Facebook memang luar biasa.


Pengamatan saya dalam 2 tahun terakhir, yang namanya facebook (fesbuk) sudah tak lagi asing di telinga hampir tiap orang. Ini baru di kampung saya, nun jauh di pelosok bagian tenggara pulau kalimantan, apalagi di daerah yang berdekatan dengan kota pusat perdagangan dan industri.

Fesbuk menduduki urutan teratas dari beberapa situs jejaring sosial sejenis seperti, twitter, friendster, myspace, netlog, koprol, maupun yang baru-baru ini diklaim sebagai karya seorang bocah Indonesia, salingsapa.
Fesbuk memang luar biasa, tapi ini juga di kampung saya, entah di tempat anda.

Seseorang yang sedang tampak asyik dan tekun memencet keypad ponsel, di kampung saya hampir selalu dikira sedang online di fesbuk. Orang-orang di kampung saya tahunya selalu fesbuk, sedikit yang tahu dan mengerti yang lain seperti twitter.
Baru-baru tadi seorang kenalan saya, yang berpendidikan sarjana S-1, punya kedudukan bagus sebagai seorang PNS di Bagian Keuangan Pemkab, tanya saya bagaimana menggunakan twitter. Meski saya sudah berusaha semampu saya menerangkan, kenalan saya itu akhirnya bilang, “susah ! Enak pake fesbuk.”

Revolusi di bidang IT memang sungguh luar biasa, merambah hingga sampai di ruang masak para ibu rumah tangga. Tak jarang seorang ibu rumah tangga yang sedang menunggu masakannya matang sambil online di fesbuk, atau seorang istri yang sedang menantikan suami pulang makan siang maupun pulang kerja.
Memang untuk sebuah kesenangan seperti ini mesti dibayar dengan harga yang lumayan mahal. Tak masalah, banyak produsen maupun vendor ponsel yang berlomba memproduksi ponsel canggih dengan banyak aplikasi, termasuk aplikasi fesbuk, twitter, dan sejenisnya, dan dengan harga yang terjangkau kocek golongan ekonomi kelas menengah ke bawah.

Kemudahan untuk berselancar di dunia maya (saya menyebutnya alam gaib) pun didukung oleh penyedia jaringan atau operator telpon seluler nirkabel. Klop sudah, semakin tambah mudah, meski seseorang sedang berada saling cukup berjauhan (remote area), tetap bisa saling kontak seolah sedang saling berhadapan atau bersisian.
Soal dampak berbagai kemajuan di bidang IT ini, dampak negatifnya tak perlu lagi saya jelaskan, semua juga sering mendengar pemberitaan media.

Kembali ke topik fesbuk, anak saya nomer 2 yang masih duduk di kelas 5, pun sudah tahu apa itu fesbuk. Makanya keinginannya untuk minta belikan ponsel tipe mid end selalu saya tolak. Dan saya sudah jauh-jauh hari memberi pengaman terhadap perangkat PC dan notebook dengan password masuk, juga selalu membawa modem seluler bila sedang keluar rumah. Karena pernah suatu hari istri saya bilang, anak saya sudah bisa membuka PC saat saya tak sedang berada di rumah.

Bila dulu kita sering bingung jika sedang menunggu seseorang atau sesuatu di suatu tempat yang ramai, yang membuat kikuk seolah diperhatikan orang lain, kini bisa cuek dengan asyik online di situs jejaring sosial, tentunya pakai fesbuk. Atau bila mata susah terpejam sedangkan istri sudah ngorok, kita bisa fesbukan dulu sampai tertidur, atau malah kita dan istri sama-sama sibuk berfesbuk ria sebelum tidur, hahaha…….

(Tulisan ini sebelumnya juga diposting di Kompasiana)

Iklan
By borneOrigin Posted in OPINI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s