Catatan Belum Ada Judul.


Matahari hampir berada tepat di atas kepala, panasnya menyengat, angin kemarau menambah gerah. Mat Garang baru saja terjaga dari tidur, kepalanya masih terasa pening. Malam tadi Mat Garang bersama komplotan preman pasar menghabiskan 6 botol minuman keras merk topi koboy.

Mat Garang beranjak dari tempat tidurnya, kasur tipis kusam berlapis sprei dari spanduk sebuah merk rokok terkenal. Mat Garang melangkah ke balik bilik mencari air & membasuh mukanya. Tinah, wanita berumur 20 tahunan yang menjadi teman hidupnya, tak tampak sosoknya. Mat Garang dan Tinah hidup serumah sejak 5 bulan lalu tanpa ikatan kecuali saling sayang, senasib & saling membutuhkan.

Mat Garang ke Kota Barujadi sejak sekitar 2 tahun lalu, kota yang sedang marak membuka industri pertambangan batubara. Pendidikan Mat Garang yang tak lulus SD & tanpa keahlian, menjadikannya melakukan pekerjaan apa saja asal dapat hasil. Postur Mat Garang yang lumayan besar & kekar memungkinkannya bekerja menggunakan otot ketimbang akalnya. Sedangkan Tinah, wanita muda ini mantan penghuni lokasi pelacuran yang mencoba praktik bebas alias freelance. Ibarat pepatah ‘witing tresno jalaran soko kulino’, Mat Garang & Tinah pun sepakat kumpul bareng.

Pekerjaan Mat Garang yang rutin dilakoninya tiap hari adalah menarik ongkos parkir kendaraan bermotor dari pengunjung Pasar Induk. Selain itu bersama beberapa teman komplotannya, menarik uang keamanan dari warung-warung kopi, kios, & beberapa toko. Adapun Tinah melakoni profesinya sebagai pelacur panggilan yang praktik di tempat-tempat penginapan. Mat Garang juga bertindak sebagai perantara bagi para hidung belang yang sedang kesepian, pun selaku manajer Tinah (keren kan, hehehe).

Mat Garang menghubungi seseorang melalui ponselnya, “Din, gimana suasana di parkiran kamu ?” tanya Mat Garang kepada Udin Botol yang menjaga tempat parkir di halaman Bank Danawarga.
“Lumayan, bos ! Sudah dapet hampir Rp. 30 ribu,” sahut Udin.
“Sip, sebentar aku kesana,” singkat Mat Garang.
Kemudian ia menelpon Tinah, “Say, kamu lagi dimana ?” tanya Mat Garang.
“Aku sedang di Hotel Simpatik, melayani awak kapal penarik tongkang batubara,” balas Tinah.
“Oke, teruskan, aku mau ke parkiran,” kata Mat Garang.

Mat Garang keluar dari rumah kontrakannya, berjalan kaki menuju lokasi Pasar Induk yang berjarak setengah batang rokok dari tempat tinggalnya. Ia mengecek keadaan parkiran di sekitar pasar tersebut, sekalian mencari sarapan yang sekaligus makan siangnya.
Hari ini ditutup oleh penghasilan yang lumayan dari Mat Garang & Tinah.

Semburat cahaya jingga kemerahan mulai surut dari ufuk barat, panggilan Ilahi terdengar dari sebuah surau yang tak seberapa jauh dari kumpulan warung kopi yang cuma buka dari petang hingga subuh. Mat Garang sedang duduk menghadapi minuman kesukaannya soda gembira sambil menanti kedatangan Tinah. Sedari keluar siang tadi mereka belum pulang ke rumah. Tinah pun datang diantar ojek, Mat Garang membayar minumannya, mereka pun beranjak jalan kaki menuju rumah. Tinah yang hitam manis berambut sebahu itu menggelayut manja di lengan Mat Garang.

Sesampai di rumah masing-masing mengeluarkan perolehan hasil kerjanya hari ini, terkumpul semua hampir Rp. 400 ribu. “Say, aku simpan Rp. 50 ribu untuk beli bedak,” kata Tinah.
“Ambillah, sisanya kita beli sepaket, kita pake berdua, ya say,” ujar Mat Garang. Tinah mengambil selembar uang sambil mengangguk.

Mat Garang & Tinah sudah terbiasa memakai psikotropika. Penghasilan mereka setiap hari selain buat beli miras, juga untuk psikotropika. Kepercayaan diri Mat Garang terasa kurang tanpa barang-barang laknat itu, begitupun Tinah. Urusan perut tak begitu mereka kuatirkan. Di rumah mereka tak ada tempat masak, beli nasi bungkusan & air kemasan. Rumah bagi keduanya cuma untuk berteduh, melepas penat & kerinduan, serta hasrat libido. Mereka sudah akrab dengan pola hidup demikian yang akan dijalani entah sampai kapan hingga malaikat kebaikan datang membimbing mereka, atau iblis durjana semakin menjerumuskan mereka.
Kehidupan terus berlangsung, namun hidup akan tiba pada ambang batas yang telah ditentukan. Mereka, kita semua hanyalah laksana boneka mainan di panggung akbar kehidupan, berimprovisasi, namun akhirnya mesti tunduk kepada skenario yang ditetapkan oleh Sang Maestro Tunggal.

(Jangan tersinggung bila catatan singkat ini mirip dengan kondisi & perjalanan hidup anda, ini cuma rekaan, kemungkinan nyata atau fiksi adalah berbanding 50 : 50)

Iklan
By borneOrigin Posted in FIKSI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s