KEDUDUKAN NEGARA DALAM ISLAM. (Bagian Kesatu)


1. Prawacana.
Sebagian orang berpendapat bahwa syariat Islam merupakan seruan keagamaan yang mementingkan akhlak dan pengaturan hubungan manusia dengan Tuhannya, serta tidak ada perhatian sama sekali – selain dari hal-hal tadi – terhadap urusan kehidupan, termasuk urusan negara dan kekuasaan. Ini merupakan pendapat yang ditolak dan dikesampingkan oleh Syariat seperti jelas dalam bagian-bagian berikut.

2. Syariat dan Negara.
Salah satu dari karakteristik syariat Islam adalah cakupannya. Tidak ada sesuatupun dalam kehidupan yang tidak ada hukumnya dalam syariat. Oleh karena itu, dalam teks-teksnya kita dapati hukum-hukum ibadat, akhlak, akidah dan muamalat dalam maknanya yang luas, yang mencakup pengaturan hubungan-hubungan perseorangan dengan sesamanya, baik secara individual maupun sosial. Maha Benar Allah yang berfirman dalam surat Al-An’am ayat 38 : “Tidak ada sesuatupun yang terlepas dalam Al-Kitab.”

Selama syariat tetap dengan cakupan ini, maka sejak dini kita temukan dalam huku-hukum dan kaidah-kaidahnya, segala sesuatu yang berhubungan dengan negara dan pengaturan kekuasaan, semisal prinsip musyawarah, tanggung jawab penguasa, kewajiban patuh kepada mereka dalam kebaikan, hukum-hukum peperangan, perdamaian dan perjanjian serta hukum-hukum lainnya yang berhubungan dengan masalah kenegaraan. Dalam Sunnah Nabi, kata-kata “amir”, “imam” dan ” sulthan” banyak diulang. Kata-kata ini bermakna orang-orang yang memiliki kekuasaan, yaitu pemerintah. Dan pemerintah merupakan salah satu aspek dari masalah kenegaraan. Teks-teks tersebut membutuhkan pelaksanaan, karena wahyu tidak turun melalui teks-teks itu hanya untuk dibaca kemudian ditinggalkan, tetapi untuk dibaca kemudian dilaksanakan. Dan pelaksanaannya adalah menyelenggarakan negara sesuai dengan pemahaman-pemahaman yang dibawa syariat.

Dalam syariat Islam terdapat berbagai peraturan, seperti peraturan hukuman, kewajiban mengatur manusia dengan apa yang diturunkan Allah, jihad di jalan Allah dan sebagainya. Lazimnya, peraturan-peraturan ini dilaksanakan oleh negara, karena ia memiliki kekuasaan atas individu dan tidak dilaksankan oleh individu sendiri. Dalam makna ini, Ibnu Taimiyah berkata : “Sesungguhnya, mengatur urusan manusia merupakan kewajiban agama yang paling besar, bahkan agama tidak akan tegak tanpa hal itu. Karena Allah telah mewajibkan untuk menyuruh berbuat baik, mencegah kemunkaran dan menolong orang yang teraniaya. Begitu juga jihad, keadilan dan pelaksanaan hukuman-hukuman yang kesemuanya diwajibkan Allah, tidak dapat terlaksana tanpa kekuatan atau pemerintahan. Jadi, menyelenggarakan negara merupakan hal penting dalam pelaksanaan hukum Syariat.” (Al-Siyasah Al-Syar’iyyah)

3. Merealisasikan Ibadah kepada Allah.
Allah telah menciptakan manusia agar beribadah kepadaNya. “Tidaklah aku jadikan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu (Adz-Dzariyat ayat 56)

“Ibadah” merupakan kata benda yang mencakup semua perkataan dan perbuatan, yang tampak maupun yang tidak, yang disenangi Allah. Merealisasikan makna ibadah dengan arti luas ini menuntut manusia agar menjadikan kehidupan dan semua perkataan, perbuatan, tingkah laku dan hubungannya dengan manusia lain sesuai dengan rancangan-rancangan dan kerangka-kerangka yang telah ditetapkan Syariat Islam.

Manusia tidaklah mampu membentuk hidupnya dengan cara itu, kecuali jika masyarakat tempat hidupnya diatur dengan cara memudahkan pembentukan tersebut, karena manusia merupakan fenomena sosial yang sangat terpengaruh oleh masyarakat dimana ia hidup. Akibat pengaruh ini akan menjurus ke arah kebaikan dan hidayah, atau kepada keburukan dan kesesatan. Pendapat ini diperkuat oleh Hadits Shahih : “Tiap orang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (penyembah api). Seperti binatang menurunkan binatang secara utuh, apakah kalian merasa binatang tersebut cacat hidungnya, sampai kalian menjadikannya cacat.” (Al-Muntakab min Al-Sunnah)

Orang tua, dalam hubungannya dengan anak kecil, merupakan masyarakat yang terkecil. Jika keduanya sesat, maka mereka akan mendorong anak kepada kesesatan dan mencampakkan dari fitrah suci yang telah diciptakan Allah. Jika keduanya saleh, mereka akan membiarkan anak dalam fitrahnya dan menumbuhkannya dalam kebaikan, sebagaimana ditunjukkan Al-Qur’an bahwa masyarakat yang rusak akan menghalangi pelaksanaan apa yang diperintahkan Islam, sehingga seorang Muslim tidak dapat hidup dalam masyarakat tersebut sesuai dengan apa yang diinginkan Islam. Dan oleh karena itu wajib meninggalkannya dan pindah. Allah berfirman :”Sesungguhnya orang yang dimatikan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, malaikat bertanya (kepada mereka) : dalam keadaan bagaimanakah kalian ? Mereka menjawab : adalah kami orang-orang yang tertindas di tanah (Mekah). Para malaikat berkata : bukankah bumi Allah itu luas sehingga kalian dapat berhijrah di atasnya. Orang-orang itu tempatnya jahanam, dan jahanam tempat kembali yang paling buruk.” (An-Nisa ayat 97)

Dalam sebuah tafsirnya Ibnu Katsir berkata : “Ayat yang umum itu diturunkan bagi setiap orang yang tinggal di lingkungan orang-orang musyrik – padahal dia mampu berhijrah – dan dia tidak mungkin melaksanakan agamanya. Maka dia dzalim kepada dirinya dan mengerjakan haram menurut ijma (ulama).

Manusia tidak mungkin hidup sesuai dengan ajaran Islam dan mengatur hubungan-hubungannya dengan orang lain sesuai dengan kaidah syariat, kecuali…..

Iklan
By borneOrigin Posted in NEWS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s