Dibalik Wajah Sok Bersih


Sombong dan arogan sekali orang ini, pikir Heri. Lagaknya sok bersih setiap kali ditanya dan dikonfirmasi terkait berbagai dugaan penyelewengan di instansi yang dipimpinnya. Malahan orang ini balik menceramahi Heri yang sudah 2 tahun terakhir ini bekerja sebagai Koresponden di sebuah media cetak lokal.

Pak Marhan, Kepala Dinas Tata Kota dan Bangunan di Kabupaten dimana Heri bertugas, selalu menunjukkan wajah yang kurang senang setiap kali Heri datang ke kantornya. Dari beberapa rekan Heri sesama Jurnalis pun, pak Marhan menunjukkan hal yang sama. “Sok benar pak Marhan itu, sok bersih, sok suci,” cetus Deny, Jurnalis sebuah berita online dengan emosi. “Betul bro, gue sebel sekali liat muka sok bersihnya itu. Gue janji akan investigasi kasus penyelewengan proyek bangunan pasar itu, biar ketahuan siapa dia sebenarnya,” kata Fahmi, Wartawan koran nasional dengan tak kalah emosinya.

Beberapa minggu terakhir, pak Marhan, seorang Kepala Dinas yang dikenal cukup dekat dan konon merupakan anak emas Bupati, diterpa isu terlibat penyelewengan dana proyek pembangunan sebuah pasar kabupaten yang menelan dana milyaran rupiah.

Namun setiap kali dikonfirmasi oleh para wartawan, Marhan selalu berkelit dengan mengalihkannya ke pelaksana proyek.

“Instansi kami cuma sebagai transit dana yang dianggarkan oleh DPRD melalui APBD. Pelaksananya kan jelas perusahaan yang memenangkan tender,” Marhan menjawab pertanyaan para wartawan.

“Tapi setidaknya instansi bapak berkewajiban melakukan pengawasan disamping terlibat perencanaan dan penganggaran dana proyek ?” tanya Heri penasaran.

“Itu pasti, kami melakukan pengawasan terhadap pekerjaan pelaksana proyek, namun disana kan juga ada konsultan,” tangkis Marhan dengan mimik tambah tak senang.

Selain kurang senang dikonfirmasi para wartawan, Marhan tak segan-segan menceramahi para jurnalis itu terkait pekerjaan mereka. “Jadi wartawan itu sama halnya menyebarkan aib orang lain, meskipun benar, apalagi berita itu tidak benar, maka berarti memfitnah. Sebagai seorang terpelajar anda tentu faham apa itu fitnah menurut ajaran agama,” ceramah Marhan kepada Heri suatu waktu ketika Heri konfirmasi untuk yang keempat kalinya.

“Silakan anda ingin memberitakan apa saja mengenai saya. Tapi bila berita itu mengandung kebohongan apalagi fitnah, saya akan menuntut anda secara hukum,” ancam Marhan dengan nada agak tinggi.

Mata Heri masih mengantuk, kepalanya pun agak berat, tapi ia tetap mengangkat ponsel-nya yang berdering kencang. Heri memang selalu mengaktifkan ponsel-nya, dan meletakkannya tak jauh dari jangkauannya. “Halo, ya pak, nanti saya kesana,” menjawab orang yang menelponnya.

Pak Bupati memintanya untuk datang ke kediamannya pagi ini. Heri melihat arlojinya, pukul 08.17 WITa.

Di kediaman Bupati yang berjarak sekitar seperempat jam naik sepeda motor dari rumah Heri, disana sudah ada beberapa rekan Heri sesama jurnalis. Heri menghitung ada 6 orang rekannya.

Heri sebetulnya bingung, tidak mengerti kenapa ia dipanggil oleh pak Bupati.

“Ada apaan sih kita dipanggil kesini ?” tanya Heri berbisik ke Fahmi.

“Kamu itu tidak tahu atau pura-pura ?” Selidik Fahmi.

Heri mengurungkan niatnya untuk meneruskan pertanyaannya.

Akhirnya karena Heri tak bertanya, Fahmi balas berbisik ke Heri, “bangunan pasar kabupaten, salah satu sisi bangunannya ambruk karena diterpa hujan tadi malam.”

Heri cuma manggut-manggut mendapat bisikan Fahmi. Dalam hatinya, syukurlah ia dapat informasi sehingga ia ada bahan di pertemuan dengan Bupati ini. Padahal Heri sama sekali tak tahu persoalan kenapa sejumlah wartawan dipanggil pak Bupati. Hanya saja selama ini Heri sudah cukup dikenal sebagai seorang jurnalis yang selalu menurunkan berita-berita investigatif, membongkar kebobrokan institusi pemerintahan.

Heri membathin, inilah saatnya untuk membongkar kebobrokan pak Marhan yang pernah menceramahinya itu. “Rasain kamu Marhan,” bisik hati Heri.

Setelah sekian lama menunggu, pak Bupati muncul disertai pak Marhan, si Kepala Dinas Tata Kota dan Bangunan yang sok bersih itu.

“Adik-adik sekalian yang kami panggil kesini, kalian pasti sudah mengerti maksud kami memanggil,” pak Bupati membuka pembicaraan dengan suara kalem.

Para jurnalis hanya diam menyimak.

“Kami, saya atas nama pribadi minta tolong kepada kalian agar bersedia untuk tidak menurunkan pemberitaan terkait ambruknya salah satu sisi bangunan pasar kabupaten,” lanjut Bupati langsung ke fokus.

