KOMODITAS POLITIK SESAAT.


Kira-kira 2 dekade lalu kalimat “Mohon Do’a Restu” atau sering diplesetkan menjadi “Mohon Dua Ratus”, hanya akan ditemui di dinding rumah mempelai.
Kini, kalimat tersebut tampak bertebaran dimana-mana dengan kegunaan yang berbeda, untuk minta dukungan politik ; jadi wakil rakyat, maupun kepala daerah.

Pergeseran penggunaan, atau pemanfaatan istilah, tak tahulah aku. Tahunya aku dulu sempat menggunakan kalimat tersebut saat duduk menjadi mempelai bersama mantan pacar.
Membaca baliho maupun spanduk, stiker yang “Mohon Do’a Restu” itu, aku jadi berasumsi sendiri ; kenapa tak menggunakan kalimat yang tegas, misalnya “Pilih saya sebagai Kades, Bupati, Gubernur, Presiden, atau anggota DPR/DPRD”, kenapa mesti tersamar dibalik kalimat yang juga sering dipakai oleh para calon jemaah haji itu (?)

Orang kita (Indonesia) memang suka menggunakan istilah atau ungkapan yang kurang tegas, berbelit, mbulet, dan samar-samar. Padahal maksudnya ini, bicaranya kemana-mana ; tujuannya ke utara, ambil jalannya ke barat dan ke timur, ribet istilah bahasa slengeannya.

Bicara soal urusan politik, aku tentu bukan ahlinya, pengamat politik pun bukan. Namun sebagai seorang warga negara, tentu paling tidak ikut peduli dengan perbaikan dan pencerahan politik bagi masyarakat yang menurutku selama sekian dekade cuma menjadi alat komoditi oleh para praktisi politik. Yang lebih parah lagi rakyat atau masyarakat ditipu secara halus, samar-samar, bahkan kasar. Iming-iming, janji semanis madu, atau money politik berkedok pemberian sebagai take for granted, namun menelikung di belakang, celakanya tak menjadikan rakyat sadar telah ditipu, bahkan seperti orang tobat makan sambal.

Dengan uang pemberian (politik uang), rakyat senang tanpa memikirkan bahwa pemilik uang yang mereka terima itu telah membeli hak suara untuk sebuah status politik selama 5 tahun, bukan 5 jam, 5 hari, atau 5 minggu. Dengan pemberian uang, kebanyakan rakyat yang telah menjadi pemilih busuk, dibutakan mata dan nuraninya tanpa mau mengetahui sejauh mana kredibiltas dan kapabilitas seorang yang akan minta dukung dan pilih.

Kupikir jika seseorang yang ingin minta dukung dan pilih untuk menjadi seorang Kades, tanpa pernah satu hari pun menjabat sebagai Ketua RT, apakah ia layak ? Apalagi untuk menjadi seorang Bupati, Gubernur, Presiden.
Entahlah, aku belum pernah menjadi seorang pemimpin walau sekejap pun terkecuali jadi pemimpin bagi isteri dan anak-anakku.

Kupikir lagi jadi seorang Ketua RT yang memimpin dan mengatur ratusan warga saja, kubayangkan sangat sulit bila tak punya ilmu kepemimpinan. Yang dipimpin itu merupakan sekumpulan manusia dengan berbagai karakter dan kepentingan serta permasalahan, kompleks, bukan seperti seorang gembala yang cukup membawa ternaknya ke padang rumput, lalu meninggalkannya.

Tapi itulah realitas yang sedang kita lihat, alami dan berlangsung di depan kita. Seseorang yang dengan sejumlah uang dan kekayaannya, meski mungkin dalam hati nuraninya sendiri ia tahu bahwa tak punya kredibiltas dan kapabilitas memimpin, namun demi prestise, berani gambling mengucurkan dana sekian banyak membeli hak suara ; serangan di waktu fajar, siang, dan malam.
Nurani kita lah yang mesti kita perangi untuk mengalahkan keinginan politik yang bertentangan dengan norma-norma dan kaidah yang benar. Jangan menambah parah kondisi yang sudah berlangsung sekian lama, dijadikan objek penderita, komoditi politik sesaat, dan ditipu.

Catatan ringan ini aku tulis untuk menyongsong Pemilukada di Tanah Bumbu. Jangan memilih Cabub-Cawabup yang cuma mengandalkan uang banyak, ikut mencatut nama besar orangtua, tapi dukung dan pilih yang benar-benar diketahui memiliki ilmu kepemimpinan. Jika salah memilih Kepala Daerah yang di kemudian hari ternyata tidak berkualitas, maka disitulah kita akan sadar bahwasanya beberapa lembar uang seratus ribuan yang pernah kita terima dulu tak sanggup menafkahi untuk waktu 5 tahun.

Iklan
By borneOrigin Posted in ANEHDOT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s