REQUIEM AETERNAM DEO, ISTIRAHAT KEKAL BAGI TUHAN, TUHAN TELAH MATI !


Ungkapan “Requiem aeternam” diucapkan untuk menghormati & mendo’akan orang yg telah mati, yg kira-kira artinya : semoga engkau beristirahat dalam kedamaian abadi. Nietzsche mengganti ungkapan itu menjadi “requiem aeternam deo”, ini lalu berarti “semoga Tuhan beristirahat dalam kedamaian abadi”, ungkapan ini termasyur dalam sebuah aforisme Nietzsche, dimana ia berseru : “Tuhan sudah mati ! Kita telah membunuhnya”.

Ucapan Nietzsche yg terkenal itu dapat ditemukan dalam buku yg ditulisnya di Genoa (1880) berjudul “Die Frohliche Wissenschaft”. Dengan gaya bahasa yg indah & penuh metafora ia memaklumkan bahwa Tuhan sudah dibunuh & secara beramai-ramai sudah dikuburkan. Rumusan yg ditemukan dalam aforisme yg berjudul “Orang Gila” (Der Tolle Mensch, The Madman) itu masih akan diulang-ulang dalam karya Nietzshe sesudahnya.

“Tidakkah kau dengar orang gila yg menyalakan pelita di pagi yg cerah. Dia berlari menuju alun-alun kota & tak henti-hentinya berteriak : ‘Aku mencari Tuhan ! Aku mencari Tuhan !’ Ketika banyak orang yg tidak percaya pada Tuhan, datang mengerumuninya, orang gila itu mengundang banyak gelak tawa. ‘Apakah dia ini orang yg hilang ?’, tanya seseorang. Apakah dia tersesat seperti anak kecil ? Apakah ia baru saja mengadakan pelayaran ? Apakah dia seorang perantau ? Demikianlah mereka saling bertanya sinis & tertawa.

Orang gila itu melompat & menyusup ke tengah-tengah kerumunan & menatap mereka dengan pandangan yg tajam. ‘Mana Tuhan ?’, serunya. ‘Aku hendak berkata kepada kalian. Kita telah membunuh Tuhan — kalian & aku. Kita semua adalah pembunuhnya. Bagaimana mungkin kita telah melakukan perbuatan semacam ini ? Bagaimana mungkin kita meminum habis lautan ? Siaoakah yg memberikan penghapus kepada kita untuk menlenyapkan cakrawala ? Apa yg kita lakukan jikalau kita melepaskan bumi ini dari mataharinya ? Lalu kemana bumi ini akan bergerak ? Kemana kita bergerak ? Menjauhi seluruh matahari ? Tidakkah kita jatuh terus menerus ? Ke belakang, jke samping, ke depan, dan ke semua arah ? Masih adakah atas & bawah ? Tidakkah kita berkeliaran melewati ketiadaan yg tak terbatas ? Tidakkah kita merasa menghirup ruangan yg kosong ? Bukankah hari sudah menjadi semakin dingin ? Tidakkah malam terus menerus semakin meliputi kita ? Tidakkah kita mendengar kebisingan para penggali liang kubur yg sudah memakamkan Tuhan ? Tidakkah kita mencium bau busuk Tuhan ? Ya, para tuhan juga membusuk ! Tuhan telah mati ! Tuhan tetap mati ! Dan kita telah membunuhnya ! Bagaimana kita –pembunuh para pembunuh– merasa terhibur ? Dia yg mahakudus & mahakuasa yg dimiliki dunia ini telah mati kehabisan darah karena pisau-pisau kita — siapakah yg hendak menghapus darah ini dari kita ? Dengan air apakah kita dapat membersihkan diri kita ? Perayaan tobat apa, pertunjukan kudus apa yg harus kita adakan ? Bukankah kedahsyatan tindakan ini terlalu dahsyat bagi kita ? Tidakkah kita harus menjadikan diri kita sendiri sebagai Tuhan supaya tindakan itu menjadi bernilai ? Belum pernah ada perbuatan yg lebih besar, dan siapa saja yg lahir setelah kita –demi tindakan ini– akan termasuk kedalam sejarah yg lebih besar daripada seluruh sejarah sampai sekarang ini !

Sampai disini orang gila itu lalu diam & kembali memandang para pendengarnya ; & mereka pun diam & dengan keheranan memelototinya. Akhirnya orang gila membuang pelitanya ke tanah & pelita itu hancur, kemudian padam. ‘Aku datang terlalu awal’, katanya kemudian. ‘Waktuku belum tiba. Peristiwa yg dahsyat ini masih terus berjalan, masih terus berkeliaran & belum sampai pada telinga orang-orang. Kilat & guntur memerlukan waktu, cahaya bintang-bintang memerlukan waktu, tindakan, meskipun sudah dilakukan, masih memerlukan waktu untuk dapat dilihat & didengar. Tindakan ini masih lebih jauh dari mereka daripada bintang-bintang yg paling jauh –namun mereka sudah melakukannya untuk diri mereka sendiri.

Masih diceritakan lagi bahwa pada hari yg sama orang gila itu nekat masuk kedalam berbagai gereja & disana menyanyikan lagu ‘Requiem aeternam deo (istirahat kekal bagi Tuhan). Setelah keluar & diminta pertanggungjawaban, dia hanya selalu menangkis & berkata, “Apalagi gereja-gereja ini kalau bukan makam-makam & nisan-nisan bagi Tuhan ?”

Inilah kisah panjang bagaimana Nietzsche harus memaklumkan kematian Tuhan pada khakayak yg masih menggenggam keyakinan mereka akan Tuhan. Tepatlah jika Nietzsche memberi judul aforisme-nya dengan “Orang Gila”. Kegilaan ini tak hanya terasa dari kontras antara sikap Nietzsche dengan khalayak, juga tampak dalam kontras antara sikap baru Nietzsche sang pembunuh Tuhan & sikap lama Nietzsche sang calon pendeta yg sangat religius. Nietzsche, orang yg membunuh Tuhan ini adalah orang yg pada masa remajanya pernah berlutut penuh khidmat di depan altar untuk menerima sakramen-sakramen dari gereja.

(Dikutip dari pemikiran nihilisme Nietzsche, seorang filsuf Jerman yg hidup pada penghujung abad ke-19)

Iklan
By borneOrigin Posted in FIKSI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s