Aku Telah Membunuh Anakku Sendiri


Nurdin tertunduk dalam dan lesu. Sedangkan istrinya, Aminah sudah beberapa kali pingsan sejak mendengar putri semata wayang mereka, Sherly mendapat kecelakaan lalulintas, hingga menyaksikan sendiri mayat yang beberapa bagian tubuhnya terpisah-pisah. Hanya penyesalan tak berujung yang menghinggapi pasangan suami istri itu.

Masih segar dalam ingatan Aminah ketika Sherly bersama seorang temannya sesama di SMP, pamit akan mengunjungi pantai yang berjarak sekitar 9 kilometer dari rumah mereka. Tiap hari minggu pantai tersebut banyak dikunjungi warga setempat yang ingin menikmati pemandangan alam, laut dan ombak. Untuk mencapai pantai yang berpasir putih itu, mesti menggunakan dan melewati jalan angkutan batubara milik sebuah perusahaan besar di bidang pertambangan. Yang namanya jalan khusus, tiap menit dilewati truk-truk bertonase besar mengangkut hasil tambang, yang tidak jarang para sopirnya ngebut mengejar waktu.

Hampir sejam yang lalu Aminah masih sempat merasakan hangatnya nafas Sherly saat mencium tangannya berpamitan dengan menggunakan sepeda motor. Sherly yang masih duduk dibangku kelas 2 SMP bersama temannya, di perjalanan menuju pantai, ditabrak sebuah truk tronton bermuatan hamper 20 metrik ton batubara yang melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Kedua siswi SMP yang masih sangat belia itu, menurut saksi mata terpental, tewas di TKP dengan anggota tubuh yang tak lagi sempurna.

Bukan masalah kronologis terjadinya kecelakaan tersebut yang membuat pasangan suami istri Nurdin dan Aminah menyesal berkepanjangan. Tapi ingatan mereka terhadap kronologis ketika anak mereka Sherly merengek minta dibelikan sebuah sepeda motor dengan alasan supaya mudah bepergian ke sekolah dan keperluan lainnya.

Nurdin yang jarang berada di rumah karena siangnya bekerja sebagai seorang operator alat berat di sebuah perusahaan bidang pertambangan, sangat keras menentang keinginan anaknya tersebut. Namun Aminah yang teramat menyayangi anak satu-satunya itu, dengan keras pula membujuk dan meyakinkan suaminya agar mengabulkan permintaan putrinya. Meskipun dengan penolakan setengah hati, Nurdin pun menuruti kemauan istrinya itu.

Pertimbangan Nurdin menolak adalah, karena putrinya itu masih dibawah umur. Lagi pula ia membayangkan seringnya terjadi kecelakaan lalulintas yang menimpa korban disebabkan belum mahirnya pengendara menggunakan alat transportasi, serta tak mematuhi aturan lalulintas. “Nanti bila kamu sudah tamat SMA baru akan ayah belikan sepeda motor,” kata Nurdin kepada putrinya yang memperlihatkan wajah cemberutnya.

Setelah meninggalnya Sherly, pasangan suami istri tersebut kini hidup berdua. Yang juga sangat mereka sesali adalah, menurut diagnosa dokter, meski kemungkinan Aminah masih bisa hamil tapi sudah tak dapat lagi melahirkan dikarenakan kondisi rahimnya yang lemah.

Ini kisah keluarga lainnya, sebut saja pasangan Hidayat dan Erni yang memiliki 3 orang anak. Anak sulung mereka yang bernama Roni sangat disayang oleh Hidayat yang berprofesi sebagai pengusaha jasa konstruksi. Apa saja yang diinginkan oleh Roni sedapat mungkin dikabulkan oleh Hidayat.

Roni yang pandai bergaul sangat disenangi oleh teman-temannya di SMA. Roni amat royal terhadap temannya, karena ia dengan mudah selalu mendapatkan uang jajan yang cukup banyak dari ayahnya. Roni tak hanya berteman dengan sesama teman sekolahnya, ia juga berteman dengan para pemuda di kampungnya yang putus sekolah dan pengangguran.

Nah, disinilah Roni yang selalu berlagak bak seorang bos kecil itu dimanfaatkan oleh teman-temannya yang putus sekolah dan pengangguran tersebut. Mula-mula Roni diajari merokok, kemudian Roni juga dikenalkan dengan obat-obatan terlarang hingga bisa menggunakannya sendiri. Awalnya Roni diajak mengisap sabu-sabu secara gratis oleh teman-temannya. Setelah sekian lama karena Roni sudah mulai ketagihan, teman-temannya itu tak lagi mau mengajaknya. “Ga ada barangnya kalo ga beli sendiri,” kata teman-temannya. Roni yang merasa memiliki uang tentu saja dengan mudahnya menyuruh temannya beli.

Sudah dapat kita bayangkan bagaimana kondisi seorang pelajar seperti Roni yang mulai ketagihan obat-obatan terlarang. Uang jajan sekolah yang diberikan oleh ayahnya tak lagi cukup. Roni pun berani menjual benda-benda berharga yang terdapat di rumah orangtuanya untuk membeli narkoba. Bahkan Roni pernah menggadaikan sepeda motor yang sering dipakai ibunya ke pasar. Begitupun sepeda motor yang dipakainya sendiri sudah berapa ia gadaikankan, namun selalu ditebus oleh ayahnya. Setiap ditanya untuk apa uang dari hasil menggadaikan sepeda motor dan menjual barang-barang rumah tangga, Roni hanya bungkam. Sayangnya Hidayat hanya focus pada pekerjaannya tanpa mencari tahu perihal anaknya itu diluar rumah, begitupun Erni sibuk dengan urusan dapurnya dan kumpulan arisan.

Roni pun sering kali tak pulang ke rumah orangtuanya untuk beberapa hari. Erni selaku ibunya sudah kewalahan menasehati Roni, namun tak pernah digubris, begitupun Hidayat pernah beberapa kali menasehati anaknya itu, tak dianggap.

Untuk membuat Roni berpikir dan jera, Hidayat memutuskan tak lagi member Roni uang jajan. Diperlakukan seperti itu Roni bukan malah kapok, ia membalasnya dengan tak lagi menggadaikan sepeda motor tapi menjualnya sekalian. “Aku sudah tak tahu gimana caranya meredam kebengalan Roni,” ungkap Hidayat kepada seorang rekan bisnisnya.

Itulah akibat terlalu menyayang dan memanjakan anak tanpa berpikir dampaknya, maka sama saja dengan membunuh diri si anak, atau membunuh masa depannya.

Ada banyak ratus, ribu, bahkan juta keluarga yang mengalami hal seperti kisah ini. Sepatutnya dijadikan sebagai acuan dalam memberi perhatian terhadap anak, dimana mereka inilah nantinya yang akan mewarisi menjaga kelangsungan sebuah bangsa. Gambaran sebuah keluarga, masyarakat, dan bangsa dapat dibayangkan dan dilihat dari kondisi, tingkah dan perilaku anak-anak. Semoga kita semua menjadi penyayang tak saja terhadap anak, tapi keluarga dan bangsa, namun tidak dengan memanjakannya secara berlebihan.

Iklan
By borneOrigin Posted in OPINI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s