PASSWORD : KENAL


Pernah seorang teman menanyaiku siapa calon Gubernur yang bakal dipilih. Pertanyaan ini terkait dengan semakin dekatnya pemilihan Gubernur di propinsi dimana aku menjadi salah seorang warganya.

Jawabanku simpel saja,” aku akan pilih calon yang aku kenal,bukan yang aku tahu.”
Temanku agak sedikit bingung dengan jawabanku,” apa bedanya ?” tanyanya.
“Jelas beda. Orang yang kita kenal, berarti kita tak cuma tahu namanya, tapi kita juga bergaul dengannya ; bicara, mudah ditemui, dan tentunya saling mengenal,” jawabku.

Sedangkan kata “tahu”, ini phrase umum untuk menyebut ungkapan sepihak saja. Kita tahu Barrack Obama adalah Presiden USA, Susilo Bambang Yudhoyono itu Presiden kita, Ian Kasela sebagai vokalis Raja Band, serta banyak tahu para selebritis, namun kita belum tentu mengenalnya.
Dan saya katakan kepada teman saya itu, kenapa memilih orang yang kita cuma tahu tapi kita tak mengenalnya (?) Bukankah akan lebih memilih orang yang kita kenal ?

Ini argumentasi saya saja, karena memang itu adalah hak prerogatif saya untuk memilih calon Gubernur yang saya suka. Dan perasaan suka menurut mata saya (pandangan langsung tanpa kacamata), adalah seseorang mesti ketemu, bicara, & berinteraksi, bukan asal sering dengar nama sohor saja.

Bukankah orang yang tidak kenal itu sudah berbuat perubahan dan sebagainya, yang telah & sedang dirasakan semua orang ?
Ini pertanyaan apologis yang sah-sah saja terlontar. Tapi pertanyaan berikutnya, bukankah tiap orang yang memiliki kapabilitas secara legitimatif, juga punya kans yang sama untuk berbuat, asalkan diberi kesempatan ?

Masalahnya saya pikir, para pemimpin yang terlanjur menduduki posisinya cenderung ingin mempertahankan eksistensinya hingga batas waktu dimana ia sudah harus benar-benar lengser. Mungkin sangat jarang ada seorang elit pemimpin yang sadar bahwa ia mesti menyerahkan guliran kepada orang lain.
Faktor yang mendorong seseorang cenderung seperti itu antara lain prestasi & prestise. Setelah memperoleh pengakuan memiliki prestasi, kemudian muncul perasaan prestise yang menapak ke jenjang atas. Seorang Bupati yang dianggap memiliki prestasi didorong untuk menjadi Gubernur, kemudian posisi puncak berikutnya. Ini natural law, sunnatullah, manusia selalu merasa tidak pernah puas dengan apa yang ia capai & miliki.

Kembali ke soal pilihan calon Gubernur, saya pasti akan memilih calon yang sudah saya kenal. Makanya ada phrase yang berbunyi “tak kenal maka tak sayang”, jadi memang mesti “kenal” untuk password memilih seseorang.

Iklan
By borneOrigin Posted in OPINI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s