PENCITRAAN DIRI.


Dalam Pilkapung (Pemilihan Kepala Kampung) beberapa bulan yang lalu, Gurdan putra Badra yang ikut bertarung akhirnya menang dengan perolehan suara telak.
Para pendukung dan tim sukses Gurdan pun berpesta ria ; selamatan, bakar ikan, menggoreng ayam, makan-makan sambil dihibur para artis top kecamatan, dan artis kampung dadakan. Meriah dan riuh rendah, begitulah suasana di rumah Sang Kepala Kampung Baru.

Beberapa hari pasca kemenangannya, Gurdan yang belum dilantik secara resmi oleh Dewan Perwakilan Kampung, sudah bikin ancang-ancang dengan para penasehat politik dan orang-orang dekatnya. Gurdan berencana tidak akan masuk kantor pasca pelantikannya sebelum seluruh aparat pemerintahan kampung dibersihkan dari unsur-unsur yang pro terhadap figur Kepala Kampung terdahulu. Bahkan Gurdan berani mengundang para pakar pemerintahan kampung dari luar untuk menata pemerintahannya.

Tibalah Gurdan yang sudah dilantik itu mulai masuk kantor. Ia tak mau menggunakan sepeda motor dinas inventaris, ia memilih naik mobil pribadinya, mobil yang lumayan mewah. Hari-hari awal mulai memerintah kampung, Gurdan berkeliling kantor, memeriksa berbagai fasilitas kerja berikut aparatnya. Gurdan pun berkeliling kampung memeriksa seluruh pejabat kampung yang berada di bawahnya ; Kepala Rukun Jiran, dan Kepala Rukun Warga.
Gurdan yang cuma seorang anak Ketua Rukun Jiran, hanya berpendidikan tamat SMA, belum mengerti tata cara administrasi perkantoran. Ia pun didampingi para staf ahli yang selalu berada di dekatnya, dan ikut kemanapun Gurdan pergi.

Suatu hari Gurdan marah besar. Seorang Kepala Rukun Jiran kena dampratnya karena diketahuinya berurusan tak menghadapnya, tapi melalui Sekretaris Kampung. “Kamu sudah tidak menghargai aku selaku Kepala Kampung. Mestinya tiap urusan menghadap dan melalui aku. Lain kali bila sampai hal seperti itu terjadi, aku akan pecat kamu !” suara Gurdan terdengar lantang mengagetkan para aparat pemerintahan kampung yang sedang bekerja. “Maaf pak, saya sudah bekerja sesuai petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis tata cara pemerintahan kampung, yaitu yang menjadi tupoksinya Sekretaris Kampung selaku pengelola dapurnya pemerintahan kampung,” tangkis si Kepala Rukun Jiran membela diri.
Gurdan terdiam menahan geram, namun dalam hati ia berpikir apakah bawahannya yang salah, atau ia yang belum mengerti aturan.

Gurdan, Sang Kepala kampung, ia tadinya berpikir betapa enak dapat memerintah orang lain ; menggunakan pendapat sendiri, menepis dan menyepelekan buah pemikiran dan karya orang lain. Ia berwacana akan membangun kampungnya agar sejajar dengan kampung lainnya yang sudah maju. Namun dulunya tak sempat terlintas di benaknya akan betapa membangun sebuah komunitas yang lebih besar daripada lingkungan keluarganya tidaklah semudah ia menjanjikan bayangan-bayangan yang muluk. Membangun dari beberapa individu, kemudian sebuah komunitas besar, sehingga menjadi sebuah peradaban yang maju, bukan pekerjaan ringan dan gampang, lebih rumit dari memecahkan soal matematika, atau mengurai rumus kimia.

Kini Gurdan sudah mulai gelisah setelah beberapa bulan menjabat sebagai Kepala Kampung. Banyak infrastruktur di kampungnya yang sudah mulai aus dan rusak ; jalan, jembatan, sekolah, dan lainnya, dan…..sialnya uang di kas kantornya tak seberapa jumlahnya.
Warga kampung pun mulai bisik-bisik di belakang. Ada yang berpendapat pemerintahan Gurdan hanya membangun pencitraan figur. Ada pula yang mengatakan Gurdan tidak lebih baik daripada mantan Kepala Kampung sebelumnya. “Gurdan hanya karena banyak duit dari keberaniannya meminjam milik orang agar bisa menang Pilkapung,” kata seorang tokoh kampung.
“Andai Gurdan nantinya bisa setara dengan Mantan Kepala kampung, sudah bagus. Bila dapat melebihi Mantan Kepala Kampung, maka ia adalah Kepala Kampung yang luar biasa hebat,” ungkap seorang anggota Badan Perwakilan Kampung membandingkan Gurdan dengan Mantan Kepala Kampung yang meski terlihat hasil pembangunannya namun juga banyak dicela.
Para aparat pemerintahan kampung pun ada pula yang mengeluh. Diantara mereka ada yang honornya belum dibayar beberapa bulan. Ini dampak dari kebijakan Gurdan yang tak membolehkan lagi aparat kampung memungut uang portal dari kegiatan penambangan. Padahal uang pungutan portal tersebut dalam setahunnya dapat digunakan membangun beberapa ruas jalan dan memperbaiki fasilitas kampung lainnya.
Gurdan berpendapat pungutan itu tak berdasar, melanggar aturan, dan pungutan liar. Ia berwacana akan memaksimalkan potensi kampungnya yang selama ini tak tergarap oleh pendahulunya. Namun lagi-lagi wacananya tersebut hanya menarik dan muluk diatas kertas, pelaksanaannya di lapangan teramat sulit, karena sumber daya warga kampung belum mendukung ke arah sana. Warga hanya tahunya bekerja untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari, urusan pemerintahan dan sebagainya warga tak perduli. “Yang penting kita semua aman berusaha, kampung juga aman, urusan pemerintahan serahkan saja kepada yang berhak,” ujar kebanyakan warga.
Nah lho, ayo Gurdan ! Tunjukkan kepada wargamu, kau bisa tidak sekedar bicara, tapi juga bekerja. (Mohon maaf bila karakter dalam catatan ini ada kesamaan dengan seseorang, ini hanya rekaan, kesamaan karakter, nama, dan lainnya hanya bersifat insidentil)


Iklan
By borneOrigin Posted in OPINI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s