SANG ARIF BIJAKSANA.


Ada seorang bapak yang tak memiliki isteri, memiliki 3 orang anak lelaki, masing-masing Si Sulung, Si Tengah, dan Si Bungsu. Bapak itu sangat arif dan bijaksana. Bapak itu konon memiliki suatu ilmu yang amat mumpuni, yaitu ilmu yang dapat membuat seseorang selamat dan sejahtera di dunia sampai ke akhirat. Bapak itu berencana akan mewariskan ilmunya itu kepada salah seorang dari anak-anaknya.

Namun apa yang terjadi kemudian, bapak yang sangat arif dan bijaksana itu meninggal tanpa sempat mewariskan ilmunya kepada salah seorang anaknya.
Sepeninggal bapak mereka, ke-3 anaknya saling curiga mencurigai ; Si Sulung curiga bapaknya telah mewariskan ilmu kepada salah seorang diantara ke-2 adiknya. Si Tengah mencurigai bapaknya telah mewariskan ilmunya kepada Si Sulung dan Si Bungsu, begitupun Si Bungsu mencurigai bapaknya telah mewariskan ilmunya kepada kakak-kakaknya.
Ke-3 anak itupun terus saling mencurigai tanpa pernah saling tanya dan terbuka satu sama lain hingga mereka semua meninggal.

Di kemudian hari para murid dan pengikut masing-masing ke-3 anak bapak yang sangat arif dan bijaksana itu, mengklaim bahwa ilmu itu telah diwariskan kepada salah seorang diantaranya.
Pengikut si Sulung mengklaim guru mereka lah yang telah mendapat warisan. Sedangkan murid dan pengikut Si Tengah juga mengklaim guru mereka yang sebenarnya menerima warisan ilmu itu. Begitupu dengan murid dan pengikut Si Bungsu, mereka berpendapat anak bungsu paling disayang oleh bapaknya, sehingga Si Bungsu lah yang memperoleh warisan itu.

Baik murid maupun pengikut dari ke-3 putera bapak arif bijaksana itupun saling berselisih dikarenakan merasa paling benar. Mereka bahkan menghujat, dan tak jarang berperang untuk mempertahankan klaim pembenaran yang mereka sendiri tak pernah mengetahui hal sebenarnya. Dan klaim merasa paling benar ini pun terus berlangsung dari generasi ke generasi berikutnya hingga dunia ini berakhir.

Catatan ringan ini sebenarnya cuma mengadaptasi dari cerita sebuah buku berjudul “The Wiser” atau Si Bijaksana, ditulis oleh seorang pengarang “Barat” yang saya tak ingat namanya, namun ceritanya terus membekas dalam ingatan saya. Cerita itu menggambarkan tentang 3 agama besar yang mendapat petunjuk Ilahiyah melalui para Utusan ; 3 agama Samawi (Ibrahimik), dimana ketiganya mengklaim satu sama lain yang paling benar.
Si Sulung, Si Tengah, dan Si Bungsu menggambarkan masing-masing agama ; Yahudi, Nasrani, dan Islam.

Setelah anda membaca catatan ini, saya harap tak perlu mendebat, mempersoalkan, apalagi balik menghujat saya sebagai antek “Barat”. Catatan ini cuma sekedar bahan renungan agar kita lebih mementingkan perbuatan sesuai tuntunan agama yang kita anut masing-masing, bukan malah saling merasa paling benar, sehingga waktu kita terkuras hanya untuk mencari pembenaran. Akhirnya saya sampaikan, lakum dinukum waliyadien.

Iklan
By borneOrigin Posted in GENERAL

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s