Gaduk, Miras Made In Anak Negeri.


Di daerahku, nun jauh di bagian tenggara pulau Kalimantan, sudah cukup lama terdapat trend baru di kalangan banyak remaja, terutama remaja yang putus sekolah.
Trend baru itu mereka sebut Gaduk, mungkin akronim dari Gajah Duduk, atau Gajah Diaduk. Ini istilah untuk menyebut minuman keras (Miras) yang dioplos dari cairan alkohol 80 persen atau lebih dengan air putih dan bubuk energy drink bentuk sachet.

Adapun istilah Gaduk sendiri dicomot dari gambar atau merk cairan alkohol bergambar gajah.
Miras oplosan tersebut menjadi menu minuman keseharian para remaja penjaga parkir, buruh maupun kuli bangunan, tukang beca ataupun ojek, terutama jika terdapat panggung hiburan.
Mahalnya harga Miras yang hampir-hampir tak terjangkau oleh kocek mereka, menjadikan mereka kreatif meramu minuman keras sendiri, ibarat sebuah iklan rokok terkenal, yang penting…..happy.

Untuk menikmati Gaduk biayanya cukup murah meriah, sebotol cairan alkohol berharga Rp 5 ribu, ditambah 1 sachet bubuk energy drink seharga Rp 1 ribu, plus air putih gratisan, maka terhidanglah Miras Gaduk berwarna kuning ataupun ungu.
Miras oplosan tersebut bisa dinikmati oleh lebih dari 1 orang. Adapun efek mabuknya kurang lebih setara dengan minum bir hitam 3 botol. Sedangkan dampak bahayanya, nggak usah ditanya, mereka yang minum pasti berdalih, “sama saja, Miras yang murah atau mahal sama-sama mengandung alkohol dan berbahaya.” Nah lho, padahal cairan alkohol yang mereka tenggak itu adalah larutan yang biasa dipergunakan perawat atau dokter untuk membersihkan luka, atau merendam jarum suntik. “Isi dalam perut kita akan steril dengan minum alkohol,” dalih mereka pula. Atau ada pula diantara mereka yang bilang, “anggap saja kita sedang menikmati minuman yang diramu bartender, cocktail atau long island.”

Sebenarnya mereka bukan tidak dengar atau tahu sudah berapa banyak yang mati karena Miras oplosan. Tapi memang sebuah kebiasaan, atau sekedar rame-rame itu mahal harganya, bahkan mesti mempertaruhkan nyawa sekalipun. Mereka yang minum Gaduk tersebut merasa sudah biasa. Terkadang mereka sambil berseloroh antar sesama mereka dengan teguran, “sudah berapa banyak menyembelih gajah ?”

Saya tak tahu persis apakah fenomena Gaduk ini juga terdapat di daerah lainnya. Namun saya kira para remaja di daerahku telah mencontohnya dari daerah lain, atau bisa juga ditiru dari kebiasaan remaja di luar daerah.

 

*Tulisan ini juga dapat dibaca di http://www.kompasiana.com/imizona

Iklan
By borneOrigin Posted in OPINI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s