Terima Kasih Google.


Aku sangat kaget ketika temanku bilang, untuk memiliki sebuah situs di internet, aku mesti mengeluarkan uang sebesar Rp. 90 juta. Itu jawaban dari seorang temanku yang kutahu ia cukup faham dan menguasai bidang IT.

 

Aku penasaran atas jawaban temanku itu. Namun karena keinginanku yang ngotot untuk memiliki sebuah situs di internet, membuatku bertanya kepada orang-orang yang kuanggap faham di bidang itu. Seorang kenalanku yang sehari-harinya sebagai programer komputer dan usaha warnet, tak luput dari pertanyaanku. Namun lagi-lagi aku dapat jawaban yang kurang lebih sama. “Untuk memiliki situs di internet, kamu mesti menyiapkan peralatan yang harganya puluhan juta rupiah,” kata kenalanku itu.

 

Aku balik lagi ke temanku pertama. Kali ini pikiranku adalah bagaimana caranya membujuk temanku itu agar bisa membantuku memiliki situs dengan biaya dan harga terjangkau kocekku. Akhirnya dengan melalui pembicaraan yang panjang disertai bujuk rayu, temanku itu bersedia membuatkan sebuah situs sesuai keinginanku berikut mendesain template-nya. Harga yang harus kubayar untuk semua itu adalah, setiap bulan aku bayar ke temanku itu sebesar Rp. 1 juta, aku sanggupi.

2 hari kemudian aku sudah bisa memasukkan tulisan dan gambar di situsku tersebut.

 

Namun meski aku sudah memiliki situs, rasa penasaranku tak juga hilang-hilang terhadap bagaimana caranya orang bisa membuat situs sendiri. “Temanku itu bisa bikin situs sendiri, pasti dia ngerti ilmunya. Aku harus menemukan ilmunya supaya bisa bikin sendiri,” begitu yang tertanam di benakku. Dan aku sambil memposting sesuatu di situs abruku itu, sambil pula aku rajin mencari berbagai petunjuk dan referensi melalui dunia maya agar dapat membuat situs sendiri. Aku melakukan pencarian di mesin pencari, yaitu google. Aku mengetik apa saja yang berhubungan dengan pembuatan situs di kolom pencarian google.

Dalam pencarianku itu aku menghabiskan beberapa hari dengan rajin mengunjungi beberapa warnet yang berada di kotaku, untungnya kotaku merupakan kota kecil, sehingga jarak beberapa warnet dengan kediamanku tak begitu jauh. Beberapa hari kuhabiskan dengan tekun duduk di depan komputer warnet, siang maupun malam, dan aku begadang untuk itu.

 

Usaha dan pencarianku tak sia-sia. Aku berhasil menemukan beberapa penyedia situs gratisan, antara lain wordpress, blogspot, multiply, dan maywapblog, kesemuanya layanan untuk blog. Aku mencoba memanfaatkan semua layanan gratis tersebut, mempelajari cara kerjanya hingga kurasa aku benar-benar mengerti. Dan akupun berhasil membuat situs pertama yang benar-benar kubuat sendiri. Penemuanku ini tak kuceritakan kepada siapapun.

Meski aku telah berhasil membuat situs sendiri, aku tetap menjaga perasaan temanku yang telah membuatkan situsku terdahulu, aku tetap membayarnya hingga 2 bulan. Dengan dalih aku tak punya waktu mengisi situsku yang dia bikinkan, maka aku pun menyatakan tak menggunakan lagi situs tersebut, dan temanku mau mengerti. Beberapa minggu kemudian situsku buatan temanku itu diblok, tak bisa lagi dikunjungi.

 

Kejadian ini kualami hampir 3 tahun lalu. Waktu itu seingatku di kota tempatku tinggal belum begitu marak orang-orang menggunakan internet. Keberadaan beberapa warnet di kotaku kebanyakan dimanfaatkan oleh banyaknya perusahaan tambang batubara untuk mengirim berbagai data ke induk perusahaan mereka, itupun fasilitas yang mereka gunakan kebanyakan untuk mengirim email.

Kini sudah menjamur banyaknya warnet setelah warga kotaku mengenal beberapa situs jejaring sosial terutama facebook.

Iklan
By borneOrigin Posted in OPINI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s