ASAL USUL.


Semasa Mendiang Ibuku hidup, tak jarang aku dan ibuku berbicara dalam bahasa Bugis. Seingatku Mendiang Ibu dan Mendiang Nenekku sering berbicara dalam bahasa yang aku tak mengerti, yaitu bahasa Mandar. Adapun aku dan saudaraku sehari-hari bicara dalam bahasa “urang banua”, bahasa Banjar. Begitupun Bapakku, beliau sehari-hari berbicara dalam bahasa urang banua. Padahal pernah aku memergoki Bapakku sedang bercakap dalam bahasa Pasir, juga mengerti bahasa suku Bajau.

Keluarga kami memang termasuk keluarga unik, bicara dalam beberapa bahasa etnis. Akibatnya aku sendiri bingung tentang asal usul kami, karena kedua orangtua maupun nenek kakekku tak pernah menceritakan tentang asal usul keluarga kami. Jadinya kami selalu tak akan bisa menjawab jika ditanya tentang asal usul tersebut, dan kami pun tak mau ambil pusing harus mencari dan menelusuri tentang hal-hal yang tersebut, yang jelas kami mendiami salah satu wilayah yang termasuk Negara R.I, dan keluarga kami merupakan salah satu dari sekian ratus juta keluarga WNI yang bukan berasal dari proses naturalisasi kewarga negaraan.

Seingatku, aku sendiri memakai bahasa pergaulan bahasa “urang banua” ketika pindah SD ke sebuah kota kabupaten, kala itu aku duduk di kelas 3 SD. Dengan tertatih-tatih aku belajar kembali bahasa yang sudah lama aku dengar kosa katanya setiap hari itu namun sedikit yang dapat kupahami.
Prinsip keluarga kami yang tak mengenal asal usul ini adalah “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.” Phrase ini amat dalam maknanya bagi saya pribadi. Pengertian saya, dimanapun berada berarti merupakan bagian dari tempat berada yang tak terpisahkan oleh hal-hal lain dapat membuat perpecahan.
Terkadang dalam hatiku aku merasa terlalu angkuh dengan mengaku “I’m the real Indonesian”, akulah orang Indonesia Asli tanpa embel-embel kesukuan. Itu perasaanku saja, tak perlu diperdebatkan apalagi dipermasalahkan, biarkan aku berandai-andai dengan rasa nasionalismeku terhadap bangsa yang masih terus berkutat pada kubangan etnis, suku, ras dan agama ini.

Beberapa teman dan rekanku yang pola pikirnya agak sependapat denganku mengatakan, kebersamaan dalam perbedaan itu akan terasa indah jika dikelola dengan benar. Ah, terlampau sulit memang mewujudkan sebuah phrase (ungkapan) yang terlampau tinggi dan muluk itu. Tapi tidakkah kita ingat dan lihat warna pelangi di kala hujan gerimis, siapapun selalu berpendapat warna warni pelangi itu indah (?) Dan menurut pengetahuan yang kubaca, warna warni pelangi itu merupakan spektrum warna yang berasal dari satu warna yang sama ; keberagaman menjadi satu, satu namun dapat menjadi beragam ; bhineka tunggal ika, tanhana dharma mangrua.

Yang paling sulit kupikir adalah merubah dan membangun pola pikir ketimbang membangun ekonomi untuk kesejahteraan. Kita boleh jadi kini berada di era modernisasi di berbagai aspek kehidupan, namun tak menutup kemungkinan pola pikir kita kebanyakan masih belum beranjak dari pola pikir primitif, nomaden, primordialis, feodalistik, dan aristokratif.
Ah, lagi-lagi aku bicara masalah pola pikir, sepertinya aku ini ilmuwan yang ilmunya sudah mumpuni, padahal aku cuma tinggal di pelosok Indonesia yang sulit ditemukan di peta, hehehe.

Sudahlah, catatan nyeleneh ini tak perlu dimasukkan ke hati. Ini cuma bisa-bisanya aku saja yang merasa berbeda dengan kebanyakan orang di lingkungan tempatku tinggal.
Kembali ke perihal asal usul, seorang teman Facebooker yang kutahu beliau seorang yang cukup terkenal di wilayah ini menyebut, kita ini berasal dari daratan Yunan, yang diperkirakan kini lokasinya berada di sekitar wilayah Indochina (Khmer, Vietnam dan Kamboja/Myanmar). Setuju, sesuai dengan catatan sejarah yang paling banyak diketahui, nenek moyang kita berasal dari Yunan dengan menggunakan perahu bercadik mencapai suatu gugusan pulau yang di kemudian hari bernama Nusantara.
Jika memang benar begitu, bukankah berarti kita semua ini, terdiri dari berbagai etnis, merupakan satu keturunan dari satu sumber yang sama (?) Yang jelas begitu, singkatnya adalah masih keturunan Adam dan Eva (Hawa), hehehe. Terlalu jauh memang bila langsung ke “Adam Bapak segenap manusia bumi” itu.
Kita baiknya bicara tentang asal usul yang mendiami Nusantara ini saja, tak perlu melebar terlampau jauh, nanti malah bingung sendiri, hehehe. Sampai hari ini saya juga belum ketemu silsilah orang Indonesia itu dari garis keturunan mana hingga sampai ke Adam, ke Ibrahim saja saya belum ketemu silsilahnya. Yang jelas asal usul kita tidak seperti yang dimaksud Charles Darwin, mungkin juga bukan dari hasil evolusi Phytecantropus Erectus, Homo Wajakensis, atau Homo Soloensis, karena semua itu teori yang meskipun diilmiahkan jauh berbeda dengan kenyataan.

Akhirnya saya pikir, tentang asal usul ini sudah final ; kita berasal dari tempat dan sumber yang sama, kembali kepada catatan sejarah pertama kali nenek moyang bangsa Indonesia ini eksodus ke Nusantara. Merdeka, jagalah keutuhan dan persatuan negeri dibawah panji NKRI !

Iklan
By borneOrigin Posted in OPINI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s