“Lagi pula ambruknya bangunan tersebut tadi malam tak banyak diketahui oleh publik. Dan saat ini perbaikannya sudah sedang berlangsung,” ungkap pak Bupati.

Sebetulnya Heri bermaksud menyela permintaan pak Bupati, namun ia keduluan, maka ia urungkan.

“Maaf pak Bupati, tapi ini berita menarik yang perlu diketahui oleh khalayak terkait kinerja yang tidak bagus dan tidak profesional,” protes Deny dari situs Sorot Online.

“Ya, kami mengerti masalah itu. Namun untuk kali ini kami sangat berharap bantuan adik-adik agar masalah ini tidak muncul di media manapun,” pinta pak Bupati.

“Atas kesediaan dan bantuan adik-adik sekalian, kami akan memberikan konpensasi. Dan kami berjanji hal seperti ini tak terulang lagi ke depannya. Saya kira cukup itu yang dapat saya sampaikan,” kata Bupati sambil menyuruh seorang ajudannya mengeluarkan beberapa amplop yang rupanya sudah disiapkan, kemudian diberikan ke masing-masing wartawan.

Heri menerima amplop dari pak Bupati dengan perasaan campur aduk; senang, karena ia yakin isinya cukup banyak, geram dan kesal, disebabkan pekerjaannya terhambat untuk membuktikan kebobrokan pak Marhan yang sok alim itu.

Ingin rasanya Heri menyumpah serapahi pak Marhan, bahkan andai boleh, Heri akan meludahi muka pak Marhan yang munafik itu.

“Lumayan kan isinya dari pak Bupati,” tegur Dedi, wartawan koran mingguan yang sering jalan dengannya selama ini.

Heri cuma diam seolah tak mendengar teguran temannya itu.

“Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Kita cari trik lain untuk bisa memberitakan proyek si Marhan itu,” hibur Dedi.

“Setuju, bro. Kita jangan terpengaruh oleh pemberian ini. Kita harus bongkar dugaan penyelewengan yang nilainya ratusan juta itu, yang merugikan masyarakat ini,” sahut Heri.

Beberapa minggu setelah kejadian ambruknya bangunan pasar kabupaten itu, Heri yang sudah melengkapi berbagai data dan informasi hasil investigasinya, memutuskan untuk menurunkan berita dugaan penyelewengan di Dinas Tata Kota dan Bangunan. Namun Heri ingin terlebih dulu membicarakannya dengan Dedi yang selama ini menjadi tandemnya dalam berbagai investigasi.

“Ded, aku bermaksud menurunkan berita dugaan penyelewengan proyek pembangunan pasar kabupaten itu,” cetus Heri ke Dedi.

“Nggak apa-apa, aku sih setuju dan ikut kamu aja, aku juga akan menurunkan beritanya,” sahut Dedi.

“Ya, kita tentukan saja waktunya agar beritaku dan beritamu bisa bersamaan terbit,” kata Heri.

Tadi malam Heri begadang menyusun pemberitaan terkait dugaan penyelewengan itu untuk dikirimkan ke redaksi korannya.

Keputusannya ini sudah ia pikirkan dan pertimbangan masak-masak. Dapat dipastikan setelah berita itu muncul, hubungan Heri dengan Pemkab, khususnya Bupati, menjadi tak harmonis. Dan apalagi hubungannya dengan Marhan, Kepala Dinas yang bersangkutan.

Heri sudah membayangkan akan mendapat cibiran, dianggap munafik, tidak punya komitmen, mau menerima uang tapi tetap juga memberitakan.

Akhirnya berita itu pun muncul, menjadi headline di halaman utama, dengan judul “Proyek Pasar Kabupaten Rugikan Ratusan Juta”, di koran tempat Heri bekerja. Sedangkan berita lainnya muncul di koran minggun tempat Dedi bekerja dengan judul “Dugaan Korupsi Ratusan Juta Di Proyek Pasar Kabupaten.”

Hari ini Heri menerima telpon dari Kasi Intel Kejari setempat, pak Sunaryo.

“Saya tunggu sekarang di ruang kerja saya di kantor, ajak Dedi sekalian,” ujar Sunaryo melalui telpon.

“Oke, siap pak !” Sahut Heri.

Sekitar duapuluh menit kemudian Heri dan Dedi sudah berada di ruang kerja Sunaryo.

“Saya sudah membaca berita kalian mengenai dugaan penyelewengan proyek pasar itu. Dan hal ini sudah pula saya koordinasikan dengan Kajari, beliau memerintahkan pengumpulan bahan dan keterangan. Berita dari koran kalian itu menjadi salah satu bahan kami. Dalam waktu dekat ini kami akan memanggil sejumlah saksi terkait, serta Kepala Dinas yang bersangkutan,” urai Sunaryo.

“Mampus kamu, pak Marhan,” bathin Heri.

Baik Heri maupun Dedi berharap suatu saat nanti akan menyaksikan pak Marhan tak lagi dapat mengangkat wajahnya yang sok bersih itu. Keduanya ingin sekali menyaksikan pak Marhan dijemput dan dibawa polisi dengan tangan yang diborgol.

Martapura, 29 Januari 2012.

Contributed to my soulmate, Supangat Slamet.

Iklan
By borneOrigin Posted in FIKSI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s