya.
“Empat hari lagi ada kapal KM. Binaiya yang berangkat dari pelabuhan Batulicin ke Tanjung Perak Surabaya,” jelas seorang karyawan agen tiket.

Menunggu selama 4 hari lagi baru berangkat rasanya lama sekali. Andai kami punya sayap atau pesawat terbang pribadi, ingin rasanya kami langsung pergi.
Agar tak ada kendala di hari keberangkatan, kami sudah memesan mobil rental untuk mengantar kami nanti ke Batulicin. Perjalanan dari tempat kami ke Batulicin akan ditempuh selama sekitar dua jam lebih. Menurut jadwal keberangkatan, KM. Binaiya akan berangkat dari pelabuhan Batulicin ke Surabaya pada pukul 16.00 WITa. Jadi kami bisa bangun agak siang untuk kemudian berangkat menuju pelabuhan.

Kami sudah berada didalam mobil yang mengantar kami ke pelabuhan. Sepanjang jalan selepas keluar dari kota tempat tinggal kami, di kanan kiri jalan berjejer pohon karet dan kebun kelapa sawit. Memasuki daerah Pagatan, mulai tampak hamparan pantai berpasir putih. Sebenarnya pantai tersebut pemandangannya cukup indah. Pantai berpasir putih dengan barisan pohon kelapa dan cemara sepanjang pantai yang menghadap ke laut jawa. Dari pantai tampak dari jauh gunung Jambangan yang menjulang tersaput awan di daratan Pulau Laut yang dipisahkan oleh selat sejauh sekitar tiga mil laut dari daratan pulau Kalimantan dimana pantai Pagatan berada.
Sayangnya pantai yang cukup indah itu belum dikelola secara maksimal dan profesional oleh pemerintah daerah setempat. Padahal setiap tahunnya digelar acara adat “mappanre tasi” atau semacam pesta laut yang dikunjungi banyak wisatawan dari berbagai daerah hingga turis asing.
“Sayang sekali pantai Pagatan itu tak dikelola secara baik. Mestinya pemerintah setempat membangun fasilitas pendukung pariwisata. Atau jika pemerintah tak punya cukup anggaran, bisa bekerjasama dengan investor,” ungkapku sambil menunjuk ke arah pantai yang sedang kami lewati.
“Bisa, nanti bila kamu yang jadi Bupatinya disini,” sahut Aan sambil tertawa diikuti Sukri, sementara kulihat sopir cuma tersenyum.

Para penumpang yang akan berangkat ke Surabaya sudah banyak berkumpul di ruang tunggu serta sekitar kantor PT. Pelindo, jumlahnya ratusan. Kami pun bergabung dengan para penumpang tersebut.
“Ting tong, para penumpang sekalian, pintu pelabuhan untuk menuju ke kapal telah dibuka. Silakan antri dengan tertib, jangan berdesakan, terima kasih atas perhatiannya, selamat jalan semoga sampai di tujuan,” pemberitahuan oleh pihak pelabuhan melalui pengeras suara.

Meski sudah ada anjuran agar antri dengan tertib, namun para penumpang tetap berdesakan berlomba saling ingin mendahului untuk cepat naik ke kapal. Para petugas pun jadi sibuk mengatur mereka. “Dasar orang Indonesia, susah kalo diatur,” gumamku dalam hati.
Kami bertiga hanya dapat memandangi mereka yang berdesakan itu.
“Santai aja, nanti juga naik ke kapal biar belakangan,” ucap Aan sambil mengisap rokoknya. Sementara itu Sukri malah asyik memotret para penumpang yang gaduh itu dengan kamera digital yang dibawanya.
“Lumayan buat dokumentasi perjalanan,” ujar Sukri sambil terus memotret.

KM. Binaiya sudah mulai meninggalkan pelabuhan Batulicin. Ombak di selat laut yang dilewati kapal penumpang ini, sedang tenang, cuaca pun cerah.
Tampak Sukri melanjutkan kegiatan memotretnya. Ia membidikkan kameranya ke arah Pulau Sewangi yang letaknya berhadapan dengan pelabuhan Batulicin, berjarak kurang dari satu mil laut.
Menurut informasi dari warga setempat, di Pulau Sewangi yang cuma dihuni oleh beberapa Kepala Keluarga itu, terdapat sumber air tawar yang tak pernah kering meski selama musim kemarau. Kapal-kapal penarik tongkang batubara dan kapal besar lainnya, bila ingin mengisi perbekalan air tawar, mengambilnya dari Pulau Sewangi.
Dari jauh tampak beberapa tongkang bermuatan batubara yang sedang ditarik oleh kapal ke arah Pulau Laut.
“Betapa kaya daerah ini sebenarnya, tapi sayangnya perkembangan daerah tertinggal, warganya pun masih banyak yang miskin,” pikirku dalam hati sambil menatap ke arah Pulau Laut dimana aku dilahirkan puluhan tahun lalu.

Daratan pulau Kalimantan dan Pulau Laut semakin jauh dan semakin mengecil. Kapal sudah memasuki laut lepas, angin mulai bertiup agak kencang, ombak pun agak besar. Hari mulai gelap, semburat cahaya sunset terlihat indah di ufuk barat.
“Yuk kita ke kamar aja !” Seru Sukri hampir tak kedengaran suaranya oleh bisingnya suara mesin kapal. Adapun Aan sejak naik kapal tadi, ia tinggal di kamar aja, kamar yang kami sewa dari seorang perwira kapal.

Aku merebahkan tubuhku di dipan bertingkat dalam kamar yang lumayan bersih, dilengkapi televisi, toilet, kulkas dan dispenser.
Kupejamkan mata, membayangkan beberapa jam lagi sedang berada di pantai Kuta Bali. “Bali, tunggulah kedatangan kami,” gumamku dalam hati. Beberapa saat kemudian aku sudah tak ingat apa-apa lagi. Aku jatuh tertidur dengan angan dan mimpi tentang Bali beserta keindahannya.

 

Iklan
By borneOrigin Posted in FIKSI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s