Andai Rakyat Palestina Bukan Mayoritas Muslim, Apakah Kita Peduli?


Beberapa hari lalu saat melewati jalan utama di kota kami, mobil yang kami tumpangi sempat tertahan beberapa saat. Karena puluhan mobil dan kendaraan bermotor lainnya di depan kami berhenti.

Saya bertanya kepada teman yang duduk disamping saya, ada apa ? Ia cuma mengira-ngira mungkin ada operasi lalulintas yang memang beberapa hari menjelang lebaran semakin sering dilakukan oleh pihak kepolisian.

Namun tampaknya dugaan teman saya salah. Begitu arus lalulintas mulai normal, saat mobil kami dapat bergerak, kami melewati puluhan orang berpakaian jubah sambil membentangkan spanduk di tepi jalan.

Seseorang bertampang Timur Tengah dengan menggebu-gebu melakukan orasi menggunakan perangkat pengeras suara, sementara itu beberapa orang mencegat kendaraan bermotor sambil membagi-bagikan brosur.

Atas permintaanku teman disamping saya mengambil brosur tersebut. Karena saya sedang menyetir mobil, ia pun juga membacakan isi brosur tersebut yang isinya adalah hujatan dan kecaman terhadap pendudukan Israel di Palestina.

Tadinya kami sempat mengira unjuk rasa yang dilakukan puluhan orang itu sebagai ekspresi tidak atau belum mendapatkan THR menjelang lebaran dari perusahaan. Karena tak sempat membaca tulisan spanduk dan mendengar bunyi orasi yang kalah oleh bunyi kendaraan bermotor.

Setelah mengetahui tujuan unjuk rasa itu, sambil menyetir pikiran saya menerawang berandai-andai; andaikan mayoritas rakyat Palestina itu tak beragama Islam, apakah orang Indonesia yang juga mayoritas beragama Islam mau peduli ? Atau andaikan sebagian besar rakyat Israel itu beragama Islam, kita membela siapa, Israel atau Palestina ?

Solidaritas sesama Muslim ?

Saya pikir inilah saatnya menjelang lebaran Idul Fitri dimana umat Muslim menunjukkah perhatian dan solidaritasnya terhadap sesama Muslim, yang kita tahu banyak yang belum beruntung di negeri ini. Mereka, Muslim yang yang belum beruntung itu, juga ingin merayakan lebaran seperti mereka yang hidupnya beruntung secara ekonomi. Saya kira perhatian dan solidaritas perlu kita tunjukkan dan diberikan kepada siapa saja yang sedang terpuruk, tapi tentu kita mulai terhadap mereka yang terdekat dengan kita, kemudian baru kepada mereka yang jauh.

Kalau saya tidak salah banyak negara yang satu rumpun dan etnis dengan bangsa Palestina, terutama negara-negara Arab yang secara ekonomi adalah kaya dan makmur, tapi perhatian mereka terhadap rakyat Palestina bukan menjadi prioritas. Bahkan para orang-orang Arab yang kaya raya (Emir) lebih memilih menggelontorkan uang mereka membeli klub-klub sepakbola di daratan Eropa ketimbang men-support saudara dekat mereka di Palestina.

Kalau kita di Indonesia bisa apa selain tahunya paling-paling mengutuk dan menghujat, selebihnya adalah perasaan tak simpatik terhadap Israel.

Kembali lagi pertanyaan dalam benak saya, andai rakyat Palestina sebagian besar itu beragama Nasrani atau Yahudi, apakah kita di Indonesia masih peduli ?

Tak terasa penerawangan benak saya sejauh itu hingga mobil yang saya setir mendekati tempat tujuan, tempat undangan buka puasa bersama dengan orang nomor satu di daerahku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s