PUASA BELUM MENJADIKAN BERHEMAT.


Subhanallah, yang telah menciptakan al qur’an sebagai petunjuk bagi yang berfikir.

Umat islam telah berada di bulan ramadhan, dimana tiap pemeluk islam diwajibkan melaksanakan ibadah puasa sesuai firman Allah : “hai orang-orang yang beriman ! Diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu sekalian menjadi orang yang takwa”.

Seperti pada ibadah lainnya, puasa (shiam) tak sekedar ritual keagamaan belaka, tapi mengandung suatu pelajaran bagi yang mengerjakannya. Menjadikan takwa, tentu bukan hal yang mudah bila seseorang ingin mencapai derajat takwa tersebut.
Puasa dikatakan Rasul Allah sebagai sebuah perang yang lebih dahsyat daripada beberapa peperangan umat islam melawan kaum kafir ; perang melawan hawa nafsu.

Namun tampaknya perang melawan hawa nafsu ini kebanyakan cuma dapat dilakukan selama jam-jam berpuasa. Pada ketika berbuka puasa dan sesudahnya, justru balas dendam sehabis menahan segala hawa nafsu.
Tak dapat dipungkiri, bulan puasa bagi kebanyakan umat islam dari strata menengah ke atas merupakan bulan dimana budget jadi meningkat daripada bulan lainnya.
Pada bulan-bulan lain hidungan makanan dan minuman seadanya, di bulan puasa justru selalu menghidangkan yang serba beda dan ekstra. Tak jarang acara berbuka puasa dilanjutkan shalat tarawih berjamaah yang kemudian mengundang seorang penceramah kondang dengan mengambil tempat di hotel berbintang.

Bulan ramadhan lebih mengena bagi umat yang berada di level menengah ke bawah. Bagi mereka yang memang hidup dalam kemiskinan, bulan puasa berarti bulan untuk lebih berhemat. Mereka ini memang sudah terbiasa setiap hari menahan dan merasakan lapar.
Alih-alih untuk melakukan penghematan dengan menahan hawa nafsu, ternyata malah sebaliknya, pemborosan. Jadi pelaksana puasa kebanyakan baru pada tahaf menahan nafsu terkait makan, minum, seks, tak bicara hal-hal buruk, namun belum kepada keuntungan materi yakni menghemat pengeluaran.

Iklan